
Nanda dan Agatha saat ini tengah memantau pergerakan dari Alvin, mereka tidak mau kecolongan barang sedetik pun. Karna nyawa Alvin sangatlah berharga bagi mereka, oleh sebab itu kedua kakaknya terlihat serius dalam memantau posisinya sekarang.
Nanda tidak mau jika dirinya lengah memantau keadaan Alvin, dia takut Alvin akan tidak baik-baik saja disana. Mengingat posisi adiknya saat ini tengah dikelilingi oleh banyak musuh.
Dengan ditemani secangkir kopi dan sebungkus rokok bermerk, kini kedua orang itu masih terjaga, padahal waktu sudah menunjukan pukul 01 dini hari.
''Bos, kita ngeronda bareng atau mau gantian?'' ujar Agatha sembari menghisap kembali batang nikotin, itu dia lakukan guna mengusir rasa kantuk dan suntuknya.
"Loe ngantuk?'' Nanda balik bertanya, kala melihat Agatha menguap dengan mata yang sayu.
''Dikit!'' jawab Agatha singkat
''Udah sono loe tidur'' titah Nanda
''Terus, loe yang mau pantau posisi Alvin bos?'' selidik Agatha
''Ya jelas lah, otak loe udah gak konek gara-gara ngantuk atau gimana?'' balas Nanda ketus.
''Ya elah bos, maafin gue deh. Yasudah gue bobo ganteng dulu yah, selamat malam bos''ucap Agatha lengkap dengan gurauan nya. Dia mulai berjalan kearah sofa empuk yang ada didalam ruangan Nanda
''Terserah!'' sentak Nanda jengah.
Mata Nanda kembali pokus pada layar monitornya, dia melihat titik keberadaan Alvin masih aman sampai saat ini. Tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari orang-orang yang berada dibawah kendali seorang Galih Samtono.
Sedangkan disisi lain, Naomi terbangun dari tidurnya. Dia berniat turun kebawah guna mencari pengganjal perut, entah kenapa selama dia mengandung rasa laparnya terus saja meningkat, mungkin bawaan dari sicabang bayi.
Setelah Naomi sampai dibawah, matanya tidak sengaja melihat sosok perempuan yang tengah menempelkan telinganya pada daun pintu, atau tepatnya menguping sekaligus mengintip.
''Loh! Itu bukan nya Neli? Sedang apa dia disana, jam segini bukan nya tidur malah nguping disana. Kalo kak Nanda tau abis dia diamuk kakak'' gumam Naomi yang mengenali sosok tersebut.
Dengan perlahan Naomi menghampiri posisi Neli, dia sebisa mungkin tidak menimbulkan suara dari gerak kakinya.
Sedangkan diposisi Neli.. ''Tuan sama teman nya lagi pada ngapain sih didalem, kok sampai larut begini belum pada keluar'' bisiknya penasaran dengan kegiatan yang tengah dilakukan majikan tampan nya itu.
''Ekhem!'' dehem Naomi tepat dibelakangnya. Mata Neli melotot sempurna, kala aksinya diketahui oleh seseorang, dengan cepat dia menghadap kearah sumber suara tersebut.
__ADS_1
"Eh, Non Naomi! Kok Non ada disini?'' ucap Neli dengan senyum canggungnya. Dia berusaha memyembunyikan rasa gugup dan takutnya saat ini, meski itu hanya sia-sia saja.
''Saya yang harusnya tanya begitu sama kamu Neli, sedang apa kamu didepan pintu ruangan suami saya'' balas Naomi sedikit tegas, jujur Naomi merasa geram dengan kelakuan pembantu barunya ini. Neli terkesan ceroboh dan tidak sopan, seperti saat ini! Jam istirahat yang harusnya dia gunakan secara baik, malah diabaikan begitu saja.
''Em- itu Non! Neli lagi''
''Nguping?'' tukas Naomi cepat, dan Neli hanya diam saja sembari tertunduk.
''Atau mengintip, hm'' lanjutnya lagi yang semakin memojokan keadaan Neli sekarang.
''Kalo iya kenapa memangnya? Kuping-kuping saya, mata-mata saya, gak merugikan Non Naomi juga kan'' ucap Neli dengan begitu berani dan tidak sopan. Naomi sampai tersentak kaget mendapat hal itu
''Tidak sopan kamu yah, kamu lupa sedang bicara dengan siapa sekarang?'' Naomi mengingatkan secara tegas dan berwibawa.
''Saya sadar kok, dan saya sengaja berbicara seperti ini. Kenapa? Anda terkejut, hm'' balas Neli makin menjadi.
''Kalo sampai kakak tau semua ini, habis kamu sama dia'' desis Naomi geram dan kelewat kesal.
''Cih! Tukang ngadu, dan saya tidak takut sama sekali. Saya permisi dulu Nona Naomi yang terhormat'' jawab Neli angkuh, bahkan dia sengaja menabrak bahu majikan cantiknya itu saat melewatinya.
''Huh! Huh!'' Naomi terus saja mengontrol napas serta amarahnya, dengan terus menenangkan pikiran dan tarik napas secara teratur.
Naomi masuk kedalam ruangan suaminya, dia sudah merasa sedikit tenang sekarang. Jangan sampai suaminya mengetahui perdebatan tadi, atau sesuatu yang buruk akan terjadi pada Neli.
''Sayang!'' sapa Nanda lembut.
''Iya kak''
''Sini, duduk bareng kakak'' pinta Nanda lagi.
Naomi segera melangkah kehadapan suaminya, lalu duduk dikedua pahanya, tidak lupa kepalanya langsung bersandar dibahu kokohnya.
''Kak Agatha udah tidur dari tadi kak, kenapa dia gak dikamar tamu bareng Anaya saja?'' tanya Naomi sembari meresapi usapan lembut dari suaminya
''Baru beberapa menit kok, kita lagi gantian dalam bertugas sayang, makanya Agatha tidur disofa'' jelas Nanda
__ADS_1
''Oh, gitu yah'' Naomi lantas mengerti
''Kamu kenapa bangun jam segini sayang?'' tanya Nanda sembari menatap tajam layar laptopnya. Seolah dia tengah menahan emosi yang besar saat ini, padahal jelas-jelas dia tengah memantau keamanan Alvin saat ini.
''Tiba-tiba Naomi merasa lapar kak, makanya Naomi turun buat cari makanan dikulkas'' ucap Naomi dengan senyum manisnya.
Nanda mengusap lembut perut istrinya yang sudah terlihat buncit itu..''Anak Daddy laper jam segini, hm. Udah dikasih makan apa sama Mommy'' ujar Nanda yang mengajak calon anaknya berbicara.
''Yogurt sama buah Daddy'' balas Naomi dengan suara khas anak kecil.
''Oyah? Masih lapar gak sekarang?'' tanya Nanda yang masih mengusap perut istri cantiknya itu, bahkan dia sesekali mengecupnya dengan sayang.
''Udah enggak Daddy, hi hi'' ucap Naomi.
''Yasudah kalo udah diisi, kalian tidur lagi yah. Gak baik bergadang, hm'' titah Nanda perhatian
''Tapi mau bareng kakak disini, boleh yah'' rengek Naomi manja.
''Iya boleh sayang, sekarang kamu tidur'' titah Nanda yang dijawab anggukan kepala oleh Naomi.
Naomi tidur menyamping diatas pangkuan suaminya, tidak butuh waktu lama untuk membuat ibu hamil itu kembali tidur, karna baru beberapa menit saja Nanda mengusap kepalanya, dengkuran halus telah terdengar.
''Berani dia sentuh istri gue, tunggu saatnya tiba wanita sampah. Gue gak akan pernah biarin orang kayak loe hidup tenang didunia ini, dasar sampah masyarakat'' desis batin Nanda, dari kilatan matanya sangat jelas terlihat bahwa dia tengah marah besar saat ini.
...****************...
Diposisi Neli. Dia saat ini tengah merasa cemas dan khawatir, pasalnya dia sudah berani berbicara tidak sopan pada Naomi.
''Aduh! Gimana kalo Neli dipecat yah? Gagal dong semua rencana Neli, buat dapetin hati tuan Nanda. Mana besok Bi Yuyun kembali lagi'' gumam nya panik
''Gak! Pokoknya Neli harus cari alasan supaya gak dipecat dari sini, Neli gak mau kembali lagi keasrama. Pokoknya besok Neli harus minta maaf sama Naomi, iya harus!'' ucapnya bertekad.
Tanpa dirinya ketahui bahwa musibah besar akan segera menghampirinya, mungkin jika dirinya tahu semua itu. Sudah dipastikan dia akan memilih pergi dan bersembunyi seaman mungkin, dari kejaran seorang Nanda ataupun Alvin.
Neli tidak diberitahu seperti halnya Bi Yuyun, bahwa pemilik rumah bak istana ini adalah seseorang yang sangat menakutkan. Hanya Naomi yang mampu berada disamping seorang Nanda sampai saat ini, tanpa sebuah jeritan dan tangisan pilu.
__ADS_1
''Dan semoga aja Naomi tidak mengadukan hal tadi pada Tuan Nanda, iyah! Semoga saja'' Neli menjadi tidak bisa tidur akibat hal itu, dia terus saja dihantui rasa khawatir dan cemas saat ini.