
Jam sudah menunjukan angka 12.30. Siang. Dan itu artinya waktu pelajaran sekolah telah berakhir.
''Bi, loe mau langsung pulang atau mau ikut sama kita tanding futsal?'' ujar Atala pada Abi.
''Bukan nya loe mau nemenin Aiden hari ini? Ogah lah gue ikut, takut baper nanti'' balas Abi menolak secara langsung.
''Emang nya gue mau ngapain disana? Sampai loe baper segala'' sahut Aiden ketus
''Loh! Bukan nya loe mau shoot gadis incaran loe itu sekarang'' ucap Abi
''Kagak lah'' balas Aiden
''Terus kapan jadinya?'' tanya Abi heran, pasalnya dia berpikir jika Aiden akan menyatakan perasaan nya hari ini pada Dea, karna tadi Aiden sudah membeli dua batang coklat dimini market.
''Nanti malam atau besok malam, soalnya gue belum siapin moment nya'' jelas Aiden dengan perasaan yakin dan percaya diri.
''Jadi, coklat itu buat apa dong? Gue kira mau loe jadikan moment hari ini''
''Ha ha, klasik banget sih pikiran loe Bi. Ya kali Aiden nembak Dea cuma modal coklat doang, malu lah dikira gak modal nanti'' sahut Atala tertawa kecil.
''Ck!'' decak Abi malas.
''Kalian. Aku pulang duluan yah'' seru Alice yang sedari tadi mendengarkan obrolan ketiga remaja tersebut.
''Eh, kok muka loe''
''Ya Ampun Lis, kok loe pucet banget sih'' pekik Atala yang melihat kondisi wajah Alice berbeda dari biasanya, terlihat pucat dan sedikit berkeringat diarea dahinya.
''Loe sakit? Yuk gue anter loe balik, atau mau dianter kerumah sakit aja'' ujar Abi mulai panik
''Gak usah, aku gak papa kok'' balas Alice tersenyum lembut.
''Gak papa gimana, jelas-jelas loe pucat Alice. Bisa dibunuh gue sama Alvin, kalo biarin loe pulang dalam keadaan seperti'' ucap Abi sedikit geram
''Bukan cuma Abi doang, kita berdua juga bisa-bisa dipenggal sama Alvin, Lis. Jadi kita mohon dengan sangat, loe nurut sama kita'' sahut Aiden yang juga ikut cemas melihat kondisi Alice saat ini.
Alice menghela napas lelah, sebelum akhirnya mengangguk setuju.
''Nah gitu dong, kan aman'' ujar Atala merasa lega
''Iya'' Alice segera memakai jaket serta tasnya.
''Silahkan nona bos'' ucap Abi sembari membungkuk kan setengah badan nya, dan Alice tersenyum geli melihat hal tersebut.
''Salah! Harusnya tuan putri. Nah itu baru bener'' sela Atala
''Sama aja'' sentak Aiden yang sudah menggiring Alice dari arah belakang.
''Cih! Siapa sih tuh cewek, so cantik banget. Cantikan juga gue kemana-mana''cibir Yuri yang tidak suka melihat pemandangan tersebut.
__ADS_1
Dan kebetulan ucapan nya terdengar oleh tiga gadis yang masih berada disana, mereka pun segera menghampiri murid baru itu.
''Hai!'' sapa salah satu dari ketiga nya
''Hai'' balas Yuri sedikit asyik
''Gue lihat loe gak suka sama cewek yang duduk disini yah'' ucap nya lagi
''Kelihatan banget memang nya'' balas Yuri sedikit acuh
''Ck! Gue saranin, mending loe gak usah terlibat masalah sama dia, atau loe bakal nyesel nantinya''
''Cih, hi hi. Kalian pikir gue cewek lemah, jangan mentang-mentang dia punya banyak temen cowok, terus gue musti takut gitu sama dia. Gak mungkin'' Yuri tertawa geli mendengar peringatan itu
''Terserah kalo loe gak percaya, kita cuma kasih saran gak lebih. Yuk cabut'' ketiga gadis itu pergi meninggalkan Yuri.
"Dih, gak jelas banget loe pada'' teriak Yuri merasa kesal. Dia pulang dengan membawa kekesalan dihatinya, Yuri merasa kalah saing dengan Alice.
...****************...
Brumm....
Brumm..
Deru motor terdengar kencang, kala pengendara tersebut sampai dihalaman rumah Alice. Yah! Mereka adalah para sahabatnya Alvin, yang mengantar Alice pulang hari ini.
''Aman Lis, lagian ini udah jadi tugas kita kok, kan loe tau sendiri pacar loe serem nya kayak gimana'' ucap Aiden yang sudah menghidupkan kembali mesin motornya
''Santai aja Lis, kita care kok sama loe'' sahut Abi yang ikut mengantar Alice pulang, sedangkan Atala tengah menunggu mereka berdua dilapangan futsal.
''Kita balik lapangan dulu yah, baik-baik loe dirumah. Kalo ada apa-apa cepat hubungi salah satu diantara kita, ok'' ujar Aiden yang sudah berpesan.
''Iya, kalian hati-hati. Dahh'' balas Alice sembari melambaikan tangan nya.
Aiden dan Abi mengacungkan jempolnya keudara, dan segera melesat dengan motor sport nya.
Sedangkan disisi lain, kini seorang pria tengah berbaring santai dihamparan empuk milik Alice.
''Pulang juga dia'' gumam orang yang sedari tadi menunggu kepulangan sipengendara motornya itu.
Dia dengan cepat melihat kebawah, dimana posisi Alice berada saat ini. Senyum nya terbit kala melihat pujaan hatinya pulang dengan selamat, tapi! Kenapa Alice pulang diantar oleh Abi dan Aiden? Padahal Alice sangat pandai mengemudikan motor besar miliknya.
Biar nanti saja dia tanyakan hal itu, sekarang dia harus bersembunyi sebelum pemilik kamar tersebut tiba disana.
''Gelap banget, perasaan tadi aku gak matiin lampu kamar deh'' ucap Alice yang sudah menekan saklar lampu dikamarnya.
Seketika ruangan tersebut dipenuhi cahaya, Alice berjalan lelah kearah kasurnya, lalu dia membuka kancing seragam nya secara perlahan dan pasti, karna seragam tersebut sudah sangat lembab dengan keringat dingin nya.
''Pusing banget, kayak nya masuk angin deh'' gumamnya setelah melepas seragam tersebut. Alice secara perlahan mengoles minyak angin kepunggung bagian atas, sesekali dia menghirup aroma dari minyak angin tersebut.
__ADS_1
''Susah sekali'' Alice berusaha menggapai punggung bawahnya untuk dia olesi minyak angin juga.
''Mau gue bantu'' bisik seseorang tepat disamping telinga nya, bahkan deru napasnya begitu terasa hangat menerpa kulitnya.
''Alvin'' gumam Alice tertegun, tanpa dia sadari kini punggung nya sudah diolesi minyak angin oleh Alvin.
''Udah belum'' ucap Alvin yang terus saja menggosok serta memijat lembut punggung kekasih nya itu
''I-iya'' balas Alice gugup, dia baru sadar jika kain yang menutup tubuhnya saat ini hanyalah sebuah singlet.
''Loe gak mau peluk gue'' Alvin menatap wajah Alice secara dalam, ternyata gadisnya sedang tidak fit saat ini.
Alice masuk kedalam dekapan Alvin dengan ragu, jujur dia merasa malu saat ini. Namun! Alvin segera menarik tubuh Alice guna makin menempel padanya
''Loe sakit'' bisik Alvin
''Cuma masuk angin aja deh kayaknya'' balas Alice yang mulai merasa tenang didekapan nya Alvin.
''Kamu kapan pulang'' lanjut Alice tanpa merubah posisinya.
''Gue juga kangen sama loe Alice'' jawaban yang sangat tidak sinkron bukan, Alice tanya apa Alvin jawab nya apa.
"Aku kangen sama kamu Alvin. Puas'' dengus Alice yang sudah mendongakkan kepalanya
''Itu pertanyaan pertama yang ingin gue dengar dari mulut loe sayang'' balas Alvin memberi kode keras.
''Maaf'' Alice berucap lirih sembari tertunduk dalam
''Untuk?''
''Hal tadi Vin. Jujur aku ingin mengatakan kata itu sama kamu, tapi a-aku terlalu malu untuk mengatakan nya'' ucap Alice sendu dan tidak kuasa untuk menatap netra hitam Alvin.
''Liat gue'' titah Alvin
Alice terlihat ragu untuk menuruti ucapan kekasihnya kali ini, hingga Alvin merasa gemas sendiri.
Alvin mengangkat paksa dagu Alice, hingga netra bening mereka bertemu saat itu juga.
''Fyuhh'' Alice terpejam dengan tubuh tersentak kaget, kala mendapat tiupan kencang dari Alvin, hingga rambut Alice tersingkap menampilkan dahi putihnya.
Kenapa pula Alvin melakukan hal tersebut? Bukan nya Alice baik-baik saja sekarang, Alice tidak sedang kesurupan bukan?
''Loe itu milik gue, dan gue itu milik loe. Jadi singkirkan pikiran itu dari kepala ini, loe bebas bersikap gimana pun kalo lagi bareng gue. Kecuali sama orang lain, Paham?'' tutur Alvin begitu menyentuh dasar hati Alice.
''Iya, kau itu milik ku Alvin. Psikopat tampan milik Aliska'' batin Alice tersenyum bahagia.
Alice tersenyum lembut dan terus mengikis jarak diantara mereka, gelora cinta kini sudah menguasai hatinya.
Cup...
__ADS_1