
''BERISIK! Loe bosen hidup, hah?'' sentak Alvin sembari menendang bangku yang sempat ditempati nya tadi.
Alice maupun Yuri terlihat syok dan terkejut, mereka sama-sama panik saat ini. Bedanya, Yuri panik karna tidak menyangka jika tatapan Alvin begitu menyeramkan dalam mode marah seperti ini, bahkan serasa membunuhnya hanya dengan tatapan matanya saja.
Sedangkan Alice, dia panik jika Alvin tidak bisa mengontrol emosinya sekarang, Alvin bisa saja mengulangi masa-masa keji saat dia bersekolah di luar negri dulu.
''Vin!'' bisik Alice yang masih menahan pergelangan tangan Alvin secara erat
''Dia kenapa serem banget sih? Gue kan jadi mati kutu'' batin Yuri meringis takut
''Tolong matikan ponsel kamu Yuri, sebelum Alvin membanting nya nanti'' ucap Alice lantang dan berani, dia saat ini harus menjadi gadis kuat dan tegar, karna jika tidak begitu Alvin pasti akan berbuat semaunya terhadap Yuri.
Tanpa menyahut apapun, Yuri mematikan ponselnya saat itu juga dan segera menyimpan nya didalam saku.
''Aku kira dia perempuan tangguh, yang tidak takut melihat tatapan tajam milik Alvin, Ternyata sama saja'' batin Alice yang menilai peraga dari reaksi Yuri saat ini, dan ketakutan tersebut jelas terlihat dimata Alice.
''Loe cewek T*l*l yang baru keluar rumah sakit jiwa atau gimana? Loe gak liat kalo gue lagi tidur, Si*l*n'' maki Alvin sangat kasar tanpa sedikit pun peduli dimana dia sekarang.
''Alvin sudah, aku mohon kontrol emosi kamu'' ucap Alice yang mulai merasakan kembali perasaan takut dan cemas itu.
''G-gue cuma putar musik karna gabut'' bakas Yuri dengan suara pelan. Jujur! Jika dia tahu Alvin sekeras dan sesinis ini terhadap wanita, dia tidak akan mau berbuat usil seperti tadi.
''Akkhhh'' teriakan tiba-tiba datang dari mulut Yuri
''Alvin lepaskan dia Vin'' pekik Alice saat tangan kekasihnya sudah berada dibelakang rambut indah milik Yuri.
''Jangan pernah loe cari masalah sama gue atau dia, kalo loe gak mau mati sebelum waktunya. Paham loe'' sentak Alvin berang dan tegas
''Ampun, gue minta maaf. Sakitt'' ringisan Yuri sama sekali tidak dihiraukan oleh Alvin, yang ada dia makin kesakitan karna Alvin menambah kekuatan nya untuk menjambak rambut Yuri.
''Alvin lepaskan dia Vin, atau aku gak akan mau bicara sama kamu selama tiga hari'' Alice mengajukan ancaman yang entah berhasil atau tidak
Alvin mengalihkan pandangan nya pada Alice tanpa melepaskan tarikan dirambut Yuri.
''Apa loe bilang?'' Alvin kembali bertanya dengan nada rendah.
''Waduh! Bagaimana ini?'' batin Alice kikuk.
''A-aku gak akan mau bicara sama kamu Vin'' ulang Alice meski tidak selantang sebelum nya, karna tatapan Alvin tengah menghunus tajam padanya saat ini.
''Untuk?'' desak Alvin lagi
''Untuk waktu tiga hari'' lanjut Alice yang juga mulai ketakutan apalagi Alvin sudah tersenyum miring, dan itu merupakan alarm bahaya segera datang dari seorang Alvin
Apa Alice akan dibunuh oleh Alvin, karna berani mengucapkan hal demikian? Ah! Itu tidak mungkin bukan.
''Mungkin selama ini gue terlalu baik sama loe Alice'' geram Alvin yang mana kini sudah melepas jambakan nya terhadap Yuri. Dan beralih menyudutkan Alice yang sudah terduduk kembali di bangku nya.
__ADS_1
''Kamu pergi sekarang, sebelum Alvin berbuat hal yang tidak di inginkan terhadap kamu'' titah Alice pada Yuri, yang mana langsung pergi tanpa mengkhawatirkan keadaan Alice saat ini.
Jelas-jelas saat ini Alice tengah dalam keadaan yang darurat bukan? Kenapa Yuri malah membiarkan nya saja, padahal Alice sudah berusaha menolongnya dari kemarahan Alvin.
''Alvin kamu mau ngapain?'' tanya Alice saat Alvin terus saja mengikis jarak diantara mereka.
Seketika bayang-bayang manis yang pernah dia dan Alvin lakukan untuk pertama kali, muncul kembali dikepala nya.
''Orang seperti dia yang harus gue bunuh'' bisik Alvin tepat didaun telinga Alice. Mata yang awalnya terpejam erat itu, kini terbuka lagi dengan sangat lebarnya.
''Kamu berniat buruk sama dia?''
''Kenapa?'' tanya Alvin
''Kesalahan dia tidak sebanding dengan hukum yang harus dia terima Vin, kenapa melampiaskan nya pada dia'' ucap Alice melayangkan protes
''Huh! Dia egois sayang'' ujar Alvin
''Belum tentu juga'' balas Alice
''Buktinya sudah jelas''
''Apa?''
''Dia dengan mudahnya meninggalkan loe didalam kemarahan gue, gimana kalo loe gue banting, gue cekik sekarang. Hm'' terang Alvin dengan senyum jahilnya.
''Kenapa senyum nya begitu?'' lanjut Alice merasa janggal.
''Mon tok! I like it'' ucap Alvin dengan kode mata yang dia tujukan kebawah. Alice pun mengikuti arah pandang tersebut, seketika matanya mendelik dan segera melindungi nya dengan gerakan cepat.
''Mesum!'' desis Alice sebal
''Ha ha, loe tutupin apa sih sayang, percuma ditutup orang gue udah lihat barusan, lama lagi'' ucap Alvin santai dan ringan
''Ih, nyebelin tau gak.'' sentak Alice judes
''Pulang yuk'' ajak Alvin kemudian. Alice kadang heran dengan perubahan alur pembicaraan kekasihnya itu, sangat cepat sekali mengalihkan nya.
''Mau ngapain? Memangnya pelajaran kedua juga kosong'' tanya Alice
''Mau minum susu, gue mendadak haus gara-gara lihat bungkusnya barusan'' balas Alvin ringan
''Bungkus susu? Perasaan gak ada sampah disekitaran sini deh, aneh-aneh aja kamu'' Alice sama sekali tidak mengerti akan kalimat yang Alvin lontarkan.
''Gue serius Alice'' tegas Alvin lagi
''Memangnya bungkus susu yang kayak gimana sih Vin, lagian dari tadi aku gak nemu bungkus susu disekitar kelas'' ucap Alice sedikit nyolot.
__ADS_1
''Ada tuh, posisi nya deket banget malahan'' Alvin terus saja membuat Alice bingung.
''Mana Alvin, mana?'' ucap Alice kesal
''Tuh! Dibalik seragam loe yang warna hitam itu, bukan nya itu bungkus susu anti tumpah andalan loe yah? Heran, betah banget pake gituan pas lagi sama gue'' jelas Alvin dengan senyum tengilnya.
''ALVIN. Dasar pria mesum, dan asal kamu tau yah, aku selalu pake ini jauh sebelum kita kenal. Jadi jangan asal bicara, memang nya aku ini perempuan apa'' teriak Alice dengan tingkat kemarahan yang tinggi.
''Oyah? Kalo boleh tau, sejak kapan pake nya?'' dengan santai nya Alvin menanyakan hal itu pada Alice yang tengah marah dan kesal.
''Waktu pertumbuhan pertama lah, kira-kira waktu umur aku 13 tahunan'' dan dengan bod*hnya Alice malah menjawab itu dengan jujur.
''Oh, pantes bulet dan padat yah'' ujar Alvin, yang langsung dapat pelototan mata dari Alice.
''Ih, nyebelin. Bete ah, kamu mah selalu bahas begituan'' Alice mencebik dan bersiap pergi dari hadapan Alvin.
''Mau kemana sayang?'' tanya Alvin
''Kelubang hidung'' balas Alice secara asal yang mana itu mampu membuat Alvin tersenyun tulus.
Sayang, keadaan hati Alice tengah tidak baik akibat ulah dari mulut Alvin, jika saja suasana hatinya sedang baik, mungkin kini dia sudah mengagumi senyuman langka milik kekasihnya itu.
...****************...
''Kakak, Naomi boleh minta sesuatu gak?'' seru Naomi pada suami tampan nya.
"Apa sayang'' tanya Nanda lembut.
''Emm. A-nu kak, i-tu'' Naomi terlihat ragu-ragu untuk mengucapkan nya.
''Katakan saja sayang, jangan ragu begitu'' desak Nanda
''Aku mau kakak jangan membunuh seseorang saat Naomi tengah mengandung, apa bisa kak?'' pinta Naomi takut-takut saat mengutarakan nya.
''Bukan nya kakak sudah melakukan nya sayang'' ucap Nanda
''Untuk kedepan nya kak, yang terlewat biarkan saja, Naomi hanya minta itu sama kakak'' tutur Naomi
''Bisa gak yah gue tahan itu, 9 bulan bukan lah waktu yang sebentar'' Nanda bertanya pada hatinya.
''9 bulan sayang?''
''Tepat nya lima bulan lagi kak''
''Huh! Mudah-mudahan bisa sayang, tapi kakak gak bisa janji, takut menyakiti hati kamu nantinya. Sebab masalah tidak ada yang tahu, bagaimana jika situasinya mengharuskan kakak untuk melakukan hal itu'' ucap Nanda panjang lebar, dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Naomi.
Jujur saja Naomi sangat senang mendapat jawaban seperti itu dari suami tampan nya, meski Nanda tidak berjanji, tapi dia sudah ada niat untuk usaha bukan?
__ADS_1
''Makasih sayang. Cup'' Naomi memberikan hadiah manis untuk suaminya itu.