
''Sial! Alvin memang bukan anak yang bisa di sepelekan. Dia dengan cepat dan mudahnya menemukan gadis itu.'' desis Galih yang murka mendapat laporan tentang kematian Luwis dan juga Yuri.
Tunggu!
Luwis dan Yuri?
Ada hubungan apa Galih dengan mereka berdua?
''Maaf Tuan Galih. Salah saya yang telah teledor, tidak tahu jika gadis itu memakai kalung yang sudah dilengkapi dengan GPS'' sahut Antonio tertunduk dan siap jika dia harus merasakan pukulan telak dari atasannya.
Galih melihat bawahannya dengan tatapan tajam, jujur dia ingin sekali memukul Antonio. Tapi, itu tidak akan merubah keadaan saat ini.
''Sudah lah, lupakan saja. Bagaimana persiapan untuk pelelangan batu Rubby itu Anton? Apa kamu sudah berhasil mencari tahu tentang pemilik perusahaan besar itu?''
''Maaf Tuan, saya belum menemukannya. Sistem yang dia pakai sangat sulit untuk di terobos, mungkin dia menyewa orang yang benar-benar Ahli dalam hal perlindungan data'' tutur Antonio sopan. Galih terlihat biasa saja dan hanya menggut-manggut di atas kursi singgle.
''Persiapan kita bagaimana?'' tanya nya lagi.
''Aman dan sudah siap Tuan'' jawab Antonio tegas.
''Bagus. Pastikan lagi dengan baik, dan tolong kamu hubungi keluarga Luwis agar tidak mencari Luwis lagi mulai dari sekarang. Katakan saja Luwis hilang tanpa jejak. Lagipula jika dicari pun, mayatnya tidak akan pernah ketemu bukan. Alvin tidak akan setengah-setengah dalam bertindak.'' titah Galih ringan
''Baik Tuan. Bagaimana dengan keluarga gadis malang itu Tuan?'' jawab Antonio mengerti dan menanyakan tentang keluarga Yuri.
''Biarkan saja. Toh dia anak yang tidak diinginkan di rumahnya, dia saja yang bodoh mau mengikuti permainan yang ku buat ini'' ucap Galih tidak peduli.
Antonio mengerti dan pamit keluar pada Tuannya itu. Dia harus tetap siaga menjelang rencana besar yang akan dia dan Tuannya ikuti.
Luwis dan Ares berteman sangat dekat dulunya. Namun setelah dia mendengar rumor tentang Alvin yang sudah membunuh kakak kandungnya, dia hilang respect pada Alvin dan juga Ares. Padahal kakaknya Luwis tiada, itupun atas perintah dari Galih, dan berimbas besar pada Alvin.
Hingga dia kembali bertemu dengan Luwis di jakarta dan menawarkan kesepakatan yang banyak menguntungkan Luwis. Dengan kelihaian dalam bicaranya, Galih berhasil membawa Luwis ke api neraka sebelum waktunya.
Galih menawarkan jika Luwis berhasil membuat gadis yang di cintai Alvin menderita apalagi sampai tewas. Dia akan Galih angkat menjadi anak buah kesayangannya, dan menyingkirkan Alvin melalui kekuasaannya. Bukan hanya itu saja, keluarga Luwis juga akan di kucuri dana setiap bulannya dengan jumlah besar oleh Luwis. Tentu saja Luwis mau dan tidak berpikir dua kali untuk menerima tawaran dari Galih itu.
__ADS_1
Sedangkan Yuri hanyalah gadis malang yang di manfaatkan oleh Galih. Di iming-iming hadiah berupa fasilitas mewah saja, gadis itu langsung masuk kedalam perangkapnya. Mungkin karna rasa iri dan ingin terlihat lebih mencolok dari yang lain, dia sampai tidak tahu siapa Alvin dan Galih.
...****************...
Di posisi Alvin dan ketiga sahabatnya. Setelah mereka selesai berdiskusi tentang pelelangan yang akan datang dalam waktu dekat ini, kini mereka tengah berada di rumah Alice.
Gadis mungil kesayangan Alvin itu sudah kembali pulang kerumahnya, setelah satu malam menginap di rumah Naomi.
Alice langsung beristirahat sesuai perintah dari Alvin, sebelum Alvin bertemu dan berkumpul bersama para sahabatnya dilantai bawah.
''Jadi, si Tua itu yang bermain di balik peristiwa penculikan Alice Vin'' terang Abi mewakili kedua temannya.
''Loe yakin Bi?'' tanya balik Alvin masih sedikit ragu.
''Ck. Kapan gue suka bercanda kalo lagi sama laki-laki, apalagi ini masalah serius Vin. Kalo sama cewek baru gue suka bercanda, hi hi'' ucap Abi dengan kekehan kecilnya.
''Si anying gaya loe kayak lagi berenang aja, banyak gaya tau gak!'' sentak Aiden ketus.
''Biarin aja lah, tuh Monyet mau kata apa Den. Gak ada faedahnya juga kita ladenin, udah kita fokus aja sama pembicaraan kali ini'' sahut Atala membela Aiden dan memojokkan Abi.
''Tch! Masih dendam aja loe ama gue Tala. Orang gue gak sengaja bolongin kolor loe malam itu, elah…'' sungut Abi malas.
''Kolor? Jelasin sama gue Bi, kronologi pasal kolor Atala.'' desak Aiden ingin tahu. Atala yang mendengar itu segera bangkit guna membekap mulut Abi.
''Suut! Diem kagak nih moncong. Gue tempeleng juga loe kalo berani bicarain itu sama Aiden. Atau lo gak bakal gue kasih nginep lagi'' ancam Atala yang membekap kuat-kuat mulut Abi. Sampai Abi terlihat terengah karena tidak bisa bernafas.
''Emhh. Emmhhppt'' Abi berontak meminta tolong.
''Eh, kuyukk! Lepasin tangan loe setaan. Meningoy ini anak orang, elo juga yang ribet tanggung jawab. Syukur-syukur si Abi mayat nya gak gentayangan kemana-mana ntar. Lah kalo gentayangan kan gak epic anjirr'' celetuk Aiden yang menepuk-nepuk tangan Atala yang masih setia naplok di mulut Abi.
Mendengar apa yang di lontarkan oleh Aiden. Dengan cepat Atala menyingkirkan tangannya dari mulut Abi.
''Hah… Hah . Hah''
__ADS_1
''Bangkee, loe. Sesak napas ini gue, perlu CPR dari cewek bening, mulus, sexy, cakep dah pokoknya. Cariin sana sebelum gue pingsan'' bentak Abi setelah nafasnya kembali normal.
''Dihh! Dasar Rojali'' cetus Atala malas.
''Udah, bercanda yah?'' tanya Alvin dengan muka datar dan tatapan dinginnya.
Ketiga sahabatnya melihat kikuk dan canggung pada Alvin.
''Elo sih'' bisik Aiden pada Atala dan Abi.
''Elo juga mancing-mancing tadi, anjirr'' balas Abi tak mau kalah.
''Moncong loe yang ember, Rojali'' timpal Atala.
Mereka tidak mau kalah dalam hal sepele itu. Alvin sampai memijat pelipisnya menahan pening dan kesal yang mulai melanda jiwanya.
''LOE BERTIGA MILIH DIEM SENDIRI ATAU GUE BUAT DIEM UNTUK SELAMANYA'' teriak Alvin dengan pisau yang sudah dia pegang erat.
''Ampunn! Alvin'' jerit mereka bertiga yang sudah duduk dengan sigap dan benar diatas kursinya masing-masing.
Alvin menarik sedikit sudut bibirnya keatas. ''Kalo loe bertiga kembali berisik,gue gak akan segan buat kalian berkenalan sama pisau gue ini. Ngerti'' tekan Alvin yang di jawab anggukan kepala oleh mereka bertiga.
''Kembali lagi pada topik awal. Atala jelaskan tanpa bercanda'' titah Alvin tegas. Padahal dia juga tidak serius dengan kalimatnya tadi, tapi sahabatnya sudah sangat tegang dan canggung terhadapnya.
''Iya, Vin. Mereka semua di utus oleh Galih, buat celakai Alice. Dia juga berusaha membobol keamanan Bang Nanda sebagai pemilik perusahaan besar di kota ini'' terang Atala dengan wajah serius seperti yang di minta oleh Alvin.
''Bener, para cengunguk yang kita buat babak belur semalam yang bilang, Vin.'' timpal Abi.
''Si Luwis juga temen Ares di luar negri katanya, makanya dia mau di suruh sama tua bangka itu'' cetus Aiden.
''Iya, gue tau. Dia juga dulu deket banget sama gue'' ucap Alvin tersenyum miring.
''Kok dia mau lakuin itu sama loe Vin?'' tanya Aiden.
__ADS_1
''Bodoh! Dia ngira gue bunuh abangnya dulu atas dasar kemauan gue sendiri. Padahal Galih yang suruh gue waktu itu. Cih, menggelikan'' ujar Alvin sedikit menjelaskan.
''Ohh! Begitu'' keyiga sahabat Alvin paham dan mengerti dengan kata 'Bodoh' yang Alvin sematkan untuk Luwis.