
Di rumah besar milik Nanda. Kini Naomi tengah bersiap untuk pergi kerumah sakit, guna memeriksa kandungan nya. Karena tepat di hari ini, kandungan nya genap memasuki lima bulan.
Tubuh Naomi makin terlihat gemoy dan pipinya semakin chubby saja setiap hari. Bukan jelek karna perubahan tersebut, justru Naomi makin cantik dan Sexy menurut Nanda.
Setelah selesai bersiap, pasangan romantis itu tidak langsung keluar dari kamarnya. Mereka masih ingin bermanja dan bercerita satu sama lain.
''Kak. Naomi jelek yah sekarang?'' tanya Naomi manja pada suami tampan nya itu. Jujur! Naomi merasa kurang percaya diri jika bersanding bersama Nanda, sekarang ini.
Naomi melihat pantulan dirinya di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Menelisik bentuk tubuhnya yang sekarang, dalam kondisi mengandung buah hatinya, sangat mon tok menurutnya. Sedangkan Nanda, semakin hari ketampanan nya semakin bertambah saja, itulah yang membuat Naomi kurang percaya diri.
''Tch! Selalu saja bertanya seperti itu. Sini dulu'' ucap Nanda pada istri cantiknya itu.
Naomi berjalan ke hadapan suaminya, lalu duduk manis di pangkuan Nanda.
''Sayang! Kakak cinta dan sayang sama kamu itu, bukan di ukur dari rupa. Tapi, dari sini'' ungkap Nanda sembari menunjuk da da istrinya.
''Hati?''
''Iya. Karena kamu memiliki hati yang tulus sayang. Itu lebih dari cukup buat kakak'' ujar Nanda
''Jadi, maksud kakak Naomi jelek nih? Dan hanya hati aku aja yang cantik'' Naomi mulai mengerucutkan bi birnya
Nanda gemas sendiri melihat hal itu, mana bisa dia menahan dirinya saat ini.
Cup ...
Sebuah sapuan lembut akhirnya di dapat oleh Naomi. Bukan hanya menyapu dengan sekilas, tapi sedikit lama karna memang itu candunya.
Saat Nanda melepaskan sapuannya pada Naomi, mata mereka saling mengunci dalam beberapa menit. Ingin rasanya Naomi menghilang saat ini, karna rasa malunya mulai menjalar bercampur dengan hawa panas di seluruh tubuhnya.
Pernikahan mereka sudah lewat dari enam bulan lamanya. Tetapi, Naomi masih saja merasa malu di perlakukan seperti itu oleh suaminya.
''Istriku ini tiada duanya. Baik itu dari segi rupa maupun hatinya. Jadi, kamu stop! Bilang, bahwa kamu itu jelek sayang.'' tutur Nanda sangat manis dan mampu menggetarkan jiwa Naomi hingga ke dasar hatinya.
''Emm'' Naomi menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Nanda.
''Sweet banget sih kakak'' puji Naomi dengan senyum lebar dan hati yang menghangat. Nanda sedikit tergelak sembari mengusap lembut surai hitam milik istrinya itu, dia sangat suka dengan mode manja Naomi yang seperti ini.
''Udah siap ke dokter, hm?'' tanya Nanda
''Iya kak. Ayok kita jalan sekarang aja'' balas Naomi antusias dan segera meraih tas kecilnya diatas nakas.
__ADS_1
''Iya sayang'' Nanda meraih tangan halus Naomi, untuk menuju ke lantai bawah.
''Eh. Nona sama Tuan mau chek-in kerumah sakit nya sekarang?'' seru Bi Yuyun yang kebetulan ada di sana, mengerjakan pekerjaan nya.
''Iya Bi. Bibi mau ada yang di beli gak? Biar sekalian Naomi belikan nanti. Atau mau pesan makanan juga boleh'' tawar Naomi sangat berbaik hati pada pembantunya itu.
''Gak usah Non. Bibi juga gak ada yang mau di beli kok'' tolak Bi Yuyun secara halus.
''Huh! Bibi selalu saja begitu. Ya sudah deh, Naomi pergi dulu yah Bi. Awas jangan kangen nanti'' ucap Naomi sembari menggoda teman mengadunya itu.
''Iya Non. Bibi do'a kan semoga bayi kalian sehat'' balas Bi Yuyun
''Makasih Bi do'a nya. Naomi sama kakak pergi yah. Dahhh Bibi'' Naomi selalu ceria dan tersenyum lepas saat bersama Bi Yuyun. Mereka sudah seperti memiliki ikatan batin saja.
''Jaga rumah yah Bi'' imbuh Nanda
''Iya Tuan. Dahh Non Naomi'' Bi Yuyun mengantarkan kedua majikan nya sampai ke depan mobil yang akan mereka tumpangi.
Setelah majikan nya pergi, dia lantas segera menutup gerbang rumah besar tersebut, di bantu oleh penjaga disana.
...****************...
''Ayolah sayang. Masa dari kemarin kamu gak mandi sih, gak gerah apa?'' pria yang di kenal dengan alis sobeknya itu, terus saja membujuk istrinya yang mendadak mogok mandi beberapa hari dalam seminggu ini.
''Loh, kok tanya mau kemana sih. Kita kan mau kerumah sakit lagi buat periksa perut kamu Naya. Masa gak mandi sih, lagian kamu kenapa mendadak jorok begini sih. Aneh!'' terang suaminya itu. Yang tidak lain adalah Agatha.
''Gak usah mandi deh yah. Aku gak mau mandi, maunya tidur''
''Astaga! Anaya. Yang benar saja kamu, kayak yang miskin air aja. Buruan mandi gak!'' pekik Agatha kesal sembari terus menarik tangan istrinya itu.
''Mau aku gendong atau jalan sendiri?'' lanjut Agatha
''Iya. Ini juga aku mau mandi, dan gak perlu di gendong. Kalo perlu aku berendam satu jam nanti di dalam'' gerutu Anaya sembari melangkah pergi
''Itu lebih baik'' sahut Agatha berkacak pinggang.
Tok
Tok
''Masuk Bunda!'' titah Agatha yang mengetahui jika yang mengetuk pintu adalah bundanya Merina.
__ADS_1
Merina pun lantas masuk setelah mendengar titahan tersebut.
''Bagaimana sayang. Apa dia mau mandi?'' tanya Merina sembari merapikan tempat tidur anak-anak nya itu.
''Mau kok Bun. Tuh dia lagi di kamar mandi sekarang'' jawab Agatha yang ikut membantu merapikan sprei di kasurnya itu.
''Bunda harap, keanehan Naya sekarang ini adalah bertanda baik untuk kita semua'' ungkap Merina selalu mengharapkan benih cinta kedua anaknya itu segera tumbuh di rahim Anaya.
''Amin! Semoga saja begitu Bunda'' ucap Agatha juga berharap demikian.
''Ya sudah! Bunda mau hubungi dulu dokter Gilang, supaya mengosongkan jam kerja dokter ketrin nanti. Agar Anaya gak perlu mengantri nantinya'' tukas Merina
''Iya Bun.'' jawab Agatha tersenyum hangat.
...****************...
Ding. Dong.
Ding. Dong.
Suara bel berbunyi berkali-kali di hunian luas dan besar itu. Membuat sang asisten rumah tangga mau pun pengawal yang berjaga di setiap sudut rumah tersebut penasaran.
''Siapa'' gumam Bi Yuyun merasa heran. Pasalnya setiap orang yang sering datang kesini pasti tahu kegiatan apa yang saja yang tengah di jalankan majikan nya setiap hari. Tapi! Ini siapa pikirnya
''Ah, mungkin teman kuliah Tuan yang datang ke sini. Den Gio, Den Ryan sama Den yang satunya lagi itu siapa namanya. Lupa saya'' celoteh Bi Yuyun sembari bergegas membuka pintu utama.
Cklek ....
Pintu kokoh itu terbuka, saat Bi Yuyun membuja kuncinya. Namun! Kening Bi Yuyun mengkerut tanda heran, siapa yang sebenarnya bertamu itu?
''Maaf! Anda siapa'' tanya Bi Yuyun ramah. Orang yang bertamu itu tersenyum sinis sembari membuka kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya itu.
''Ekhem! Nanda nya ada di rumah?'' dia bertanya balik pada Bi Yuyun dengan nada sedikit angkuh dan terkesan sombong.
''Maaf. Sekali lagi saya tanya, Anda siapanya Tuan Nanda?'' Bi Yuyun tidak bisa langsung memasukan orang secara asal-asalan. Dia harus berhati-hati dengan orang asing, untuk tidak langsung menerimanya masuk.
''Hm. Nih pembantu kayaknya over sama orang baru. Kalo gue bilang calon Nyonya di rumah ini, takut dia makin gak percaya dan gak biarin gue masuk nantinya'' batin nya mengatur rencana.
''Ah iya. Saya kenalan Nanda di perusahaan, dia juga sudah mengizinkan saya untuk berkunjung hari ini. Apa dia ada di rumah sekarang'' wanita itu mencoba bersikap baik pada Bi Yuyun agar mempercainya
''Bukan nya Nona sudah membuat janji hari ini dengan Tuan?'' desak Yuyun kembali.
__ADS_1
''I-iya'' balas nya singkat dengan senyum kaku.
''Kayaknya Nona ini bohong sama ucapan nya'' batin Bi Yuyun menerka sebelum mengizinkan wanita itu masuk ke dalam rumah Nanda.