Kekasih Ku (Psikopat`s)

Kekasih Ku (Psikopat`s)
Hal penting


__ADS_3

''Kamu kenapa bolos kak?'' tanya seorang gadis mungil yang kini ada di hadapan Aiden sembari berkacak pinggang.


''Tadi itu ketidak sengajaan Dea. Gue khilaf, beneran deh'' sahut Aiden berkilah


''Banyak alasan kamu kak'' cetus Dea


''Enggak, beneran. Tadi tuh tiba-tiba setan di tubuh gue yang warna merah menang, jadi dia ngajak gue buat bolos'' celoteh Aiden secara asal.


''Cih! Alasan macam apa itu?'' decih Dea yang kini sudah membuka tutup botol air mineral untuk di berikan kepada Aiden.


''Nih minum dulu'' titah Dea. Meski dirinya tengah kesal dengan pria tampan di hadapan nya ini, tetapi rasa pedulinya jauh lebih besar.


''Makasih sayang!'' sahut Aiden dengan cengiran nya.


''Pokoknya kakak harus aku hukum'' ucap Dea bengis.


''Kan tadi udah sayang. Ini aja badan masih keringatan gini'' keluh Aiden 


''Itukan dari guru, dari aku nya belum'' ucap Dea 


''Iya, apa?'' tanya Aiden seolah fasrah.


''Nanti aku kasih tau kamu. Sekarang kakak masuk gih, awas jangan bolos lagi'' titah Dea sembari mengusap rambut tebal milik kekasihnya yang sedikit basah karna keringat.


''Iya'' balas Aiden patuh. Mereka segera pergi dari ruang istirahat menuju ke dalam kelas masing-masing.


...****************...


Beralih tempat dan pasangan. Kini Alvin dan Alice tengah bersiap menunggu kehadiran guru yang akan mengajar di jam kedua mereka.


Sedangkan Abi dan Atala entah kemana saat ini, mereka hilang bak di telan bumi. Namun, tiba-tiba alat komunikasi Alvin berdengung tanda ada seseorang yang mengaktifkan nya atau menghubunginya.


Alis Alvin sedikit bertemu mendengarnya, lalu segera memberi kode lewat deheman.


''Ekhem'' pria tampan itu dengan santainya menyandarkan punggung ke dinding kelas sambil melihat wajah cantik kekasihnya.


''Alvin loe masih di sekolah?'' suara seorang laki-laki di seberang alat komunikasi berukuran kecil yang terselip di balik daun telinga Alvin terdengar.


''Iya'' balas Alvin. Yang mana Alice langsung melihat kearah kekasihnya saat itu juga.


''Kenapa Vin?'' tanya Alice pelan. Alvin menggeleng sambil menunjukan alat kecil di balik telinganya, dan Alice langsung mengerti.


''Kalo bisa loe balik buru, kasih alasan apa aja ke guru supaya di kasih izin pulang cepet. Ada berita penting yang harus segera kita urus, ini tentang Galih'' ucap Agatha di seberang alat komunikasi tersebut.


''Atala udah di beritahu?'' tanya Alvin santai tanpa ada rasa takut sama sekali.


''Belum. Tuh anak tumben sulit di hubungi. Eh, emang nya kalian lagi gak kumpul bareng?'' 

__ADS_1


''Gue gak bakal tanya kek gitu kali bang'' sahut Alvin malas.


''Udah buru balik, gue sama Nanda tunggu di markas'' 


''Hm''


''Alice!'' ucap Alvin sembari terus mendekat


''Iya Vin. Kenapa?'' tanya Alice.


"Mau ikut gue pulang sekarang atau lanjut sekolah sampe bubar?''


"Yah, mau lanjut. Kenapa tanya kayak gitu Vin?''


''Gue ada urusan penting dan sekarang lagi di tunggu sama bang Nanda di markas. Loe yakin gak bakal kenapa-napa jauh dari gue?'' terang Alvin yang berbicara sangat dekat dengan wajah Alice.


''Ya enggak lah Vin, dulu juga aku sebelum ketemu kamu selalu kemana-mana sendiri'' balas Alice dengan kekehannya. Dia merasa lucu dengan raut wajah Alvin yang serius seperti saat ini.


''Itu yang jadi masalahnya. Kan sekarang posisi loe berbeda dari yang dulu, loe lupa kalo loe calon istri gue'' imbuh Alvin ringan.


Alice segera memalingkan wajahnya ke samping, bi birnya berkedut tidak kuasa menahan senyum dan malu, bahkan rona di wajahnya sudah muncul saat ini.


''Ck! Bukan waktunya buat baper Alice. Gue khawatir ninggalin loe sendiri di sini tanpa ada salah satu temen gue yang mantau'' ucap Alvin gemas sembari mengembalikan posisi wajah Alice seperti semula lagi.


''Eh-. Aku gak papa kok Vin. Kamu kalo ada urusan dan harus pergi, silahkan saja. Kan aku punya ini dari kamu'' balas Alice sembari memperlihatkan kalung pemberian dari Alvin.


''Ya sudah. Gue pergi dulu yah, hubungi gue kalo loe dalam masalah, hm'' perintah Alvin yang di balas anggukan kepala oleh Alice.


Cup …


''Awas jangan kangen. Baik-baik yah sayang'' Alvin sempat-sempatnya mencuri kecupan di pipi Alice. Tidak sadar kah dia, bahwa saat ini mereka tengah ada di dalam kelas.


Alice tidak menjawab. Dia malah menelusupkan wajahnya di balik tas saking malunya.


''Cih! Gak tau malu'' gumam Yuri yang menatap sebal pada Alice dan Alvin.


''Gak lama lagi loe bakal terima pelajaran dari gue'' Yuri bersorak dalam hati.


Alvin berjalan cepat setelah berhasil meminta izin pada guru nya. Di sepanjang kalidor dia bertemu dengan ketiga sahabatnya yang berniat ingin masuk ke dalam kelas.


''Vin! Loe mau kemana?'' sapa Abi di tengah perjalanan nya.


''Ikut gue'' ucap Alvin tegas


''Lah, Tas kita masih di dalem. Kita juga belum minta izin sama guru, gue gak mau kena hukuman lagi gara-gara bolos maksimal'' celoteh Aiden sembari mengimbangi langkah kaki Alvin.


''Gue udah wakilin tadi, soal Tas biarin aja'' terang Alvin yang sudah berlari kecil menuju parkiran.

__ADS_1


''Tumben-tumbenan dia mau terangin'' celetuk Atala heran.


''Entar dulu, gue mau laporan sama calon bini dulu'' cegah Aiden yang tengah mengetik pesan untuk dia kirim pada Dea.


''Ribet amat, astaga. Eh- kok loe udah jadian aja sih sama si mungil? Kapan loe nyatain perasaan sama dia Den?'' ucap Atala menanyakan hal tersebut di waktu yang tidak tepat.


''Bacot mulu, ntar Alvin marah berabe. Ayo ikutin, curhat nya belakangan aja'' sahut Abi tegas. Dan mereka pun segera mengikuti alvin yang sudah lebih dulu pergi menggunakan motor sportnya.


...****************...


''Bagaimana?'' tanya seorang pria paruh baya yang masih terlihat bugar pada asistennya.


''selesai Tuan. Kita tinggal berangkat saja'' balas asisten nya.


''Bagus! Panggil Ares kesini Anton. Saya ingin berpamitan lagi dengan nya'' titah nya lagi.


''Baik Tuan'' Antonio segera melangkah pergi ke arah kamar Tuan mudanya.


Tok 


Tok


''Tuan muda. Apa anda di dalam'' tanya Antonio di balik daun pintu.


Cklek …


''Hm, ada apa om?'' Ares balik bertanya.


''Tuan Galih ingin bertemu dengan anda lagi'' terangnya 


''Huh! Ya sudah'' Ares berjalan malas kearah ruangan sang ayah. 


''Dadd!'' sapa Ares setelah membuka pintu.


''Son! Kemari Dady ingin peluk kamu sebelum pergi'' ucap Galih 


''Kenapa harus pergi segala sih Dadd? Ares gak bisa urus pekerjaan Dady sendiri di sini'' protes Ares.


''Ayolah Res. Ada hal penting yang harus Daddy selesaikan di indonesia. Janji gak lama, jangan merajuk seperti anak kecil Res'' ujar Galih yang tidak mengatakan kejujuran yang sebenarnya.


''Hal penting apa?'' 


''Pelelangan batu yang selama ini Daddy inginkan di gelar di indonesia. Makanya Daddy harus kesana, Boy'' Galih mengatakan salah satu tujuan nya.


''Iya, terserah Daddy saja. Asal langsung pulang jika pelelangan nya selesai. Ares gak mau di tinggal lama-lama, apalagi harus mengurus perusahaan'' 


''Ha ha. Baiklah'' ucap Galih yang memang mengetahui bagaimana putranya anti dengan yang namanya perusahaan atau bisnis. Ares hanya senang dengan dunia nya saja, seperti balapan dan penyelundupan barang haram.

__ADS_1


__ADS_2