
Acara pelelangan pun sudah di mulai, semua kursi sudah terisi penuh dengan papan nomor di masing-masing kubu.
Alvin juga hadir di antara banyaknya kursi tersebut, dan Galih mengetahui hal itu. Sebab Alvin duduk tepat berdampingan dengan Nanda dan juga dirinya, sangat-sangat kebetulan yang pas bukan?
''Ternyata anak ini benar-benar datang'' batin Galih yang terus saja melihat kearah Alvin.
Di atas panggung sudah hadir seorang pria yang menyandang sebagai juri malam ini.
''Selamat malam para hadirin yang terhormat. Terima kasih kalian sudah berkenan datang malam ini''
Prok …
Prok …
''Baik lah kita langsung mulai saja pelelangan malam ini. Pembukaan pertama kita memiliki patung kuno yang sudah ada sejak 500 tahun lalu, siapa yang berani memberi harga awal untuk memilikinya?''
''20 juta'' seru salah satu dari mereka
''Ada yang lebih tinggi?'' tantang sang juri
''25 juta'' timpal pesaingnya.
Mereka terus saja memberikan harga yang tinggi guna memiliki patung tersebut, berbeda dengan Alvin, Nanda dan Galih. Mereka justru sibuk membagi info tentang rencana selanjutnya, apalagi Galih yang sejak tadi sudah mengincar Alvin dengan kekuasaan milik Nanda.
''Anton, bersiap untuk nanti. Kita akan memberi Alvin sedikit pelajaran.''
''Tapi kenapa Tuan?'' tanya Antonio tidak paham.
''Kau berani bertanya?'' desis Galih
''Maaf Tuan. Tidak'' ucap Antonio takut
''Sekarang Alvin juga musuh kita, ingat itu'' tekan Galih yang memberitahukan asistennya bahwa Alvin tidak perlu di hormati lagi mulai sekarang.
''Baik Tuan'' jawabnya patuh.
Sedangkan Aiden dan Alvin sudah saling melempar kode, padahal alat komunikasi mereka masih berfungsi dengan baik, bukan?
''Kalian kenapa gak ngomong aja'' desis Nanda yang sejak tadi melihat kode kedua adiknya itu.
''Lupa. He he'' sahut Aiden tanpa dosa.
''Komuk lo Den'' Alvin menendang kaki Aiden sebagai peringatan.
''Ekhem'' segera Aiden merubah edpresinya menjadi kaku dan dingin kembali.
''Ntar lo, bersikap seolah Alvin musuh lo Den. Tapi ingat, jangan lo jotos kenceng-kenceng dia. Atau nyawa lo dalam masalah nantinya''
Atala berbicara lewat alat kecil yang selalu aktif di belakang telinga Aiden maupun Alvin.
''Hm'' balas Aiden mengerti.
''Dan lo Vin, lawan aja si Aiden dengan semestinya. Kalo perlu lo banting dia, sekali-kali mah wajarlah, hi hi''
Aiden mendelik sebentar lalu kembali ke raut wajah seperti semula, ucapan Atala mampu membuatnya jengah dan kesal.
''Hm'' balas Alvin dengan melirik kearah Aiden yang bisa Alvin tebak jika saat ini dia tengah mengumpati Atala dalam hatinya.
''Sialann si Ati ampela, awas aja lo'' batin Aiden kesal
__ADS_1
Acara berlangsung dengan sangat meriah, banyak pemgusaha yang sudah menjadi Tuan dari barang yang mereka tawar. Namun, Nanda maupun Galih belum mengeluarkan suaranya hanya untyk sekedar menyaingi.
Hingga tiba waktu di mana Batu Rubby menjadi barang yang di tawarkan, barulah semua orang menegakkan tubuhnya guna berseru.
''Ini adalah batu Rubby yang berharga fantastis dan kehadirannya begitu istimewa. Apa di antara Tuan-Tuan terhormat ini, yang akan menjadi Tuannya?''
Riuh piuh suara yang bersahutan setelah suara sang juri terdengar, mereka semua seolah ingin menjadi Tuan bagi Batu Rubby tersebut.
''Harga sudah kami buka. Silahkan siapa yang akan menawar untuk pertama kalinya?''
''Saya, 200 juta rupiah'' teriak salah satu pemilik perusahaan di gital terbesar yang ada di indonesia.
''300 juta'' timpal pesaingnya di bidang industri.
''350 juta'' sahut yang lainnya.
Batu Rubby itu terus saja di tawar dengab harga yang tinggi oleh semua kalangan orang mewah itu. Hingga tiba di mana Galih mengeluarkan suaranya, tentu untuk mematikan harga.
''1 Milyar'' ucap nya santai. Berbeda dengan yang lain dan juga Antonio, tangan kanannya itu juga ikut terkejut dengan harga yang di lontarkan Tuannya itu.
''Maaf Tuan, apa tidak terlalu tinggi'' bisik Antonio
''Tidak!'' balas Galih singkat.
''Tapi, Tuan. Uang kita akan terbuang sia-sia jika anda memenangkan nya''
''Kita punya Tuan Nanda di sini sekarang. Adapun nanti kita kekurangan uang, tinggal minta bantuannya saja'' ujar Galih yakin.
''Wah, luar biasa. 1 Milyar rupiah, apa ada yang berani menyaingi harganya lagi. Apa ada yang lebih tinggi?'' seru sang juri yang tersenyum begitu lebar.
''Saat nya Vin, tunjukin kekayaan lo Brother!'' instruksi Atala dengan antusias.
Nanda tersenyum pongah melihat reaksi Galih saat ini. Sangat menghibur sekali bagi Nanda.
''Kurang Ajar.'' desis Galih yang menggeram kesal pada anak asuhnya itu.
''Ekhem. Maaf Tuan Nanda, apa anda bisa membantu saya'' bisik Galih
''Apa?'' tanya Nanda santai
''Pinjamkan saya uang agar bisa memenangkan batu Rubby itu''
''Berapa?''
''Bagaimana jika 2 Milyar''
''Tuan! Jangan gegabah'' ingatkan Antonio.
''Apa anda yakin?'' tanya Nanda dengan mata menyipit. Galih yang di tanya serta di tatap seperti itu oleh Nanda mendadak menjadi ragu dan pikir-pikir.
''Ah. Maaf Tuan, saya rasa itu tidak perlu. Maafkan atasan saya'' sela Antonio yang mewakili Galih.
''Hm'' balas Nanda dengan senyum puas di dalam hatinya.
''Gilak. 2 Milyar, so kaya lo Galih'' batin Nanda mencibir.
''Hih, kita tidak sebanding asal lo tau Pak Tua. Lo berjaya itu pun berkat harta bokap gue, penjilat'' batin Alvin bersorak senang.
''Jadi pemiliknya adalah Tuan Sagara, beri tepuk tangan untuk beliau''
__ADS_1
Prok …
Prok …
Prok ….
''Acara malam ini kami tutup. Dan selamat berjumpa kembali di lain kesempatan, terima kasih untuk para Tuan-Tuan yang sudah berkenan hadir. Selamat malam'' sang juri itu pun pergi dari atas panggung.
...****************...
''Coba lihat siapa ini. Anak sebatang kara yang di bulli dan di kucilkan, sekarang mulai menunjukan taringnya'' Galih menghadang langkah kaki Alvin di lorong gedung pelelangan.
Alvin tersenyum miring melihat nyali Galih sangatlah besar malam ini. Apa karna dirinya merasa ada orang mendukungnya? Itu sudah pasti.
''Anda benar Tuan Galih Santomo. Saya ini pewaris tunggal keluarga Sagara, jadi apa yang harus saya sembunyikan lagi. Bukan begitu?'' balas Alvin sambil mendekati Galih.
''Cih, jangan belagu kamu anak muda. Saya bisa saja membunuhmu malam ini, tapi itu tidak akan saya lakukan sebelum kamu bersujud di bawah kaki saya dan berjanji akan selalu berada di bawah kuasa saya''
Alvin tertawa kecil menanggapi ucapan Galih. ''Silahkan anda lakukan, saya sama sekali tidak takut. Hm'' ucap Alvin tepat di sampingnya.
''Saya buru-buru, permisi dan selamat malam Tuan Galih'' lanjut Alvin dengan melewati Galih dan Antonio begitu saja.
''Kurang ajar'' desis Galih benar-benar marah. Apalagi setelah melihat asistennya hanya terdiam dan tertunduk di hadapan Alvin.
''Kamu takut padanya?'' sentak Galih berang
''Maaf Tuan. Iya, saya takut terhadap Alvin, apa Tuan tidak takut?'' tanya balik Antonio. Kenapa asistennya ini mendadak tollol sekali jika berhadapan dengan Alvin.
''Akkhhhh, Brengseek!'' pekik Galih yang sudah meninggalkan Antonio dan akan segera menghubungi Nanda. Pasalnya Nanda sudah tidak terlihat sejak acara selesai tadi, kemana Nanda?
Sedangkan di sebuah mobil mewah milik Nanda.
''Ha ha ha, Hiburan yang haqiqi sih ini'' Aiden tergelak di dalam mobil bersama Nanda.
''Dia pasti lagi nyari keberadaan gue sekarang'' sahut Nanda
''Hubungi aja terus sampe belalang bisa berkedip pun tuh nomor kagak bakal nyambung. Ha ha''
Terdengar pintu mobil bagian belakang di buka oleh seseorang, dan itu sudah pasti Alvin.
''Misi pertama kita selesai, tinggal nunggu yang kedua. Lo siap-siap Den, kita sebentar lagi bakal melakukan adegan aksi''
''Gelud yang bener ntar lo berdua''
Komando dari Atala dan Agatha di balik alat komunikasi mereka. Rupanya tugas mereka malam ini masih sangat panjang, di tambah besok masih akan terus berlanjut.
''Aman, pokoknya ekting kita pasti ok deh. Gue jamin, kalo ada sutradara film yang liat, beuh auto jadi Artis gue'' ucap Aiden mulai kumat.
''Ck!'' decak Alvin malas
''Bisa gak sih gue reques sesuatu sama lo Vin'' Ucap Atala
''Apa?'' balas Alvin
''Pecahin pala orang yang ada di depan lo itu, pake apa aja deh gue ridho''
''Bangkee lo!'' sentak Auden yang merasa bahwa orang yang di maksud Atala itu adalah dirinya.
''Ha ha'' Nanda dan Alvin tertawa geli melihatnya.
__ADS_1