Kekasih Ku (Psikopat`s)

Kekasih Ku (Psikopat`s)
keharmonisan


__ADS_3

''Besok Alvin jadi berangkat ke amerika?'' seru wanita cantik yang tengah hamil muda itu. Dia saat ini tengah sarapan pagi bersama suami tampan nya.


''Kayak nya jadi, kenapa memangnya sayang?'' ucap suaminya


''Gak ada kok kak, naomi cuma tanya aja. Udah lama dia gak kesini''


Naomi terlihat berharap saat ini, mungkin suasana hatinya tengah ingin melihat pemandangan yang indah, selain wajah tampan milik suaminya.


''Alvin mana bisa jauh-jauh dari kekasihnya itu sayang, kakak tebak pasti dia saat ini tengah bermesraan dengan gadis itu'' ucap Nanda.


''Gak kok, gue disini sekarang'' sahut seseorang yang baru saja datang kerumah besar Nanda. Sontak Naomi dan Nanda melihat kearah sumber suara tersebut.


''Loh! Alvin. Loe kapan datang'' seru Nanda kala melihat sosok adik tampan kesayangan nya itu ada dirumahnya sepagi ini.


''Baru aja. Gue ikut sarapan yah bang'' balas Alvin sembari duduk disalah satu kursi meja makan. Setelah dia menyapa kakak iparnya dengan cara memeluk sekilas


''Nih! Kakak ambilin buat kamu Al'' Naomi menyodorkan satu piring berisikan dua potong roti bakar, kehadapan Alvin.


''Makasih kakak cantik'' ujar Albin dengan pujian nya.


''Noh Vin, kakak loe pengen ketemu sama loe, dari tadi dia nanyain mulu'' sahut Nanda memberitahu tentang perasaan yang tengah istrinya rasakan saat ini.


Naomi melihat secara dalam kepada suaminya, dia merasa malu dan tidak enak hati sekarang.


''Kakak'' geram Naomi pelan. Nanda mengusap lembut tangan istrinya itu, bermaksud bahwa itu tidak apa-apa.


''Gue tau! Makanya hari ini gue dateng kesini, buat nemuin kakak ipar gue ini'' ujar Alvin secara santai. Nanda melihat kepada adiknya dengan tatapan heran.


''Loe tau dari mana? Jangan bilang loe pasang mata-mata dirumah gue'' tuduh Nanda


''Feeling gue kuat, jadi gak usah buruk sangka dulu napa. Apalagi sama adek loe yang tampan ini'' balas Alvin ringan dan sedikit narsis.


Naomi dan Nanda saling pandang, entah mereka percaya atau tidak, dengan ungkapan yang Alvin lontarkan.


''Loe yakin?'' desak Nanda masih meragukan ucapan dari adiknya itu.


''Seratus persen yakin'' ujar Alvin sudah seperti memperagakan iklan saja.


''Ck! Gue pantau loe yah Vin'' ucap Nanda yang sudah kembali melanjutkan sarapan nya, Begitu pun dengan Naomi.


''Terserah!'' balas Alvin acuh. Alvin sengaja pulang kerumah Nanda pagi ini, sebab dia mendadak rindu dengan kedua kakaknya itu. Bukan berarti hari yang lain dia tidak rindu, Alvin selalu merindukan Kedua kakaknya itu. Tapi hari ini rasa rindu tersebut sangatlah besar dari biasanya, oleh sebab itu dia berkunjung kerumah Nanda pagi ini.

__ADS_1


Yang Nanda ucapkan juga tidak salah, Alvin memang habis dari rumah kekasihnya sebelum kerumah kakaknya itu. Sebab waktunya untuk Alice terganggu karna keadaan Ares diapartemen nya. Alvin baru bisa menemui Alice dijam 4 subuh, dimana Ares sudah terlelap dan keadaan nya memungkinkan untuk ditinggal.


Pagi ini mereka sarapan dengan penuh canda dan tawa. Naomi berharap, andai saja setiap hari pemandangan ini bisa dia lihat dan rasakan. Sudah dapat dipastikan suasana hati Naomi selalu bahagia setiap harinya, dia tidak akan merasa kesepian pastinya.


''Bang! Bayi dalam kandungan nya kak Naomi kapan keluarnya sih, gue udah gak sabar pengen lihat'' ujar Alvin sudah seperti seorang bocah, sangat tidak dewasa sekali adiknya itu.


''Kalo udah waktunya dia lahir, tanpa diminta pun dia bakal brojol Al. Lagian loe kenapa sih? Kayak bocah 3 tahun aja, tanya nya begitu'' balas Nanda sedikit sinis, sedangkan Naomi sudah terkikik geli mendengar penuturan dari keduanya.


''Abisnya gue heran, napa dia lama banget disana. 9 bulan bang, bayangin aja hampir satu tahun itu'' ujar Alvin makin tidak tentu arah dalam berpikir.


''Gue tanya sama loe sekarang, dulu waktu loe dikandung ibu loe. 9 bulan itu ngapain aja didalem perut? Coba jawab'' Nanda mengajukan pertanyaan pada Alvin.


''Yah! Mana gue tau bang, udah lupa gue. He he'' jawab Alvin dengan tawa jenakanya.


''Ck! Dasar'' desis Nanda jengah.


''Udah ah, kalian debat terus dari tadi. Syukur yang didebatin nya hal penting, lah ini hal apaan coba'' Sela Naomi menengahi obrolan mereka berdua.


''Nih minum nya'' Sambung Naomi yang sudah memberikan satu gelas susu panas kepada suami dan adiknya itu.


''Makasih sayang''


''Iya sama-sama'' balas Naomi yang sudah melambaikan tangan nya kearah dapur, dimana ada seorang pekerja baru disana. Sebut saja Neli, begitu orang-orang menyebutnya.


Neli datang dari arah dapur, guna membereskan piring dan yang lainnya, dia datang dengan busana yang sangat jauh berbeda dengan Bi Yuyun. Jika Bi Yuyun selalu memakai baju panjang dan tertutup dibagian dadanya, ini malah sebaliknya. Neli saat ini memakai baju dengan belahan rendah diarea tersebut, entah apa tujuan nya itu.


Neli terus saja mencuri pandang kepada kedua laki-laki tampan itu, bahkan senyumnya selalu terpancar disudut bibirnya, tanpa menghiraukan keadaan Naomi disana.


Nanda dan Alvin saling pandang dengan senyum devilnya, mereka seperti memiliki pemikiran yang sama saat ini. Dan hal itu jelas terlihat oleh Naomi, dia sangat mengetahui seperti apa suaminya itu.


''Ayo sayang!'' seru Nanda pada istri cantiknya, mereka berniat akan keruang tamu setelah ini. Namun! Sebelum dia bergerak kesana, Nanda mendekati pembantu barunya itu.


''Jaga mata loe itu, kalo gak mau gue colok pake garpu'' bisik Nanda pada Neli, dengan diakhiri senyum maut khas dirinya.


Tidak mampu menjawab apapun, Neli terlihat melebarkan kedua bola matanya dengan tubuh yang mulai bergetar, bahkan piring yang tengah dia pegang pun ikut bergerak saking takutnya.


''Hati-hati mbak, nanti piringnya jatuh'' ujar Naomi dengan senyum mengejek. Neli mengangguk cepat saat itu juga.


Nanda dan Naomi pun bergerak pergi, meninggalkan Neli yang tengah berpikir keras. Tidak lupa Alvin juga mengikuti langkah kedua kakaknya itu, dari belakang.


''Pake baju yang layak dan sewajarnya, kalo gak mau gue kuliti tubuh jelek loe itu''

__ADS_1


Bisikan maut itu terdengar kembali, namun bukan dari Nanda, melainkan dari Alvin.


...****************...


''Sayang! Siang nanti kita jenguk kakak kamu yah. Kita bawain dia kue ini, pasti Naomi suka'' tutur wanita yang masih terlihat segar diusianya yang tidak lagi muda itu.


Dia bersama menantunya tengah membuat olahan kue kering saat ini.


''Iya Bun, jadi gak sabar pengen cepat siang'' balasnya antusias.


''Suami kamu belum bangun?'' tanya Merina yang tidak melihat sosok putra tunggalnya ada didapur, biasanya dia selalu ada diketiak istrinya jika tengah berada dirumah.


''Belum Bun, orang dia tadi malam gak tidur'' ujar Anaya sekenanya.


''Loh! Kenapa gak tidur? Bukan nya dia dan Nanda pulang awal dari kantor'' ujar Merina


Anaya terlihat salah tingkah sekarang, mungkin dia sudah salah dalam berbicara.


''I-tu Bunda, dia gak tidur karna-''


Anaya enggan melanjutkan kalimatnya, dia bingung harus bicara seperti apa sekarang. Merina tersenyum hangat, dia mengerti dengan apa yang tengah Anaya rasakan saat ini. Apalagi dia melihat banyak sekali tanda merah disekitar leher dan punggung Anaya.


''Dasar anak itu, dia main seperti apa semalam? Sampai membuat Anaya penuh dengan tanda darinya. Agresif sekali dia'' batin Merina heran. Pasalnya tanda merah tersebut, bukan hanya diarea leher saja melainkan sampai kebagian belakang atau punggung.


''Bunda paham sayang, jadi gak usah dilanjutkan lagi kalimatnya. Sekarang siniin loyang nya, Bunda mau oles margarin dulu'' tutur Merina sangat lembut, bahkan kelembutan nya sampai kedasar hati Anaya.


Anaya menyerahkan dua buah loyang berukuran sedang kepada Merina. Dia dengan senyum canggung melihat secara seksama, pekerjaan yang tengah dilakukan ibu mertuanya itu.


''Nah sayang, habis ini kita tingal cetak adonan yang tadi, kita panggang kuenya, udah deh siap'' ucap Merina kembali, dia rupanya tengah memberikan triknya dalam membuat kue kering, kepada sang menantu.


''Kelihatan ribet yah Bunda, tapi kalo udah paham cepet buatnya, kayak sekarang'' ujar Anaya apa adanya.


''Iya sayang. Kamu mau cetak bentuk apa? Nih pilih sendiri'' Merina menyerahkan wadah cetakan ukuran mini kepada Anaya, disana terdapat banyak jenis bentuk dalam cetakan. Tetapi Anaya memilih dua diantara banyaknya pilihan, yaitu bentuk hati dan A.


''Ini aja Bunda'' seru Anaya


''Dasar bucin'' ledek Merina dengan senyum manisnya.


''Ha ha ha'' tawa mereka terdengar sangat bahagia. Merina dan Anaya mulai mencetak adonan kue kering tersebut, mereka terlihat sangat kompak dan jeli dalam membuat kue tersebut.


Tanpa mereka sadari. Kedua laki-laki yang sangat berharga dihidup mereka, kini tengah tersenyum hangat melihat keharmonisan antara mertua dan menantu tersebut.

__ADS_1


__ADS_2