
Alvin pergi kerumah Galih seorang diri tanpa di temani orang lain. Ketiga temannya dia tugaskan untuk menjaga Alice di rumahnya saat dia pergi hari ini.
Alvin tidak akan sembunyi-sembunyi lagi tentang rasa tidak sukanya di hadapan Galih. Jika itu sudah menyangkut pada keselamatan gadisnya apapun dan siapapun akan dia lawan sendiri dengan tangannya.
''Permisi Tuan. Di luar ada Tuan Sagara ingin bertemu dengan anda'' ucap Antonio pada atasannya.
"Alvin? Dari mana anak itu tau aku di sini'' Galih mengerutkan keningnya sebelum dia berucap lagi.
''Suruh saja anak ku masuk, Anton. Kenapa kau masih tanya soal hal itu''
''Baik Tuan''
Antonio segera menemui Alvin di ruang tamu.
''Silahkan Tuan Alvin. Beliau ada di dalam''
''Hm''
Alvin segera menerobos masuk kedalam ruangan Galih lalu mengunci pintunya tanpa sepengetahuan Galih atau pun Antonio.
''Hoo.. siapa yang datang ini, hallo my Son. How are you, hm?'' seru Galih dengan wajah keduanya.
''Cih… I'm Fine'' balas Alvin malas. Galih menatap Alvin dengan tatapan berbeda kali ini.
''Ada apa dengan anak ini?''
''Dari mana kamu tahu kalo aku ada di indonesia Alvin? Ah, lupakan saja. Ada urusan apa kamu kesini boy?'' selidik Galih.
''Saya gak suka berbasa-basi. Saya kesini untuk memberi peringatan pada anda Tuan Galih yang terhormat.''
''Jangan pernah anda berpikir dua kali untuk mencelakai gadis saya. Jika anda masih melakukannya, saya tidak akan diam saja. Saya pastikan anda akan menerima hasil dari pemberontakan saya''
Alvin menatap tajam pada Galih, sehingga mampu membuat Galih sedikit takut dan bungkam saja.
''Saya gak pernah main-main dengan kalimat saya. Anda mungkin lebih tahu bagaimana sikap saya bukan?''
''Anak ini, kenapa dia tahu aku dalang dari penculikan itu? Apa dia punya orang yang ahli dalam perlindungan dan peretasan? Sialann'' batin Galih
''Tenang dulu Alvin. Kenapa kamu datang dan langsung marah-marah seperti ini, juga menuduh ayahmu ini, hm?'' ucap Galih masih mencoba membodohi Alvin.
Alvin tersenyum sinis pada Galih, dia mengeluarkan pistol setelah mata elangnya menangkap pergerakan Galih yang bergerak pelan membuka laci mejanya.
''Jangan main-main dengan saya. Sebelum anda menodong saya, lebih baik berpikir dua kali.''
__ADS_1
''Sial! Anak ini bukanlah orang biasa dan tak sebanding dengan aku''
''Al. Kamu jangan begini? Hanya karna gadis itu, kamu sampai berani berbuat tidak sopan seperti ini terhadap saya.'' Galih tidak bisa berkutik saat moncong pistol milik Alvin tepat di tengah keningnya.
''Cih, jangan ganggu Alice. Atau nyawamu berada dalam genggaman saya. Paham!'' Alvin menatap remeh pada Galih dan menyimpan kembali pistolnya.
''Saya permisi. Hanya itu yang mau saya sampaikan pada anda Tuan Galih'' Alvin membuka kunci pintu ruangan Galih dan segera pergi dari sana.
Galih sampai syok melihat hal yang di lakukan Alvin itu, bagaimana bisa anak asuhnya itu sangat cekatan dan cerdik.
Hey! Jangan lupakan bahwa Alvin seperti itu juga atas didikanmu sendiri bukan? Dirinya sendiri pun sampai tidak paham dengan sifat Alvin dalam menjalankan misi. Pantas saja begitu, karna selama ini dia hanya terima beres saja dari Alvin, saat memerintah Alvin untuk bergerak membasmi para musuh dan pesaingnya.
Prang …
Brak …
''SIAL! Aaaaaa. Kurang ajar'' Galih berteriak marah sampai Antonio berlari masuk kedalam ruangannya, guna memastikan keadaan Tuannya baik-baik saja.
''Anda kenapa berteriak Tuan?'' tanya Antonio panik.
''Ah, tidak apa-apa Anton. Kamu keluar lah dulu'' jawab Galih tidak ingin di ganggu.
''Baiklah Tuan'' Antonio terus saja berpikir ada apa dengan Tuannya itu. Setelah Alvin keluar dengan aura dingin miliknya dari ruangan Galih, di saat itu juga Galih berteriak dan mengumpat.
Bahkan keadaan ruangannya sedikit berantakan saat Antonio masuk dan melihatnya tadi.
Sedangkan Alvin keluar dari tempat Galih dengan hati yang lega serta senyum yang puas. Dia akhirnya dapat menunjukan siapa dia sebenarnya pada Galih, meski setelah ini masalah pasti akan datang secara bertubi-tubi.
''Gue gak akan lagi mau di perbudak sama Tua bangka itu, gue sudah putuskan apapun resikonya nanti, dan gue siap melawannya'' batin Alvin berceloteh.
...****************...
Di rumah Nanda. Kini Agatha tengah memantau pergerakan Alvin yang tengah berada di tempat Galih.
Dia di temani Marco hari ini, yang kebetulan sedang berkunjung kerumah Nanda.
''Noh dia udah balik lagi kayaknya Tha.'' seru Marco yang tengah memantau layar monitor di hadapannya.
''Coba kita putar ulang ucapan mereka tadi, penasaran gue. Kenapa sampai si Galih terlihat frustasi setelah kepergian Alvin.''
''Boleh Tha. Gue juga penasaran ini''
Agatha mencari titik di mana percakapan Alvin dan galih bermula..''Ini dia'' segera Agatha memutar kembali rekaman tersebut setelah dia menemukannya.
__ADS_1
Dengan tenang mereka mendengarkan isi dari pembicaraan itu, hingga sampai di mana Agatha menggeleng dengan raut wajah senang dan bangga.
''Ini baru adek tampan gue. Good Boy, Alvin memang tidak ada duanya'' pekik Agatha sambil berdiri.
''Gak kebayang sih tuh muka Si Galih pucatnya kayak apa, apalagi pas tahu Alvin sebenarnya gimana. Ha ha'' Marco tergelak diakhir kalimatnya.
Cklek ….
Pintu di buka oleh pemilik rumah sembari membawa minuman serta cemilan di tangannya.
''Napa lo?'' tanya Nanda saat dia ikut masuk dan bergabung di sana.
''Nih Bos dengerin sendiri dah'' Agatha menyodorkan laptopnya kehadapan Nanda.
Nanda mendengarkan pembicaraan Alvin dan saat itu juga sudut bi birnya terangkat keatas.
''Gue tebak, lo juga bangga kan sama Alvin, Bos? Tuh anak emang the best dah pokoknya'' ucap Agatha yang melihat senyum Nanda terbit.
''Alvin memang anak yang tidak bisa di remehkan, gue aja yang ahli beladiri di kalangan sana, dapat kalah dengan mudah sama Alvin'' timpal Marco
''Beri kelonggaran buat mereka, agar identitas kita dapat di terobos. Kita lihat bagaimana sampah itu memohon pada kita nantinya'' titah Nanda pada Agatha
''Ok Bos.'' sahut Agatha ringan.
''Tapi jangan semua, cukup mereka tahu saja kalo Gue pemilik perusahaan itu. Keamanan Naomi dan yang lainnya tetap harus di jaga rapat-rapat.''
''Gue juga tahu Bos, lo tenang aja. Selama ada gue dan Atala semua beres pokoknya.'' cetus Agatha dengan senyum lebarnya
''Tuh anak juga pantes di acungin jempol sih, main IT nya bagus juga selama ini'' sela Marco memberi penilaian pada Atala.
''Oh jelas harus, dia apik banget dalam pasal melindungi data'' cetus Agatha membanggakan Atala.
''Ok, gue keluar dulu. Butuh apa-apa ambil sendiri aja''
''Lo mau kemana Bos?'' tanya Agatha
''Ke kantor dulu, gue udah seminggu gak liat tuh perusahaan''
''Pan gue kemarin malam dari sono Bos. Semua aman kok, gak ada yang kekurangan dan komplain''
''Gue gak bisa kalo belum liat sendiri''
''Terserah dah''
__ADS_1
''Hm''
Nanda bergerak keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Agatha dan Marco di sana.