
''Gimana? Udah jadi belum adonan nya Tha?'' tanya Ruslan pada putranya dengan senyum jahil
''Ck! Mana Agatha tau ayah, kan Bunda yang selalu bawa Anaya kedokter khusus kandungan. Agatha mah cuma tau nabur sama enaknya doang, hi hi'' terang Agatha dengan tawa kecilnya.
''Dasar kamu. Lawan ayah main catur kalo kamu menang, ayah bakal kasih trik supaya adonan kamu cepat jadi, hm gimana?'' ucap Ruslan yang secara tidak langsung tengah menantang anaknya itu.
''Dih! Kayak bagus aja trik nya'' Balas Agatha terlihat meragukan ayahnya
''Kamu meragukan kemampuan ayah Tha?''
''Jelas lah, kalo bagus Agatha gak akan raguin ayah. Lah ini apa, Agatha minta adik dari umur 9 tahun sampe sekarang belum ada juga tuh bayi'' ujar Agatha begitu menohok. Ruslan melototkan matanya kala mendengar penuturan dari putra semata wayangnya itu.
''Kan Ayah sama Bunda udah kasih kakak buat kamu Tha, masih kurang'' kilah Ruslan.
''Lah gak salah tuh, emangnya Bos Nanda kecambah dari kalian?'' balas Agatha jengah, dia sudah selesai memasangkan anak-anak catur tersebut. Dan kini anak serta ayah itu tengah berhadap-hadapan, bersiap memulai permainan nya.
''Iya deh iya, nanti Ayah diskusikan lagi sama Bunda. Kalo kamu pengen punya adik, mau cewek atau cowok? tiga atau dua lagi kira-kira '' ucap Ruslan dengan tingkat percaya diri yang tinggi.
Agatha memutar matanya jengah, dengan hembusan napas lelah.
''Satu aja dari dulu belum ada, ini so-soan nawarin tiga. Hah!'' balas Agatha malas.
''Hayo! Lagi ngomongin apa? Hm'' seru Merina yang sudah datang bersama Anaya dan juga kue kering buatan nya.
''Udah selesai bikin kue nya Bun? Coba siniin, ayah mau cobain'' ucap Ruslan tanpa mau menjawab pertanyaan awal yang dilontarkan istrinya itu.
''Nih cobain Yah'' Merina memberikan satu kue kering tersebut, untuk dicicipi suaminya.
''Sayang! Kamu mau juga?'' tawar Anaya lembut pada suaminya tampan nya.
''Jelas! Tapi mau disuapi'' pinta Agatha dengan nada manja. Anaya langsung saja menyuapi suaminya dengan kue kering tersebut.
''Gimana?'' tanya kedua wanita cantik itu secara kompak.
''Enak! Enak banget'' balas Agatha dan Ruslan secara bersamaan.
''Ha ha ha'' mereka seketika tertawa lucu. Merina duduk disisi suaminya, begitupun dengan Anaya. Mereka menikmati olahan kue tersebut sembari mengobrol ringan, benar-benar keluarga idaman semua orang.
...****************...
Sedangkan disisi lain. Seorang wanita tengah merenungkan sesuatu yang mampu membuatnya penasaran. Pasalnya dia sedikit tidak percaya dengan hal tersebut, mengingat dirinya memiliki apa yang para lelaki idamkan.
__ADS_1
''Maksud dari ucapan tuan Nanda tadi itu apa yah? Gak mungkin dia berani congkel mata Neli pake garpu'' monolognya sembari terus membayangkan seringai mengerikan yang tadi dia lihat dibibir tuannya.
''Dan siapa remaja tampan itu? Dia bilang mau menguliti tubuh ini''
''Apa dia enggak tertarik sama ukuran semangka Neli'' ujarnya kembali, dia bercermin didepan kaca yang berada dikamar khususnya. Melihat serta menggerakan buah kesayangan nya, yang memang sangat montok dibanding Naomi.
''Apa tuan gak suka yang gede yah? Si Naomi aja asetnya kecil, pasti tuan Nanda suka yang mungil-mungil mengemaskan. Tapi yang besar kan empuk'' ucapnya membandingkan dirinya dan Naomi.
''Mbak Neli''
Terdengar seruan dari arah luar, Neli sudah dapat menebak siapa pemilik suara tersebut.
''Hah, apalagi sih tuh orang'' desisnya kesal. Namun meski begitu, dia tetap harus melaksanakan apa yang diucapkan oleh Naomi.
''Iya Non, sebentar'' balasnya menggema. Neli segera bergerak kearah luar, bermaksud menghampiri Naomi.
Sesampainya disana, Neli melihat ada banyak tamu yang datang kerumah besar milik Nanda.
''Iya Non kenapa?'' ucapnya seramah mungkin. Dan juga pakaian nya sudah dia ganti dengan pakaian yang sedikit tertutup, ingat hanya sedikit.
''Tolong buatkan minuman untuk mereka, sekalian bawa cemilan nya'' ucap Naomi memberi perintah.
''Baik Non'' balas Neli sembari bergerak pergi dari sana, menuju kearah dapur.
''Pagi tadi lebih parah Bunda, itu baju udah dia ganti'' sahut Alvin yang masih berada dirumah kakaknya itu.
''Ya ampun! Nemu dimana sih dia, kok begitu pakaian nya'' ujar Merina sedikit merinding. Sedangkan yang lain sudah tertawa renyah mendengarnya.
''Iya Bun, mana dedek kembarnya jumbo lagi'' sela Anaya, juga memiliki pemikiran yang sama dengan Merina.
''Kebanyakan pupuk yah gitu tuh'' ujar Alvin lagi. Mereka mengangguk setuju dengan kalimat Alvin tersebut
Nanda tidak ikut menimpali percakapan mereka, dia justru kelihatan santai dan tenang. Agatha menatap curiga kepada Nanda, dan hal itu jelas diketahui sang empunya.
''Bos, Vin. Ikut gue bentar'' seru Agatha yang sudah berjalan kearah ruang kerja milik Nanda.
Alvin dan Nanda mengikuti langkah kaki Agatha. Mereka berdua sudah dapat menebak, hal apa yang akan dikatakan oleh Agatha pada mereka nanti.
Sedangkan diruang tamu, para wanita cantik itu tengah asyik mengobrol sembari mengutarakan rasa rindunya. Apalagi Merina membawakan Naomi kue buatan nya bersama Anaya, makin lengkaplah kebahagian yang dirasakan Naomi hari ini.
Berbeda dengan Neli yang berada didapur, dia saat ini sudah seperti cacing kepanasan saja. Mulut dan badan nya tidak bisa diam kali ini, dia terus mengoceh dengan kekagumannya.
__ADS_1
''Ya tuhan! Apa dirumah ini gudangnya para pria tampan? Makin betah dong Neli kerja disini'' pekiknya kegirangan, dia sudah seperti mendapat harta karun yang banyak sekarang ini.
''Andai Neli bisa menjadi istri dari salah satu pria tampan itu, pasti hidup Neli gak akan menderita seperti ini'' ucapnya lagi, dia mengeluhkan nasib hidupnya yang seperti sekarang ini. Menjadi seorang pembantu dengan mengandalkan sedikit rayuan nya.
Neli sudah selesai membuatkan minuman dan cemilan untuk tamu majikan nya itu, segera dia membawanya kearah ruang tamu, dimana Naomi dan Anaya serta Merina ada disana.
...****************...
''Loe punya rencana buat pembantu baru loe itu Bos?'' seru Agatha setelah mereka masuk kedalam ruang kerja milik Nanda.
''Tentu!'' balas Nanda singkat.
''Kasih tau gue alasan nya?'' pinta Agatha
''Noh! Cek aja CCTV dirumah gue, ribet kalo diceritain'' ucap Nanda yang sudah memberikan kode kepada Agatha.
Agatha langsung mengikuti apa yang baru saja Nanda ucapkan, dia membuka laptop milik Nanda, guna melihat kelakuan Neli selama bekerja dirumahnya.
10 menit pun terlewat, dimana Agatha telah selesai melihat serta memutar ulang vidio hasil rekaman CCTV tersebut.
''Ok! Siapa yang bakalan pesta'' tanya Agatha lagi.
''Gue mana bisa pesta, loe lupa besok gue harus ke amerika'' sahut Alvin sedikit ketus. Pasalnya dia tidak bisa menyalurkan jiwa iblisnya pada korban Nanda selanjutnya.
Nanda tersenyum remeh melihat kekesalan Alvin, dia sangat mengetahui apa yang tengah adik tampan nya inginkan sekarang.
''Loe mau pesta Vin?'' tanya Nanda
''Jelas lah'' sahut Alvin ringan.
''Ok. Sebagai kakak yang baik buat loe, gue gak akan cabut nyawa tuh orang pake tangan gue. Biar dia jadi bagian elo nanti'' ujar Nanda kembali.
''Serius loe bang?'' pekik Alvin dengan pandangan mata berbinar. Agatha berdecak malas melihat hal itu.
''Hm'' balas Nanda
''Dasar! Adek kakak sama-sama pecinta darah'' gumam Agatha jengah.
''Yes! Tunggu gue kembali mbak Neli. Hi hi'' ucap Alvin dengan tawa diakhir kalimatnya.
''Buat kalian seneng itu gak ribet, cukup dengan bunuh orang, mood kalian pada normal lagi. Kadang gue juga heran sama loe berdua, kenapa bisa kalian dipertemukan?'' ucap Agatha yang sudah membuka pintu ruangan Nanda.
__ADS_1
Nanda dan Alvin tersenyum lebar, kala mendengar ucapan dari Agatha, mereka kembali lagi keruang tamu, guna bergabung dengan para wanita kesayangan nya itu.