
Malam semakin larut, dan waktu kini sudah menunjukan angka 11.malam. dimana Alvin masih momongin bayi besarnya agar tertidur dengan nyaman tanpa gangguan.
Karna malam ini dia akan menjalankan niatnya, yang dapat memuaskan jiwa iblisnya itu,
''Gue pergi dulu sayang, janji gak lama'' bisik Alvin setelah memastikan kekasihnya sudah tertidur pulas.
Alvin segera pergi dari kamar Alice, sebelum waktu semakin malam. Dengan mengendarai sepeda motor miliknya, tidak butuh waktu lama untuk Alvin sampai kerumah Nanda.
Jarak rumah Alice dan Nanda memang tidak terlalu jauh, masih dalam satu kawasan. Hanya butuh waktu beberapa belas menit saja untuk sampai disalah satu rumah tersebut.
Brummm....
Motor Alvin sampai digarasi rumah Nanda dalam waktu 10 menit saja, keadaan dirumah itu sudah sangat sunyi dan hening. Mungkin pemilik rumah ini sudah terlelap dijam segini, meski itu mustahil bagi Nanda.
''Waktunya beraksi'' desis Alvin yang berjalan santai menuju kedalam rumah kakak nya itu.
Cklek...
Pintu yang sengaja tidak dikunci oleh pemiliknya, makin mempermudah Alvin untuk melancarkan aksinya. Dengan pasti Alvin berjalan menuju kearah belakang, dimana itu adalah tempat targetnya malam ini.
Drap..
Drap..
Suara langkah kakinya sengaja dia kencangkan, agar pemilik kamar tersebut bisa mendengarkan nya.
''Ck! Dasar kebo'' desis Alvin yang enggan menyelinap masuk kedalam kamar targetnya itu.
''Ketok aja lah, biar dia bangun''
Tok..
Tok..
Alvin menunggu hasil dari ketukan nya, sedikit lama dan membuat Alvin emosi.
Sedangkan didalam kamar tersebut, pemiliknya sudah peka dengan suara ketukan tersebut.
''Siapa'' gumam nya heran, dia melirik jam yang ada didalam kamarnya.
''Setengah 12 malam, apa bi Yuyun yang ketuk pintu yah'' monolognya lagi.
Tok..
Tok..
Terdengar kembali suara ketukan tersebut secara teratur, diapun segera membukanya tanpa pikir panjang lagi.
Cklek...
__ADS_1
''Eh, tuan Alvin kan?'' seru nya tersenyum lebar.
''Hai Neli'' ucap Alvin yang sudah mengeluarkan pisau lipat miliknya dari dalam saku jaket yang dia pakai.
''T-tuan kenapa pasang pisau segala?'' tanya Neli terbata saking takutnya. Dia mengangkat setengah tangan nya tanda ampun dan segan.
''Loe mau ikut sama gue tanpa berontak, atau mau gue bunuh disini aja''pilihan yang mudah dari Alvin.
''I-ikut sama tuan'' jawab Neli cepat dengan wajah yang sudah pucat pasi
''Jalan'' titah Alvin tegas. Dan Neli segera mengikuti arahan dari Alvin, demi keselamatan nyawanya.
Neli berjalan dengan kaku dan sedikit membungkuk, takut sekali jika tiba-tiba pisau yang Alvin pegang menusuk bagian dari tubuhnya.
''Buruan jalan nya, elah!'' sentak Alvin yang geram melihat pergerakan Neli yang sangat lamban menurutnya.
''B-baik tuan'' balas Neli yang mana posisi mereka kini sudah berada ditengah rumah.
Terlihat Nanda bersandar santai didepan pintu ruangan kerjanya, Neli maupun Alvin jelas mengetahui hal tersebut.
Merasa ada peluang besar untuk meminta tolong, Neli segera mengeluarkan suaranya.
''Tuan Nanda, tolong saya'' teriak Neli begitu menggema, berharap jika Nanda akan menolong nya saat ini. Satu hal yang Neli tidak tahu dari mereka, yaitu sama-sama pembunuh handal.
Nanda tersenyum mengejek pada Neli lalu memberi senyum puas pada Alvin.
Dia menatap silih berganti kakak beradik itu, apa yang saat ini terjadi pikirnya? Nanda dengan bangga nya berucap seperti itu, jelas-jelas asisten rumah tangga nya tengah dalam keadaan bahaya, bukan?
''Wokeh'' balas Alvin santai sembari mengacungkan jempolnya.
''Buruan jalan lagi'' sentak Alvin bengis.
''Hiks...'' Neli tidak kuasa lagi menahan air matanya. Dia berjalan kembali dengan perasaan yang tidak menentu, memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini.
Disisi lain. Tepatnya arah belakang, bi Yuyun berusaha tegar dan mencoba b*d*h dengan tidak tau apa-apa saat ini.
Padahal sedari awal Alvin datang menghampiri kamar Neli, dia sudah mengetahuinya dan memilih diam saja.
''Malang sekali nasib mu Neli, andai kamu memiliki hati yang bersih dan tulus, hal seperti ini tidak akan pernah menghampiri hidupmu'' ucap Bi Yuyun terlihat sendu, dia segera kembali kedalam kamarnya tanpa mau mencegah niat buruk tersebut.
...****************...
Sret .... Jleb ...
''Arggh.''
Jeritan pilu seketika memenuhi ruangan sunyi tersebut, Alvin tersenyum puas saat berhasil menusuk bahu kanan Neli. Bukan hanya satu bacokan, tetapi berkali-kali sampai darah membanjiri wajah tampan Alvin.
Jleb.
__ADS_1
''Arggh, sssh sa-kit. Toh-long shh hen-tikan i-ni''
Neli merintih kala tenaganya seakan diambil secara paksa dari tubuhnya. Rasa sakit yang kini dia rasakan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Rasa sakit yang mampu merenggut suara dan napas Neli yang makin tersendat-sendat.
''Hi hi, loe mau mati cepat atau lambat? Kalo loe pilih cepat, sekarang juga gue putusin kepala loe. Tapi kalo loe pilih lambat, gue bakal potong secara perlahan bagian-bagian penting dalam tubuh loe. Bagaimana?'' ucap Alvin dengan tawa seramnya.
''Jan-ngan, shh'' Neli masih berusaha memohon disela-sela tenaganya yang tersisa.
''Loe tenang aja, malaikat maut mungkin akan berbaik hati sama loe disana, jadi loe gak usah takut buat mati''
Neli menggelengkan kepala dengan cepat, dia benar-benar menyesal telah bersikap kurang ajar terhadap majikan nya. Jika dia tahu akan seperti ini akhirnya, tidak akan terlintas sedikit pun keinginan untuk memiliki Tuan nya itu.
Krookk ... Cratt ...
''Arrgghh, hiks hiks..''
''Uhh, bola mata yang buruk'' ucap Alvin yang sudah berhasil mencongkel sebelah mata Neli menggunakan pisau nya. Dan dengan santainya Alvin menginjak bola mata tersebut hingga pecah dan hancur.
Crat ....
''Hi hi hi, gimana menurut loe? Oh hoo ... Gue kan mau menguliti seluruh tubuh loe, kenapa gak ingetin sih. Jadi gak seru lagi deh, karna suara loe udah abis'' ucap Alvin tanpa rasa bersalah ataupun kasihan terhadap Neli yang sudah tidak utuh lagi.
''Loe ngiler gak bang?'' tanya Alvin pada Nanda lewat panggilan vidio. Yah! Sedari awal Alvin menjalankan aksinya, panggilan tersebut sudah terhubung dengan Nanda.
''Pake tanya lagi loe'' balas Nanda ketus.
''Sabar, permintaan kakak ipar adalah perintah buat loe. Jadi, loe harus berusaha untuk tidak melanggarnya, paham'' ujar Alvin dengan tawa puasnya.
''Si*l*n loe'' desis Nanda jengah.
''Kalem bang'' ujar Alvin yang sudah kembali menghadap Neli.
Jleb...
''Uhuk!''
Seketika Alvin menancapkan pisau tajam nya, tepat di bagian dada Neli. Darah hitam seketika keluar dari dalam mulutnya, hingga akhirnya dia tiada.
''Uuhh! Mantep banget gak tuh'' cetus Nanda dibalik layar ponselnya.
...****************...
''Ini Alvin pulang ke apartemen nya atau kemana sih? Gumam Alice kesal
''Jika dipikir-pikir, dia tuh udah kayak jailangkung saja. Datang tak diundang pulang tak diantar! Huh, untung sayang dan tampan'' ucap Alice yang berbicara sendiri saat ini.
Alice terbangun di jam 02. Dini hari. Karna raganya merasakan ada yang hilang disampingnya, padahal belum genap dua bulan dia mengenal Alvin. Tetapi raganya sudah sangat bergantung terhadap Alvin.
''Ponselnya masih aktif, apa dia belum tidur yah? Kebiasaan buruk atau imsomnia sih dia, sudahlah ditunggu aja'' putus Alice pada akhirnya, dia sangat yakin jika Alvin akan pulang kerumahnya lagi sebelum pagi menjelang.
__ADS_1