
Air mata Alice terus saja meluncur membasahi pipinya. Saat tangan Luwis terus saja mengusap rambut hingga lehernya.
''Masih berharap kekasih loe datang, heh?'' Yuri berucap remeh yang mana dia terus mendekatkan kamera kecilnya pada wajah Alice.
''Gue akui, tubuh loe benar-benar bagus. Pantes Alvin sama ketiga temennya nempel terus sama loe. Semalam berapa kali loe di gilir sama mereka ber empat?'' Lanjut Yuri dengan hinaan nya. Mungkin dia iri pada tubuh Alice yang memang mulus dan body goals.
''Dia gak mungkin datang lebih baik kita bersenang-senang sekarang'' Tangan Luwis mendorong kepala bagian belakang Alice supaya makin dekat dengan wajahnya.
Luwis menghirup aroma yang begitu memabukkan dari kulit leher Alice dan membuat hasrattnya makin bergejolak.
''Loe jangan nangis terus dong, sayang. Gue janji akan membuat malam ini malam yang penuh dengan jerit kenikmatan.''
Alice tidak bisa mengeluarkan jeritan ataupun suara lagi, karna mulutnya sudah kembali di lakban oleh Luwis.
Alice hanya bisa tersenyum, senyum yang menyedihkan.
Terlihat Yuri tersenyum puas penuh kemenangan tanpa ada rasa kasian. Malah dengan teganya dia merekam aksi Luwis yang akan berbuat asusila terhadap Alice.
''Alvin''
''Tuhan ku''
''Tolong aku Tuhan''
Tangan Luwis sudah mulai meremas belakang rambut Alice dan memberikan kecupan di tengkuk leher yang mulus putih bersih itu.
Tok
Tok
Tok
''Ck!''
Yuri berdecak kesal saat ada seseorang yang mengetuk pintu begitu keras, dan membuat perekaman aksi Luwis yang tengah memberikan tanda di tengkuk leher Alice terhenti.
''Tuhan'' lirih gadis itu dengan perasaan lega yang tiada tara. Namun begitu tangisnya makin menjadi karna rasa sesak di dadanya.
Pelecehan ini mungkin akan menjadi pengalaman yang sangat buruk bagi Alice. Bagaimana dengan teganya Yuri merekam aksi teman nya yang akan menggagahi Alice. Bukan hanya itu saja, di dalam ruangan itu juga terdapat empat pria lain yang menunggu giliran. Membanyangkan nya saja sudah mampu membuat mental Alice terganggu dan jatuh hingga ke dasar terendah.
''Ada apa?'' sentak Yuri pada orang yang dia utus untuk berjaga-jaga di area luar.
''Itu di luar ada-''
''Cepat ngomong'' bentak Yuri kesal.
Pria yang menjadi suruhan Yuri itu melangkah maju dan membisikan sesuatu yang mampu membuat mata Yuri melotot.
''Dari mana dia tahu keberadaan pacarnya'' geram Yuri dengan gejolak takut.
''Alvin'' gumam Alice, gadis polos itu makin menangis hebat saat mengetahui penolongnya telah datang dengan tepat waktu.
Tuhan nya telah mendengar do'anya. Dan mengirimkan Alvin kekasih yang begitu dia cintai telah datang untuk membalaskan rasa takut dalam dirinya.
''Siapa yang datang'' tanya Luwis serius.
''Pacarnya'' balas Yuri
__ADS_1
''Kenapa bisa bajingan itu mengetahui keberadaan kekasihnya?!'' desis Luwis yang terlihat kesal.
''Mungkin ada seseorang yang melihat aksi penculikan kita tadi siang, Bos'' ucap bawahan Luwis dengan sangat ketakutan.
''Siaal! Bagaimana sekarang Yuri? Gue gak mungkin sanggup lawan Alvin'' Luwis bertanya sambil memundurkan langkahnya untuk mengambil pakaian bagian atasnya yang sempat dia buka.
''Jumlah kita kan banyak, mereka paling cuma berempat. Masa loe gak sanggup lawan mereka sih'' ujar Yuri enteng.
''Seratus orang aja bukan apa-apa bagi Alvin. Gue tau banget gimana bringasnya dia apalagi saat keadaan marah'' jelas Luwis yang sudah mencari cara untuk kabur.
''Serius?''
''Tch! Terserah kalo loe gak percaya. Loe siapkan mobil dari arah belakang untuk kita kabur'' titah Luwis pada bawahannya.
''Bai–''
Brak ….
Ucapan nya terpotong begitu pintu ruangan tersebut di dobrak sampai hancur dari arah luar.
''BANGSATT! LOE APAIN MILIK GUE SIAALAN?!''
Yuri dan Luwis tertegun saat seorang pria tampan dengan ketiga teman nya sudah berada di hadapan mereka.
Mata Alvin menajam sempurna saat menangkap sosok gadis dengan keadaan terikat serta pakaian sobek dan rambut acak-acakan di perlakukan secara tidak manusiawi. Kancing seragam yang terlepas beberapa makin membuat amarah Alvin memuncak.
''SIALANN! LOE MAU MATI, HAH? SETAAN GUE BUNUH LOE SEMUA''
Alvin langsung menerjang tubuh Luwis hingga terhembas jauh ke lantai. Lalu dengan kuatnya Alvin menginjak perutnya hingga Luwis terbatuk dan sedikit mengeluarkan darah.
Melihat hal itu membuat Yuri ketakutan setengah mati, dia ingin keluar tanpa terlibat saat ini.
''Loe urus cewek Siaalan itu Tala'' titah Abi. Atala langsung mencekal kuat-kuat tangan Yuri hingga wanita itu meringis.
''Lepas'' Yuri berontak namun tidak di hiraukan oleh Atala.
''DIAM!'' sentak Atala garang.
''Sampai tahap mana loe nyentuh pacar gue, hah?'' desis Alvin yang kini ada di atas tubuh Luwis.
Luwis berdengus sebal saat dengan mudahnya dia di lumpuhkan oleh Alvin. Orang yang sempat menjadi rivalnya di sekolah lamanya dulu.
''Yang jelas gue udah berhasil melece– akkhhh''
Kreak …
''Aaaaa ..''
Alvin dengan ringan nya mematahkan pergelangan tangan Luwis hingga tidak dapat di gerakan lagi.
Alvin mengeluarkan pisau lipat kesayangan nya dan di eluskan pada area mulut Luwis.
''Loe masih ingat kan cara gue bunuh sodara loe?'' bisik Alvin tersenyum miring. Luwis melototkan mata di sela-sela ringasan nya.
''Jadi bener, loe yang udah bunuh Maxim'' sentak Luwis
''Yah! Loe pikir apa? Hanya orang bodoh yang mau mengakhiri hidupnya sendiri, semua orang takut mati termasuk elo.''
__ADS_1
''Bajingaan! Mati saja kau bedeebah.'' Luwis berusaha melawan Alvin di sisa tenaganya.
Krekk …
Alvin mematahkan tangan Luwis yang masih sempurna, hingga menyusul patah seperti yang tadi.
Kreaak …
Brug ….
Dugh …..
Alvin menghempaskan tubuh Luwis hingga terbentur hebat pada dinding beton. Lalu dengan santainya menjambak rambutnya hingga lagi-lagi Luwis mengerang kesakitan.
Krokk ….
Crattt …
Tuntas sudah kehidupan Luwis saat Alvin dengan ringan nya merobek mulut Luwis dengan pisau hingga menganga dan patah rahangnya.
Yuri sampai menutup mulutnya merasa tidak percaya dengan apa yang dia saksikan. Dia pikir aksi tersebut hanya berada di dalam cerita fiksi saja, tapi ini realita di depan matanya sendiri.
Brugh …
Tubuh Luwis yang sudah tidak bernyawa terkulai di lantai dengan darah yang mulai membanjiri mayatnya.
Alvin tersenyum miring dan menghampiri Yuri yang tengah di cekal oleh Atala. Lalu dia menerkam kedua sisi pipinya dengan begitu dalam.
''Loe tahu hukuman apa yang pantes bagi orang yang berani sentuh atau usik milik gue''
''Sshhh''
Cengkraman tersebut makin kuat hingga menimbulkan bekas merah di sana.
''Dia harus mati! Dan loe pantas untuk mati'' lanjut Alvin dengan menghempas kuat wajah Yuri.
Alvin lalu berlari ke arah kekasihnya yang lebih membutuhkan dirinya saat ini. Hati Alvin sakit bagai di tusuk ribuan panah, melihat keadaan gadis yang dia cintai setengah mati sangat lah memperihatinkan.
''Sayang'' Alvin segera membuka ikatan tali serta lakban yang menempel di mulut kekasihnya itu hingga membuat tubuh Alice terjatuh kepelukan nya.
''Maaf'' kata yang tidak pernah keluar dari mulut Alvin, kini dengan ringan nya terlontar. Tubuh Alvin bergetar hebat saat ini saat merasakan hawa dingin di tubuh kekasihnya.
Alvin mana pernah merasa bergetar selama ini, seberat dan setangguh apapun lawan nya kaki serta tubuhnya tidak pernah bergetar. Tapi, kali ini lain lagi hidup Alice yang menjadi pusat titik lemah seorang Alvin.
''Sayang. Ini gue, Alvin'' Alice masih tidak bergeming bahkan pandangan matanya kosong kedepan. Hanya air matanya saja yang meluncur cepat tanpa bisa di larang.
Alvin menggapai jari jemari dingin Alice untuk dia kecup. ''Alice. Maafin gue Lis. Gue gagal jagain loe. Maaf sayang'' lolos sudah satu bulir bening dari nerta hitam legam dan itu sangat luar biasa bagi orang yang sudah lama mengenal Alvin.
Terakhir Alvin menangis saat dia di tinggalkan kedua orang tuanya di umur yang masih kecil. Dan kini terjadi lagi saat melihat kekasih hatinya yang malang.
Alice menggulirkan bola mata yang di penuhi air mata tersebut pada wajah Alvin.
''Alvin'' lirih Alice
''Iya sayang. Gue di sini''
''Takut Al. Mereka jahat, hiks hiks''
__ADS_1