Kekasih Ku (Psikopat`s)

Kekasih Ku (Psikopat`s)
Manipulasi


__ADS_3

Pagi harinya, satu sekolahan heboh dengan kabar yang menimpa Lucy serta Sonya. Keadaan mereka berdua saat ini tengah koma dirumah sakit.


Semalam Lucy dan Sonya ditemukan para polisi dalam keadaan yang begitu mengerikan disuatu tempat.


Sebagian besar kulit wajahnya melepuh, dengan darah yang terus merembas keluar. Bisa dipastikan wajah mereka tidak akan bisa kembali lagi, meski melakukan oprasi plastik sekalipun.


''Ya ampun, kok bisa sih Lucy mengalami hal itu''


''Iya, Sonya juga. Mereka sangat gegabah dengan main-main seperti itu''


''Mereka kenapa bisa main air kimia begitu yah? Jadi kena dampaknya kan''


''Iya''


Desas-desus tentang kejadian tersebut, menyebar secara luas diarea sekolah. Mereka tidak tahu saja, siapa pelaku yang sebenarnya. Mereka hanya berpikir, jika Lucy dan Sonya terkena bahan kimia atau air keras itu akibat ulahnya sendiri.


Alvin dan ketiga temannya berjalan santai, memasuki area kantin. Dimana disana sudah ada Alice, yang tengah mengisi perut sama seperti yang lain.


''Tuh Alice ada disana Vin'' Seru Aiden kala melihat sosok Alice, berada disalah satu meja yang ada dikantin itu.


Alvin berjalan kearah sang gadis, diikuti oleh para sahabatnya.


''Hai'' Bisik Alvin tepat didaun telinga Alice. Alice melihat kearah Alvin sembari tersenyum manis


''Al, mau makan juga'' Seru Alice dengan pandangan mata yang berbinar


''Loe makan apa?'' Alvin balik bertanya.


''Mie ayam. Mau gak?'' Alice menyodorkan satu sendok penuh makanan berjenis mie bertoping daging ayam tersebut, kehadapan Alvin.


Alvin menerimanya dengan senang hati, tanpa menghiraukan perasaan ketiga sahabatnya yang masih berstatus jomblo.


Seperti kata pepatah. Jika orang tengah kasmaran, dunia serasa milik berdua, bukan?


''Pesan makan woyy, laper nih gue'' Ujar Abi secara lantang. Bermaksud mengalihkan perhatian Alvin dari Alice, dan jelas itu tidak akan berhasil.


''Iya deh. Loe mau pesen apaan? Biar gue pesankan, tapi bayar sendiri ntar'' Sahut Atala yang sudah berdiri dari duduknya.


''Gue nasi goreng aja'' Ujar Abi


''Gue bakso deh'' Timpal Aiden.


''Oke, ditunggu yah tuan-tuan'' Gurau Atala


''Sekalian sama minumnya Atala, gue pesen yang es nya double'' ujar Abi lagi


''Kenapa musti double Bi'' Tanya Atala

__ADS_1


''Biar gak kepanasan, soalnya sedari masuk nih kantin gue berasa gerah body'' Ungkap Abi sekenanya.


''Ck, nasib loe mengsedih sekali Abi'' Ujar Atala sembari pergi kearah pemesanan, meninggalkan Abi dengan rasa kekinya.


''Sianying! Gak sadar diri dia'' Maki Abi kesal. Aiden hanya tertawa ringan melihat hal tersebut.


Alvin dan Alice sama sekali tidak menghiraukan obrolan mereka, dua sejoli ini masih asyik bersama dunia asmaranya.


''Gue cabut dulu'' Ucap Alvin yang sudah berdiri menggenggam tangan mungil kekasihnya.


''Pergi dulu yah'' Sahut Alice ramah. Sangat jauh berbeda dengan Alvin yang datar dan dingin.


''Mau kemana Vin'' Teriak Abi, yang sama sekali tidak dilirik oleh Alvin. Abi mencebik kesal karna diacuhkan begitu saja oleh sahabatnya itu.


''Palingan ketaman belakang'' sahut Aiden menebak. Abi hanya menggedikan bahunya tanda tidak tahu


Tidak lama Atala datang bersama satu buah nampan besar ditangan nya, Aiden dan Abi segera mengambil makanan yang mereka pesan.


''Loe pesan apaan tuh Tala'' Tanya Aiden sedikit penasaran dengan makanan yang dipesan Atala.


''Nih. Makan keponakan nya ikan hiu'' Balas Atala sembarangan. Dia menunjukan jenis makanan yang sudah dia beli pada Aiden


''Sejak kapan udang jadi sodaranya ikan hiu. Bukannya dia kakeknya megalodon yah'' Ujar Abi makin ngaur saja.


''Setau gue, dia anak pungutnya ikan piranha sih'' Sahut Aiden makin menjadi.


Disatu sisi. Seorang gadis tengah kebingungan mencari tempat duduk dikantin itu, dia terlihat merengut sendu sembari membawa nampan kecil ditangan nya.


Manik mata Atala menangkap hal tersebut..''Suttt'' Atala mengkode Aiden


''Apaan?'' Tanya Aiden


''Noh, si mungil incaran loe lagi kebingungan cari tempat duduk'' Ujar Atala pelan. Aiden menggerakan kepalanya kearah belakang, dimana orang yang Atala maksud berada.


Begitupun dengan Abi..''Gass Den, jangan kasih kendor''


Tanpa menyahuti kalimat Abi dan Atala. Aiden segera menghampiri gadis mungil tersebut, dia berjalan sangat cool dan santai.


''Eh, Dea.''Ucap Aiden berbasa-basi


''Hai kak Aiden'' Sapa Dea ramah. Aiden mengangkat sebelah tangan nya sebagai balasan.


''Loe cari tempat duduk?'' tanya Aiden kembali.


''I i-ya kak'' Balas Dea


''Gabung sama gue aja gimana, tuh disana'' tunjuk Aiden kearah meja yang berisikan dua sahabatnya.

__ADS_1


''Emang boleh kak?'' Tanya ulang Dea. Pasalnya selama dia bersekolah disana, dia tidak pernah melihat Aiden ataupun Atala, bergabung satu meja dengan seorang perempuan.


''Boleh banget kok'' Ujar Aiden dengan senyum lebarnya. Mereka pun berjalan menuju meja tersebut.


Sesampainya disana. Dea langsung disambut baik oleh kedua sahabat Aiden, mereka tidak ingin Dea merasa sungkan dan canggung, jika bertemu bersama mereka.


''Lain kali kalo loe bingung cari tempat duduk kayak tadi, cari gue aja. Terus loe gabung sama gue'' Ucap Aiden yang mulai memberikan sedikit perhatian nya pada gadis mungil tersebut.


''B-baik kak'' Balas Dea sedikit gugup. Apalagi saat ini dia tengah dipantau puluhan mata tajam yang siap menerkamnya kapan saja.


''Ya tuhan. Kenapa mereka natap aku holor kayak gitu yah, salah aku dimana coba?'' batin Dea menjerit takut.


''Loe gak usah sungkan gitu lah sama kita, khusus buat loe kita welcome kok'' Sela Atala ringan. Dan Abi pun ikut mengangguk setuju


''Iya'' Dea melihat pandangan para siswa perempuan yang ada disana terhadapnya. Dan hal itu jelas tertangkap oleh Aiden, senyum miring terbit saat itu juga.


''Loe gak usah takut sama tatapan mereka Dea, mereka itu hanya iri terhadap loe. Karna loe bisa dekat sama kita'' Ujar Aiden mencoba menenangkan perasaan Dea.


''Eh! Iya kak'' Gumam Dea sangat pelan, dia merasa malu karna Aiden mengetahui isi hatinya.


''Udah buruan makan, keburu masuk ntar'' Titah Abi mewakili Aiden, dan dijawab anggukan patuh oleh Dea. Mereka makan sembari mengobrol ringan, tanpa menghiraukan tatapan iri semua siswa perempuan yang ada disana.


...****************...


Agatha tengah menyusun rencana yang akan dijalankan Alvin dan Nanda malam ini. Dia harus benar-benar menyiapkan semuanya secara matang dan tepat.


Anaya sampai dibawa kerumah Nanda malam ini, agar dia bisa dengan tenang menyusun rencana tanpa mengkhawatirkan keadaan istrinya.


''Nanti usahain jangan sampai loe mengeluarkan suara, atau loe akan dapat masalah'' Instruksi Agatha pada Marco lewat sambungan telpon.


^^^'' Aman Tha. Gue bakal mingkem nanti''^^^


''Bagus. Udah loe istirahat aja buat pemulihan wajah baru loe itu, kan ntar malem kita beraksi''


^^^''Ok''^^^


Panggilan pun berhenti, menyisakan Agatha dan Nanda disana.


''Bisa gak gue bunuh salah satu dari mereka'' pinta Nanda dengan wajah penuh keseriusan. Mungkin dia merasa haus dengan hal keji tersebut, mengingat sudah sangat lama Nanda tidak mengotori tangan nya dengan noda darah.


Terakhir dia melakukan hobinya itu, disaat hari pernikahan nya Agatha dan Anaya. Ah! Itu sudah sangat lama sekali bukan? Padahal dulu dia tidak bisa libur barang seminggu.


''Liat nanti lah bos, kita jangan dulu bertindak gegabah. Soalnya mereka bukan asli warga sini'' Terang Agatha memberi sedikit pengertian pada Nanda.


''Ck'' Decak Nanda jengah


''Ampun dah. Iya ntar gue carikan mangsa buat loe deh, biar loe bisa sepuasnya main'' Ujar Agatha malas. Nanda tersenyum puas pada agatha

__ADS_1


Itu yang Nanda inginkan, sangat susah sekali untuk meredam jiwa iblisnya itu, jika sudah meronta minta keluar seperti saat ini.


__ADS_2