
Persis seperti yang diucapkan oleh Alice tentang Alvin, jika kekasih tampan nya itu pasti akan kembali lagi kerumah nya sebelum pagi menjelang.
Tepat di jam 03, dini hari. Suara motor Alvin kembali terdengar digarasi rumahnya, sayang sekali saat ini Alice sudah melanjutkan tidurnya.
Tap
Tap
Tap ....
Alvin berjalan santai menuju kedalam kamar milik kekasihnya itu, ditangan nya terdapat satu buah plastik besar yang dia dapat entah dari mana.
Bukan nya Alvin baru saja melakukan hobi gila nya? Lantas, kenapa dia pulang membawa kantong kresek. Bahkan semua toko maupun pedagang kaki lima sudah tutup dijam segini bukan.
Jangan bilang itu adalah sebagian dari tubuh mangsa nya tadi, yang dinilai penting dengan harga fantastis!
Kreakk ....
''Huumft'' napas lelah terbuang dari mulut dan hidung Alvin.
''Bau banget badan gue'' gumam nya sembari melenggang kearah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah dia meletak kan kantong plastik besar tersebut diatas nakas.
Seketika suara gemericik air terdengar, dan itu lagi-lagi mampu membangunkan si pemilik kamar.
''Hoaamm!''
''Suara air, apa itu Alvin. Ah, siapa lagi kalo bukan dia'' Alice menyalakan saklar lampu utama dikamar nya, hingga ruangan itu menjadi terang saat itu juga.
Suara air sudah tidak terdengar, bisa dipastikan jika Alvin sudah selesai membersihkan diri, dan sebentar lagi pasti akan keluar dari sana.
''1 . 2 . 3''
Cklek ....
Tepat sasaran! Saat Alice menghitung sampai tiga, disaat itu juga Alvin keluar dari dalam kamar mandi, yang hanya berbalut handuk di pinggang hingga tulutnya saja.
''Tuhan! Dia ini anak siapa sih? Kok bisa ganteng banget. Udah putih bersih, berotot, tinggi, ferpeck deh pokoknya. Dan itu kenapa menonjol banget astaga'' jerit batin Alice yang terpana melihat pahatan tubuh milik kekasih nya itu. Serta tatapan matanya yang pokus pada satu tempat yang dia bilang menonjol tadi.
''Kenapa? Loe terpesona lihat tubuh gue, hm?'' Bisik Alvin tanpa tahu sudah ada didekat Alice saat ini, lengkap dengan senyum mesum nya. Karna dia yakin, jika gadisnya sast ini tengah mengagumi dirinya.
''Banget!'' balas Alice tanpa sadar dengan tatapan mata yang tidak lepas dari area perut Alvin
''Loe pengen pegang gak'' tawar Alvin memberi jebakan. Dan dengan mudahnya Alice mengangguk tanda jawaban
__ADS_1
''Mana yang loe mau sentuh. Ini, ini, ini, apa yang ini'' ucap Alvin yang sudah menunjuk semua bagian otot yang ada ditubuhnya.
"Hah? Pegang apa. Aaaaaa''
''Berisik!'' sentak Alvin yang mana kini Alice sudah sadar dari sisi lain nya, dan kembali kepada mode Alice yang sesungguhnya.
''Kamu kenapa gak pake baju sih, mana deket banget lagi. Sana jauhan husss'' usir Alice karna jarak tubuhnya dan Alvin sangat dekat saat ini. Dan itu jelas tidak baik untuk kesehatan jantung Alice.
''Gue mau masukin elo sekarang'' bisik Alvin tanpa berniat menjauhkan tubuhnya, yang ada kini dia semakin memojok kan Alice diatas hamparan empuk nya.
''Kamu mau ngapain Al. Sadar Alvin, jangan begini dong, masukin apa sih maksud kamu'' pekik Alice dengan jantung yang terus berdebar.
''Loe buka baju, dan gue buka handuk gue'' ucap Alvin tanpa dosa
Mata Alice seketika terbelalak mendengar kalimat Alvin yang terdengar begitu santai.
''Loe gak mau?'' tanya ulang Alvin, masih dengan tanpa ekpresi diwajahnya.
''Gak! Aku gak mau'' balas Alice sedikit sewot karna Alvin terus mendekati nya.
''Kenapa?''
''K-karna punya loe kecil'' ucap Alice secara asal, tanpa berpikir jika ucapan nya berhasil memancing si raja mesum untuk beraksi.
''Loe tau dari mana kalo punya gue kecil? Ok kita bukti kan sekarang, kecil atau besar menurut loe''
Deg ....
Alice terkesiap mendengar kalimat Alvin. Dengan cepat gadis itu menutup mulut nya sembari menggeleng kuat, dia baru sadar dengan apa yang dia lontarkan, melihat raut wajah tengil Alvin yang makin membuatnya merinding.
''A-aduh! Kenapa jadi begini sih? Alvin kan orang nya mesum tingkat dewa'' suara hati Alice memekik takut serta mengutuk dirinya sendiri karna sudah salah dalam berucap.
''I-itu, bukan punya kamu yang kecil Al, tapi .. itu cicak yang kecil, iyah cicak he he ... Punya kamu mah besar kok'' celoteh Alice makin ngawur saja.
Alvin saat ini bukan hanya menyeringai saja, melainkan sudah terkekeh geli. Melihat raut panik dan cemas dari kekasihnya itu, sungguh menyenangkan sekali bagi Alvin.
''Besar yah? Emang besar sig, sini gue kasih lihat lagi biar jelas'' Alvin sudah kembali terduduk dan bergerak seperti ingin membuka lilitan handuknya.
Mata Alice makin membola sempurna kala melihat Alvin benar-benar terlihat seperti ingin membuka penutup asetnya itu.
''Stop Alvin! Kamu mau gebug pake bantal guling, hah'' sentak Alice yang tidak habis pikir dengan kelakuan prianya itu.
''Loh kenapa? Gue kan cuma mau kasih liat doang. Ini juga nanti nya bakal menjadi hak milik loe'' pungkas Alvin terlewat santai.
__ADS_1
''Astaga! Kenapa di dunia ini harus ada laki-laki seperti dia. Huaaa, Alvin kamu pria idaman aku banget, tapi mesum nya bikin aku darah tinggi'' jerit batin Alice lagi.
Alvin tiba-tiba kembali menyudutkan Alice dikepala kasur, dagu nya disentuh lembut oleh Alvin. Ingin rasanya Alvin meledak kan tawanya, saat melihat raut wajah kaku dan pucat dari perempuan itu.
''Huh! Sepertinya gue harus banyak berjuang di malam pertama kita nanti, ya'' celetuk Alvin dengan wajah datar nya.
Alice segera memalingkan wajahnya karna tidak tahan dengan kslimat Alvin yang ngaler ngidul. Jika tahu akan seperti ini, Alice lebih baik tidak bangun tadi, atau berpura-pura tidur itu lebih baik.
''Alvin, kamu buruan pake baju, nanti masuk angin loh'' Alice akhirnya bersuara sembari mendorong dada Alvin secara lembut.
''Siap sayang.'' balas Alvin yang langsung pergi kearah lemari milik Alice, dimana disana terdapat banyak baju kaos serta jaket miliknya.
''Huh! Bener-bener yah tuh orang, tiap hari kerjaan nya bikin dag dig dug mulu'' gumam Alice mencebik kan bibirnya.
...****************...
''Ck! Bisa gak sih loe lepas tuh kacamata, sakit mata gue liatnya'' sentak Nanda bengis pada sodara plus sahabat nya itu.
''Napa? Gue makin tampan yah pake ini, hm , hm. Loe takut tersaingi kan? Ngaku aja deh loe bos, udah ketebak banget'' balas Agatha dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
''Mana ada tampan njirr. Mirip aki-aki iyah'' desis Nanda geram, pasalnya Agatha saat ini tengah memakai kacamata buku berwarna putih polos, dan itu terlihat semakin tua menurut Nanda.
''Sadis bener tuh mulut, aki-aki apa yang gagah dan maco gini''
''Aki Agatha, noh'' sahut Nanda santai. Sedangkan Agatha sudah memutar matanya jengah saat ini, selalu saja begitu pikirnya.
Agatha melepaskan kacamata nya dan mulai kembali bertanya dengan perasaan dongkol dan malas.
''Jadi loe diminta Naomi untuk gak ngebunuh selama dia hamil?'' tanya Agatha memastikan.
''Yaps!'' balas Nanda singkat.
''Bagus itu'' sorak Agatha setuju.
''Kok bagus?'' selidik Nanda.
''Ya bagus dong, kan gue jadi gak ribet ngerusin serta menghilangkan jejak dari korban loe selama lima bulan terakhir itu. The best deh Naomi, mewakili banget permintaan gue'' celoteh Agatha tanpa melihat tatapan tajam milik sahabat nya itu.
''Si*l*n loe! Tapi ada pengecualian buat satu orang katanya'' sentak Nanda kesal
''Siapa tuh?'' Desak Agatha
''Elo!'' ucap Nanda lantang dan mampu membuat Agatha tersentak kaget. Nanda beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Agatha yang terdiam kikuk sekarang.
__ADS_1
''Gila! Yang benar aja, mereka mau bunuh gue gitu maksudnya?'' gumam nya tidak habis pikir, padahal hal itu tidak akan pernah terjadi bukan? Dan Agatha pun tahu itu, tapi bisa saja dia menjadi korban keganasan Nanda juga di lain waktu bukan.