Kekasih Ku (Psikopat`s)

Kekasih Ku (Psikopat`s)
Merasa dipermainkan


__ADS_3

Tiga pria remaja tampan tengah asyik menenggak minuman yang mengandung alkohol kadar tinggi, mereka seolah ingin melampiaskan beban hidupnya lewat minuman tersebut.


Terhitung ada tiga botol minuman yang sudah kosong diatas meja, asap rokok begitu pekat memenuhi ruangan itu, namun mereka sama sekali tidak merasa terganggu dengan asap tersebut.


''Udah ada 6 orang yang kita curigai, dan hasilnya tetap zonk. Mereka semua hanya mirip saja kan?'' Ujar salah satu dari ketiganya. Mungkin dia merupakan ketua dari kedua orang itu


Dia terlihat sangat frustasi saat ini, apalagi setengah jam yang lalu, dia kembali mendapat telpon dari ayahnya yang terus bertanya tentang kinerjanya selama hampir satu minggu ini.


''Tapi bokap loe bilang, kita gak boleh kembali sebelum menemukan kebenaran tentang sinyal itu Res'' Sahut temannya


''Iya. Gue tau, tapi kita mau cari orang yang kayak gimana lagi? Mungkin Marco yang asli udah beneran mati. Dady gue aja yang parnoan, Alvin aja sampe bingung ngatasin masalah ini, apalagi kita coba'' Ucapnya kesal


''Meski begitu, kita gak ada pilihan lain lagi Res, mau gak mau kita harus ikuti apa yang bokap loe mau. Atau loe akan kena masalah nantinya'' Ujar temannya Ares, sebut saja Cello.


''Loe bener Cell. Oyah! Loe udah hubungi Vito lagi?'' tanya Ares.


''Udah! Dia bilang, ada satu orang yang Vito curigai lagi, malam ini dia suruh kita buat kesana'' Terang Cello


''Ok, kita berangkat sekarang gak Res?'' sahut teman Ares yang bernama Ben.


''Okelah, yuk cabut'' Ucap Ares yang sudah berdiri dari duduknya, dan segera pergi dari klub malam tersebut, diikuti oleh Cello dan Ben.


...****************...


''Kemana orang itu perginya Vito?'' Seru Ares dengan napas yang tersenggal, akibat terus berlari mengejar orang yang diyakini memiliki sinyal seperti yang dikatakan Galih.


Didepannya terdapat jalan yang bercabang, jelas itu mampu membuat Ares sedikit kebingungan.


''Dia lari kearah kanan Res, ayok kita kejar lagi. Biar Cello dan Ben cegat dia dari arah kiri'' Vito mengarahkan dan memberi saran. Semua orang yang ada disana mengangguk mengerti, segera Ares berlari kearah kanan sesuai yang diucapkan oleh Vito. Sebelum dia kehilangan jejak orang itu terlalu jauh


Ares dan Vito terus berlari kearah kanan, didepan sana mereka melihat ada sekelebat bayangan.


''Itu dia'' Seru Vito


''Woyy, berhenti gak loe'' teriak Ares begitu lantang sembari terus mengejar bayangan tersebut.


Sedangkan dari arah kiri, Cello dan Ben juga melihat hal serupa, bahkan bayangan nya ada dua.


''Loh! Kok ada dua orang Ben? Yang kita kejar yang mana?'' Ucap Cello bingung, sebab saat ini mereka tengah berada digang tikus yang banyak cabangnya. Sudah bagaikan berjalan didalam labirin saja mereka saat ini


''Entah gue juga bingung ini. Gini aja, loe kejar yang lari kesana gue kejar yang lari kearah situ'' Ujar Ben memberi perintah.


''Ok'' Jawab Cello setuju


Mereka pun kembali melanjutkan aksi kejar-kejaran tersebut, terhitung banyak waktu yang mereka habiskan hanya untuk mengejar bayangan itu.


Hingga Ben dan Cello bertemu muka dengan Vito disatu arah.


''Loh kok kalian sih, orang yang gue kejar tadi kemana?'' Ucap Vito sedikit heran dan lelah tentunya. Bayangkan saja mereka berlari mengejar orang yang tidak tahu kemana perginya saat ini, mereka seolah tengah dipermainkan oleh bayangan tersebut. Atau memang mereka sengaja dipermainkan saat ini? Tapi apa tujuan nya coba.

__ADS_1


''Gue juga lagi kejar bayangan tuh orang, ada dua malahan. Iyan kan Ben?'' Ujar Cello menjelaskan


Raut wajah Vito nampak keheranan dengan pikiran yang melanglang jauh, seolah dia sudah mengingat sesuatu.


''Kok gue ngerasa ada yang janggal yah? Kayak direncain gitu iya gak sih, gak mungkin ini suatu kebetulan kan'' Ujar Vito


''Gue juga merasa gitu Vit, mereka kayak sengaja bikin kita bingung'' Sahut Cello


''Bener! Si Ares ada dimana Vit? Bukan nya dia sama loe tadi'' Tanya Ben, yang mengingat jika Ares tidak ada bersama mereka saat ini.


''Tadi sih iya, cuma gue berpencar sama dia buat kejar target masing-masing. Bukannya berhasil malah ketemu sama kalian disini'' Terang Vito apa adanya.


''Yasudah, kita cari Ares dulu kalo gitu'' ucap Cello yang merasa khawatir terhadap ketuanya itu.


Mereka bertiga pergi dengan satu arah tujuan, bermaksud ingin mencari Ares. Tanpa mereka ketahui jika Ares saat ini sudah dibawa oleh seseorang kejalan utama dipinggir kota.


Disana Ares sudah dihadang oleh seseorang yang tidak dia kenal, pasalnya orang yang menghadang Ares mengenakan sebuah topeng. Jadi Ares tidak bisa mengenali ataupun melihat wajah dari orang tersebut.


Begitupun dengan ketiga teman nya Ares, mereka saat ini juga tengah dihadang oleh orang yang misterius.


''Siapa kalian?'' Seru Vito kepada tiga orang yang menghadang perjalanan nya mencari Ares.


''Kamu nanya? Hi hi'' Sahut seseorang yang tengah memantau pergerakan mereka.


Hening! Tidak ada jawaban dari ketiga orang itu..


''Elo yang budeg, gue kan udah jawab buat wakilin mereka'' kembali suara itu terdengar ditelinga mereka, tapi tidak dengan teman-teman nya Ares.


Namun! Tidak ada yang berubah, mereka tetap diam membisu ditempatnya. Hingga Cello, Ben dan Vito naik darah dibuatnya.


''Cuih. Kalian cari ribut kalo gini caranya'' Ujar Ben yang sudah menyiapkan tinjunya erat-erat sekarang.


''Hajar'' Instruksi Vito


Kyat. Dugk. Bugh


''*nj*ng loe'' Umpat Cello kala lawan nya berhasil memukul hidungnya hingga berdarah. Tidak merespon, lawan nya hanya tersenyum remeh dibalik topeng yang dia kenakan.


Bukh.. Brak..


Mereka saling memukul dan menghindar, tidak ada yang mau mengalah dalam pertarungan ini.


Hingga dengan tiba-tiba, orang yang memakai topeng itu memberikan kode pada kedua teman nya. Dia menyuruh mereka untuk segera pergi dari sana.


''Woy, pengecut! Mau kemana loe s*t*n?'' teriak Vito marah, karna dengan tiba-tiba lawan nya pergi begitu saja tanpa menyelesaikan pertarungan nya.


''Kejar mereka'' Titah Vito kembali


''Ayok'' jawab Cello dan Ben kompak. Mereka berusaha mengejar tiga orang yang telah menghadangnya itu.

__ADS_1


...****************...


''Psikopat gil*, gue gak ada masalah sama loe. Lepasin gue *nj*ng'' Teriak Ares begitu terdengar menyakitkan. Karna perutnya saat ini tengah dipermainkan oleh pisau kecil namun tajam milik psikopat itu.


Kenapa Ares tidak melawan nya? Jelas! Tangan nya diikat kuat menggunakan tali rapia yang ada dipinggir jalan, oleh psikopat tersebut.


''Suutt! Bisa gak loe diem aja, nikmati setiap goresan yang gue ciptain diperut berotot loe ini'' Ucap Pria yang disebut psikopat oleh Ares itu, secara ringan.


''Aaaaa. B*ngs*t! '' Umpat Ares yang tidak tahan dengan setiap tusukan kecil namun dalam yang diciptakan oleh orang itu.


Tubuhnya sudah dipenuhi dengan darah segar, yang keluar dari area perutnya.


''Udah yah bos, giliran Alvin yang beraksi. Kasian dia, ntar mati lagi berabe jadinya'' sebuah suara tiba-tiba terdengar dari alat komunikasi yang digunakan pria bertopeng itu.


''Ck'' decaknya sedikit kecewa, pasalnya dia saat ini tengah menikmati hal tersebut.


''Ntar ada jatah buat loe bos, sekarang lepasin dia secara sukarela, karna sebentar lagi Alvin bakalan dateng kesana buat selamatin dia'' ucapnya lagi.


''Hm'' ucapnya terpaksa. Tidak lama terdengar suara deru motor yang sangat dia kenal.


Brummmm.... Brumm...


''WOY!'' pekik Alvin setelah mematikan mesin motornya, tanpa sungkan ataupun ragu, Alvin segera menerjang tubuh psikopat itu hingga terpental.


''Akhh. Sial'' desisnya marah. Diapun segera lari dari hadapan Alvin, tanpa melakukan perlawanan terlebih dahulu.


Alvin pun dengan sigap mengejar orang tersebut..''Jangan lari loe b*ngs*t'' teriak Alvin yang sudah bersiap untuk melayangkan tendangan nya kembali.


Brukk....


Orang itu tersungkur kala mendapat serangan dari kaki Alvin, dia memggeram tertahan saat merasakan sakit dibagian punggung nya.


Alvin tersenyum puas melihat orang itu terjatuh, lantas dia segera menghampiri orang itu dengan angkuh.


''Adek L*kn*t loe. Kenapa loe tendang punggung gue beneran s*t*n'' desisnya marah kala Alvin sudah berada dihadapan nya.


''He he. Biar dapet akting nya bang, biar dia juga percaya sama gue. Maafin yah'' ucap Alvin sembari cengengesan


''AS* loe! Awas kalo loe kejar gue lagi, malam ini loe yang gue mutilasi'' Ancam nya tegas.


''i-iya bang'' balas Alvin yang mulai merasa takut dengan tatapan tajam abangnya.


''Ha ha ha!. Drama apa ini miska? Aduh sumpah gue gak kuat *njir'' terdengar gelak tawa dari balik alat komunikasi mereka.


''Bacot loe Tha, gue bunuh juga loe lama-lama'' Desisnya kesal. Sembari terus berlari kearah yang lebih aman


Sedangkan Alvin sudah menggaruk kepalanya, dia merasa geli dan juga takut. Bagaimana jika kakaknya benar-benar marah padanya? Itu tidak boleh terjadi.


''Alvin'' teriak Ares yang menahan sakit. Alvin melihat kearah Ares dan segera berlari menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2