
Alvin pulang ke rumah Alice dengan membawa senyum puas di bi birnya. Baru kali ini dia merasakan kelegaan yang luar biasa. Alvin turun dari motornya dengan membawa dua plastik berukuran sedang, bisa di tebak jika itu berupa makanan ringan dan minuman kaleng.
''Wih, mantab! Gimana rasanya memberi penekanan pada orang munafik itu. Vin?'' seru Abi saat Melihat sosok Alvin telah kembali ke rumah Alice. Ketiga sahabat Alvin menyambut kehadiran Alvin di depan pintu, mereka benar-benar terlihat antusias sekali saat ini.
''Lega banget gue, sumpah'' balas Alvin apa adanya.
"Ngakak banget pas liat mukanya tadi, apalagi asistennya itu. Dia mungkin heran kenapa Tuannya ngamuk-ngamuk setelah di tinggalkan sama Alvin'' sela Aiden dengan kekehannya.
''Setuju. Kenapa gak dari dulu aja sih lo berontak Vin?'' sahut Atala.
"Gue capenya sekarang, gimana dong?'' Celetuk Alvin sembari menyerahkan salah satu plastik yang dia bawa tadi.
''Ck! Kira'in gue lo kagak punya rasa cape'' ucap Atala kembali.
''Lo kira Alvin apaan, kutu?'' sentak Abi yang merebut bingkisan tadi dari tangan Atala.
''Lo tuh kutu, tukang makan tapi gak gemuk-gemuk'' sungut Atala yang mampu mengundang tawa bagi Aiden.
''Mampus lo, monyettt'' sambar Aiden pada Abi.
''Alice di mana?'' sela Alvin yang tidak melihat pemilik rumah sedari dia datang.
''Di atas, dia dari tadi tidur kayaknya. Jadi gak tau kalo lo pergi'' terang Abi yang tidak melihat pergerakan Alice saat mereka ada di rumahnya.
''Gue ke atas dulu'' Alvin segera berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar Alice. Dia harus memastikan sendiri keadaan gadisnya baik-baik saja atau tidak selama dia tinggalkan tadi.
''Woyy, Vin. Kita pamit balik lah, udah mau malem juga'' pekik Aiden sebelum Alvin pergi ke kamar Alice.
''Ok. Thank's udah jagain Alice'' balas Alvin mengangkat satu tangannya ke udara.
''Santai aja kali, kita balik. Sampai ketemu besok'' sahut Abi
''Ok''
Alvin melihat dari atas kepergian para sahabatnya, sebelum akhirnya deru motor mereka terdengar, baru lah Alvin masuk ke dalam kamar Alice.
Cklek ….
''Sayang!'' seru Alvin pelan. Tidak ada balasan dari pemilik kamar bernuansa biru muda itu, kemana Alice saat ini?
''Alice, lo di mana?'' teriak Alvin begitu cemas. Alvin memeriksa selimut dan ruang ganti dengan cepat dan sedikit panik.
''Aku di kamar mandi Alvin''
Terdengar balasan dari arah kamar mandi, Alvin menghela napas lega saat bisa mendengar suara kekasihnya. Lalu dia tertawa sinis pada dirinya sendiri, merasa konyol karna sesuatu yang belum pasti.
Saking khawatir dan sayang nya pada kekasihnya. Alvin sampai tidak bisa berpikir jernih dan mengontrol emosinya.
''Lo mandi?''
__ADS_1
''Iya, sebentar lagi selesai kok''
''Jangan lama-lama, gue kangen''
Alvin duduk di hamparan empuk milik Alice sambil bermain gawai, terlihat di layar ponselnya ada sebuah notif masuk. Segera Alvin buka guna mengetahui isi dari pesan tersebut.
''Al. Besok kita berangkat dari rumah gue, kalo bisa malam ini kalian nginep di sini.''
''Ok Bang''
Ternyata kakaknya yang mengirimi dia pesan. Tak lama terdengar pintu kamar mandi di buka. Alice keluar dengan pakaian yang sudah lengkap dan handuk di atas kepala.
''Kamu dari mana tadi Al?'' tanya Alice saat dirinya duduk di hadapan Alvin.
"Suatu tempat'' balas Alvin seperti biasanya. Alice menghela napas lelah, sudah pasti jawabannya seperti itu bukan? Kenapa harus di tanya lagi, pikirnya.
''Siap-siap gih'' titah Alvin
"Siap-siap buat apa?'' sahut Alice
"Malam ini kita nginep di rumah kak Naomi. Kan besok gue ada misi sama Bang Nanda'' terang Nanda
''Oh. Tunggu, aku mau siapin baju ganti dulu'' Alice bergerak guna mengambil ransel di lemarinya.
''Buat apa Lis?''
''Yah buat ganti dong, buat apa lagi coba?'' balas Alice yang sudah memilih baju di lemarinya. Alvin bergerak mendekap tubuh Alice dari arah belakang, menghirup rakus aroma sabun yang menempel di tubuh Alice.
''Emang iya. Perasaan gak ada deh, kalo baju kamu baru banyak di sana''
''Iya, pake baju gue aja. Gue suka liatnya'' bisik Alvin sengaja mempermainkan gejolak tubuh Alice.
''I-iya. Al, jangan kayak gini. Geli!''
''Geli tapi nagih kan?'' goda Alvin
''Enggak!'' Alice menggeleng cepat
''Terus yang gak bikin geli sama bikin nagih, apa dong?'' tanya Alvin mulai kumat lagi jahilnya.
''Aku, gak tau! Udah Vin, lepasin. Aku mau makan laper'' sentak Alice sembari menahan gejolaknya.
''Gue juga laper'' celetuk Alvin.
''Ya udah, ayok makan bareng'' ajak Alice.
''Lo mau makan bareng sama gue?'' tanya Alvin, entah apa yang tengah dia rencanakan saat ini.
"Kok tanya gitu? Biasanya kan juga kita makan bareng'' balas Alice tanpa curiga sedikit pun.
__ADS_1
''Kapan! Lo selalu nolak kok''
''Jangan aneh-aneh deh Vin, kapan coba aku nolak. Ayo sekarang kita makan bareng'' bujuk Alice
''Ok. Ayo'' Alvin tersenyum tengil
''Aaaaaa. A-alvin apa yang kamu lakukan?'' jerit Alice saat tubuhnya di bopong oleh Alvin, lalu di kungkung di atas kasur. Bahkan tangan Alvin sudah bergerak menyingkab kaos yang Alice kenakan
''Kan tadi lo yang minta makan bareng'' ucap Alvin tanpa dosa. Alice sekarang tahu apa yang di maksud Alvin dengan makan bareng. Hah! Dasar, kekasihnya ini pasti tidak jauh-jauh dari hal berbau mesum.
''ALVINNNNN!''
...****************...
Tok
Tok
Tok
''Masuk saja Anton''
Cklek …
''Maaf Tuan Galih, saya mengganggu waktu anda'' sapa Antonio ramah dan penuh hormat.
''Ada apa Anton?'' tanya Galih tanpa melihat kearah Antonio
''Ini Tuan. Akhirnya kita bisa mengetahui siapa pemilik perusahaan terbesar itu'' ucap Antonio pada Tuannya Galih.
"Really?'' Galih berbalik arah menatap asistennya itu dengan tatapan pemuh penasaran.
''Ya, Tuan. Coba anda lihat ini''
Antonio menyodorkan Tab nya pada Galih, guna melihat data profil tentang pemilik perusahaan terbesar di indonesia.
''Kerja bagus Anton, kamu memang selalu bisa di andalkan'' Galih tersenyum lebar sambil menepuk pelan pumdak Antonio.
''Terima kasih pujiannya Tuan''
''Hubungi dia secepatnya Anton. Buat dia supaya mau bergabung dengan kubu kita. Apapun caranya, mengerti!'' pinta Galih dengan senyum yang mengembang.
''Baik Tuan, akan segera saya lakukan''
''Hm. Bagus''
''Permisi Tuan'' pamit Antonio yang di jawab anggukan kepala oleh Galih.
Antonio meninggalkan Galih di dalam ruangannya, setelah kepergian asistennya. Barulah Galih tertawa puas.
__ADS_1
''Alvin. Kau tidak akan pernah bisa bersaing dengan ku. Apalagi melawan seorang Galih Santomo, kau hanyalah anak asuh yang akan ku lenyapkan sebentar lagi'' desisnya penuh amarah.