
Tibalah waktu di mana Nanda akan mengikuti pelelangan yang di ikuti banyak kubu dunia bawah. Nanda tak gentar sedikitpun, meski harus berhadapan dengan mereka nantinya.
Agatha serta yang lainnya tengah menyusun strategi baru untuk berjaga-jaga, jikalau nanti ada yang tidak sesuai dengan rencana mereka.
Sedangkan Alvin dan Aiden, malam ini mereka menjadi tangan kanan Nanda sebagai Bos besar yang di nantikan kehadirannya. Namun Alvin tidak akan menampakan dirinya sebelum mendapat arahan dari Atala maupun Agatha.
Mereka tiba di sebuah gedung besar yang mewah dan khas. Banyak pengusaha besar lainnya yang datang memakai kendaraan bermerk, mereka tentu ingin terlihat mencolok di mata para musuh atau pesaingnya nanti.
Nanda turun dari mobil mewahnya, di ikuti oleh Aiden di sampingnya.
''Jarak 22 meter, ada mobil berwarna silver. Itu Galih dan asistennya, bersikaplah seolah menyukainya. Aiden''
Atala mulai berkomando pada Aiden.
''Hm'' Aiden berdehem sebagai jawabannya.
''Dengan Tuan Nanda.'' sapa Galih dengan tatapan berbinar.
''Iyah. Anda dengan-'' Nanda terlihat menelisik
''Ah! Kenalkan. Saya Galih, pemilik perusahaan otomotif di amerika'' ucap Galih sambil menyodorkan tangannya ke hadapan Nanda.
''Senang bisa bertemu dengan anda Tuan Galih'' balas Nanda dengan nada ramah dan senyum hangat.
"Saya lebih senang bertemu dengan anda Tuan Nanda. Ini suatu kehormatan yang luar biasa bagi saya''
''Jangan terlalu berlebihan Tuan, kita duduk saja biar rilexs'' usul Nanda yang di jawab anggukan cepat oleh Galih.
''Tentu!''
Aiden dan Antonio duduk bersebelahan di belakang para Tuannya, mereka sama-sama diam dan kaku saat ini. Jika Antonio sudah sangat terbiasa dengan sikap seperti itu, apa kabar dengan Aiden?
''Kaku banget kayak kanebo kering, mana nih pantatt gatel lagi pengen di garuk''
Aiden berusaha bersikap dingin dan arogan, sekuat tenaga dia tahan agar tidak mengumpat dalam gumaman.
Kembali ke posisi Nanda dan Galih.
''Saya pikir anda sudah Tua seperti saya, ternyata salah besar. Anda masih sangat muda sekali, tampan dan sukses di usia muda. Pasti banyak yang menginginkan anda''
''Sadar diri juga dia kalo dah Tua''
''Terima kasih, saya begitu tersanjung dengan pujian anda Tuan Galih. Anda juga masih terlihat segar bugar di usia anda kini''
''Ha ha ha ha. Bisa saja Tuan Nanda ini'' Galih tergelak mendengar pujian yang terlontar dari mulut Nanda.
''Gak ada yang lucu''
...----------------...
''Lapor Tuan. Orang yang anda cari memang masih hidup dan sangat terlindungi''
Suara dari balik alat kecil yang di gunakan Antonio berkomando.
''Tetap awasi dia dan tangkap selagi ada waktu yang tepat''
''Tapi, orang-orang yang berada di samping nya bukan orang sembarangan Tuan. Kita tidak cukup kuat untuk itu''
__ADS_1
''Tuan Galih akan mengatur semuanya, dia sedang berusaha malam ini''
''Baik Tuan''
Aiden mendengarkan apa yang tengah di ucapkan Antonio di balik alat komunikasinya. Bisa dia tebak jika sebentar lagi Atala akan bersuara.
''Aiden. Keberadaan Marco sudah terlacak oleh bawahan Galih, lo sama Alvin segera bersiap untuk adegan selanjutnya''
''Hm''
''Bos. Lo buruan tanya apa maunya si Galih, keberadaan Marco sudah terlihat titik terangnya. Pasti sebentar lagi mereka mengincar Marco''
''Caranya?''
"Ya, lo tanya baik-baik dong Bos. Masa harus gue kasih contoh dulu sih''
''Gue gak bisa baik-baik, tapi gue usahakan''
''Harus. Buruan tanya''
''Maaf Tuan Galih, saya dengar dari anak buah saya kemarin, bahwa anda menghubungi saya. Apa ada hal penting?'' ucap Nanda yang memulai aksinya.
''Iya, Tuan Nanda. Apa kita bisa bicara serius?'' balas Galih
''Tentu! Di mana?''
''Di ruang khusus saja, saya sudah menyiapkannya. Mari ikuti saya Tuan'' terang Galih yang sudah bergerak lebih dulu.
Nanda ikut berdiri dan melirik kearah Aiden, segera Aiden mengikuti langkah kaki Nanda. Begitupun dengan Antonio yang selalu mengawal Galih.
Sampailah mereka di dalam ruangan yang di bilang oleh Galih.
"Baik Tuan''
''Kau juga'' ucap Nanda pada Aiden
''Baik''
Aiden dan Anton lagi-lagi berdiri di luar dan saling berdampingan, sedangkan Nanda dan Galih sudah mulai membicarakan apa tujuan Galih pada Nanda.
''Begini Tuan Nanda. Maaf sebelumnya saya boleh sedikit bercerita? Biar nyambung'' tanya Galih dengan hormat
''Boleh, silahkan''
''Saya datang kesini bukan hanya untuk mengikuti pelelangan ini, tetapi ada misi lain yang jauh lebih penting buat saya. Saya tengah mencari keberadaan seseorang di sini''
''Siapa?'' tanya Nanda.
''Marco Delli. Beliau adalah musuh saya di amerika sana, saya sidah menyuruh anak kesayangan saya untuk membunuhnya, tetapi titik keberadaannya masih sangat terlihat. Dan hari ini, saya mendapat kabar dari bawahan saya bahwa dia sudah di temukan'' ujar Galih dengan meminum sedikit minumannya
Nanda manggut-manggut saja mendengar cerita dari Galih, seolah dirinya benar-benar penasaran.
''Lalu?''
''Saya membutuhkan bantuan anda untuk menangkapnya, sebab dia di lindungi oleh orang-orang penting dan berkuasa. Anda tahu sendiri saya di sini tidak punya kewenangan apa-apa'' pinta Galih
''Jadi, anda meminta saya untuk mengerahkan kekuasaan saya, guna menangkap orang itu'' ulang Nanda
__ADS_1
''Tepat!''
''Baik. Saya dengan senang hati akan membantu anda Tuan Galih.''
''Anda serius?'' pekik Galih dengan senyum bahagia
''Tentu, kapan kita mulai beraksi?'' tanya Nanda
''Besok. Besok kita akan langsung menangkapnya, jika anda tidak keberatan.''
''Tenang saja Tuan, saya senang bisa menbantu anda''
''Terima kasih banyak Tuan Nanda. Anda adalah dewa penolong saya. Sekali lagi terima kasih''
''Gue dewa kematian lo''
''Iya, sama-sama Tuan. Apa tidak ada yang lain lagi?'' ucap Nanda ingin tahu semuanya.
''Sebenarnya masih ada satu lagi, Tuan. Tapi, saya tidak mau melibatkan anda untuk yang satu ini''
''Why?'' desak Nanda
''Dia berbeda, dia sadis dan tak mengenal takut, justru orang-orang yang akan takut padanya''
''Anda meragukan saya?''
''Tentu tidak Tuan Nanda. Maaf jika anda tersinggung.''
''Siapa dia? Saya penasaran sekali''
''Dia, Anak asuh saya Tuan. Alvin Sagara'' ucap Galih dengan pasti.
''Alvin Sagara. Marga yang di segani pada waktunya.''
''Iya, anda benar Tuan''
''Bukankah malam ini dia juga hadir di sini?''
''Benarkah? Saya tidak tahu itu''
''Jika saya tidak salah, dia termasuk salah satu pewaris perusahaan ternama di indonesia. Itu sebabnya dia datang malam ini'' ujar Nanda dengan kekehan di dalam hatinya.
Apalagi mendengar suara tawa kecil dari Agatha dan Atala di balik alat kominikasinya.
''Kita lihat saja nanti, apa benar dia akan datang malam ini''
''Iya, kita lihat saja. Apa sudah selesai Tuan, saya harus menemui kerabat saya di Aula'' tutur Nanda sopan.
''Sudah Tuan. Silahkan jika anda ingin pergi. Sekali lagi saya sangat berterima kasih pada anda Tuan Nanda yang terhormat'' ucap Galih yang lagi-lagi memberi hormat pada Nanda sebagai rasa terima kasihnya. Nanda sampai geli sendiri melihatnya.
''Jangan berlebihan, saya membantu sebisa saya saja. Kalo begitu saya permisi Tuan Galih'' balas Nanda yang berdiri dan bergerak kearah pintu di ikuti oleh Galih dari arah belakang.
''Selamat malam Tuan Nanda''
''Selamat malam''
Nanda pergi di ikuti oleh Aiden, mereka berjalan layaknya seorang atasan dan bawahan.
__ADS_1
''Mantab Bang.'' bisik Aiden di sela langkahnya.
''Gue gitu loh'' balas Nanda tanpa ekspresi.