
"Jadi di sini, siapa yang memulai pertikaian lebih dahulu? Mohon beritahu saya'' Ucap sang manager mall itu dengan tegas, kepada lima orang yang berada di ruangan nya.
''DIA'' Jawab Sinta dan wanita lawan gelud nya kompak. Mereka saling menunjuk wajah dari lawan nya masing-masing.
''Enak aja gue. Loe duluan kali yang mulai'' Sungut Sinta
''Loe yang nyolot tau gak'' Sentak wanita itu.
''Stop!'' Sang menager merasa pusing dengan para wanita tersebut. Pria yang tidak memiliki rambut di kepala nya itu, mengurut kening nya tiba-tiba.
''Maaf sebelum nya, saya mau tanya siapa nama dari nona-nona ini'' Ujar sang manager ramah, yang mana bernama Jamal itu.
''Sinta'' Ujar Sinta ketus
''Naomi'' Timpal Naomi
''Bianca'' Sahut Bianca.
Pak Jamal mengangguk mengerti..'' Kalo mas nya?'' Lanjut nya pada Gio.
''Saya Gio'' Ucap Gio
''Baik lah, Rima sekarang kamu boleh kembali bekerja'' Titah Jamal pada karyawan nya yang ikut di panggil sebagai saksi mata. Namun itu tidak berguna sama sekali, karna Sinta maupun Bianca tidak ada yang mau mengalah ataupun mengaku salah.
''Baik pak'' Rima segera keluar dari ruangan manager.
''Untuk mengetahui siapa yang bersalah dan yang memulai perkelahian, kita lihat CCTV yang terdapat di sana saja. Setuju?'' Jamal memutuskan untuk memutar kembali rekaman CCTV yang ada di sana.
Sinta mendadak tegang dan cemas, karna jelas dia yang lebih dahulu menjambak rambut Bianca tadi, itu juga karna mulut nya Bianca yang tidak bisa di jaga bukan?
''Setuju pak'' Sahut Bianca senang.
''Mampus loe cewek gila'' Batin Bianca bersorak gembira.
''Sial'' Desis batin Sinta.
Naomi mengusap pundak sahabat nya lembut, itu ditujukan untuk memberi ketenangan pada Sinta.
Sedangkan Gio sudah berdehem, dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, entah apa tujuan nya itu.
Jamal pun segera membuka laptop nya, guna mengetahui kronologi dari permasalahan tersebut, semua orang berkumpul dan melihat kesatu titik, raut wajah tegang serta penasaran jelas terlihat di wajah mereka, kecuali Gio, dia sangat santai saat ini.
...****************...
Di sisi lain. Alvin dan ketiga sahabat nya tengah berkumpul di taman sekolah, sedangkan Alice tengah menuntaskan keinginan nya di dalam toilet. Alhasil saat ini Alice tengah terlepas dari pantauan Alvin.
''Vin. Kakak ipar loe lagi keluar yah'' Celetuk Atala yang tengah pokus pada layar Tab nya.
''Emang iya?'' Sahut Alvin
''Nih, Bang Gio lagi jadi bodyguard dadakan buat kak Naomi hari ini'' Beritahu Atala, sembari menunjukan layar Tab nya kehadapan Alvin.
''Aman kan?'' Tanya Alvin memastikan
''Am~''
''****! Baru juga gue mau bilang aman. masalah udah datang aja'' Desis Atala kesal.
__ADS_1
''Masalah?'' Sahut Alvin penasaran.
''Iya, Al. Cuma masih bisa gue atasi kok, tenang aja'' Balas Atala ringan, Alvin ikut melihat pekerjaan Atala, entah apa yang Atala lakukan pada deretan angka dan huruf kecil yang tertata di layar Tab nya, yang jelas itu sangat berguna bagi orang yang mengerti.
Jika Alvin dan Atala tengah pokus pada layar Tab, berbeda dengan Abi dan Aiden yang gagal pokus pada para siswi di sana.
''Den, loe gak ada niatan buat jadiin salah satu dari mereka buat jadi pacar nya elo?'' Ucap Abi yang tengah melihat kearah empat siswi yang duduk tidak jauh dari posisi nya saat ini.
''Sejauh ini gue belum nemu yang pas sih di sini'' Jawab Aiden apa ada nya, karna selama dia bersekolah disini. Dia belum menemukan pemilik hati nya begitu pun dengan Atala.
Mungkin mereka berdua tidak terlalu memikirkan hal seperti itu dulu, mereka terlalu cuek dan masa bodo pada lawan jenis nya.
''Jangan bilang loe anu yah Den'' Tuduh Abi dengan pandangan mata menyipit.
''Maksud loe apaan tokek? Anu-anu, ngomong yang jelas'' Semprot Atala kesal.
''Ck, itu loh yang trend saat ini. Kalo loe gak tertarik sama lawan jenis, tetapi loe lebih tertarik pada sesama jenis'' Terang Abi lengkap dengan tuduhan nya.
Plak .....
''*njing. Sakit woy'' Ringis Abi saat kepala bagian belakang nya berhasil di pukul kuat-kuat oleh Aiden.
''Mau lagi gak? Biar gue bikin geger tuh otak sekalian, mau?'' Sungut Aiden marah.
''Gak!'' Balas Abi sembari terus mengusap kepala nya, Aiden benar-benar menjitak kepala Abi dengan kuat, mungkin karna kesal dengan ucapan nya Abi yang asal-asalan itu.
''Lagian punya bacot murah amat, mulut apa obralan tuh'' Dengus Abi
''Loakan!'' Sahut Abi ringan..'' Yah kali aja, gue cuma mau mastiin doang gak salah kan, lagian cewek yang kayak gimana sih yang loe cari? Bahenol, montok, mulus, tinggi, tet*k nya gede. Semua nya ada di cewek itu tuh'' Cerocos Abi sambil menunjuk kearah salah satu anak gadis yang ada di sana.
Gadis itu menyadari arah tunjuk Abi, dengan genit dia mengedipkan sebelah mata nya kearah Abi dan Aiden.
''Kenapa tuh cewek'' Ujar Aiden polos
''Kelilipan anak gajah katanya'' Jawab Aiden sekena nya.
*Puk..
Puk*...
Botol kosong mendarat sempurna di kepala Abi dan Aiden, mereka berdua melihat kearah Atala dan Alvin.
''Napa sih loe?'' Dengus Aiden ketus
''Loe berdua yang kenapa? Bukan nya bantuin malah ngerumpi aja kalian'' Balas Atala tak kalah ketus
''Ck, apa yang kudu kita bantu coba, sedangkan nih pala pusing kalo liat pekerjaan loe Atala'' Terang Aiden
''Nah betul tuh, mending kita liat yang semok noh'' Timpal Abi dengan senyum lebar nya.
''****** kuda Nil noh yang semok'' Ujar Atala jengah.
''Kak, maaf menggangu waktunya. Yang nama nya kak Alvin yang mana yah'' Seorang siswi tepat nya adik kelas bagi mereka, datang menghampiri Alvin Cs dengan napas sedikit ngos-ngosan.
Keempat remaja tampan itu mengerutkan kening nya heran, mereka saling tatap dan bertanya lewat gerakan tubuh.
''Gue'' Sahut Alvin tegas.
__ADS_1
''Kakak kenal sama yang nama nya Aliska? anak kelas dua belas IPA A''
''Iya, gue pacar nya dia. kenapa?'' Ucap Alvin penasaran, dan mulai merasakan ada yang tidak beres saat ini.
''Dia lagi kena masalah kak, buruan ikut aku'' Ungkap gadis tersebut dengan raut panik, Alvin tersentak kaget mendengar penuturan adik kelas nya, begitu juga Atala, Abi dan Aiden.
''Sial! Ayo'' Desis Alvin dengan kilatan mata yang tajam.
Mereka langsung mengikuti langkah kaki gadis kecil itu, Alvin sampai mendahului gadis itu saking panik dan cemas terhadap keadaan gadis nya sekarang.
Siapa yang berani berbuat masalah pada milik Alvin? Apakah mereka ingin menyerahkan nyawa secara cepat pada Alvin?
...****************...
Kembali pada posisi Naomi saat ini, mereka sudah bersiap menyaksikan tayangan ulang yang terdapat pada CCTV mall.
Klik .....
Tombol play pun di tekan oleh Jamal, dan menampilkan adegan yang telah dilalui oleh ketiga wanita cantik itu.
Disana terlihat Bianca dan Sinta adu mulut dan saling menunjuk wajah satu sama lain, lalu Naomi mencoba melerai mereka, namun sama sekali tidak di gubris oleh kedua nya.
Hingga Naomi meminta bantuan pada Rima sang karyawan yang bekerja di sana, untuk melerai kedua nya, sama dengan apa yang diterima oleh Naomi, ucapan Rima juga tidak di dengar sama sekali oleh mereka.
Sampailah di mana Bianca menjambak rambut Sinta, hingga Sinta mengaduh kesakitan dan berusaha melepaskan diri, namun Bianca tidak mau melepaskan jambakan nya terhadap Sinta, hingga Sinta balik membalas jambakan Bianca, dan terjadilah adu Jambak-menjambak saat itu juga.
Mata Sinta dan Bianca hampir terlepas dari tempat nya, kenapa bisa keadaan berbalik seperti itu. Jelas-jelas semua orang tau bahwa Sinta lah yang memulai lebih dulu kekerasan tersebut.
Tetapi ini? Wah sangat di luar dugaan sekali, bahkan Naomi di buat bingung dengan situasi saat ini. Sedangkan Gio sudah tersenyum puas, merasa salut dengan kerja teman nya.
''Apa-apaan ini. Saya yang jadi korban kekerasan cewek gila ini pak, bukan sebalik nya. Dan loe ngaku sekarang gak'' Sentak Bianca melayang protes karna tidak terima. Sinta tersenyum menang pada Bianca, meski jujur dirinya pun bingung dengan situasi saat ini. Tetapi biarlah, mungkin ini keberuntungan untuk nya dan Naomi.
''Di sini sudah jelas terlihat nona Bianca, bahwa anda yang bersalah disini, dan saya minta sekarang anda minta maaf sama mereka berdua, juga serahkan gaun yang di pilih nona Naomi'' Balas Jamal bijak
''Gak bisa gitu dong pak, dan saya gak sudi harus minta maaf sama mereka, orang saya enggak salah kok'' Protes Bianca
''Dasar batu'' Gumam Sinta meremehkan
''Diam loe j*L*ng, b*cth si*lan'' Sentak Bianca murka.
''Sudah nona Bianca hentikan, lakukan apa yang saya minta atau anda akan saya laporkan kepihak berwajib'' Ancam Jamal telak.
''Sial! Gue gak terima di permalukan seperti ini, tapi bukti juga sudah sangat jelas, gak papa deh gue ngalah sekarang, dari pada berurusan sama polisi, kan gak lucu'' Batin Bianca kesal.
Mau tidak mau Bianca meminta maaf sama Naomi dan Sinta, meski hatinya tidak ikhlas sama sekali.
''Maaf'' Ungkap Bianca malas
''Iya'' Balas Naomi ramah
''Hm'' Timpal Sinta ketus, dan enggan menerima uluran tangan Bianca.
''Sinta!'' Bisik Naomi
''Udah ah mi, udah kelar juga kan pak. Kalo begitu saya permisi dulu'' Ucap Sinta yang sudah bergerak pergi dari ruangan Jamal, sebelum pergi dia sengaja menyenggol bahu Bianca.
''Sorry'' Bisik Sinta dengan senyum mengejek.
__ADS_1
''B*cth dasar l*cur gila'' Sentak Bianca marah, Gio hanya tersenyum pongah kearah Bianca, dia memungut paper bag milik Naomi dan Sinta, dan segera pergi dari sana.
''Ada hubungan apa Gio sama kedua wanita itu? Kenapa dia terlihat begitu menghargai dan terkesan melindungi cewek yang sedang hamil itu yah'' Batin Bianca bertanya-tanya, dan penasaran terhadap siapa wanita hamil itu.