Kekasih Ku (Psikopat`s)

Kekasih Ku (Psikopat`s)
Tidak penting


__ADS_3

Di menit pelajaran yang harusnya di ikuti para pelajar. Kini ke empat pria tampan itu malah sengaja membolos. Bolos untuk membahas hal yang tidak begitu penting. Karna di jam pelajaran yang mereka lalui, mereka hanya mengobrolkan hal biasa serta bermain game online saja.


''Vin! Gue rasa Galih udah curiga sama loe deh'' ucap Atala yang sibuk dengan tabletnya.


''Tentang?'' tanya Alvin yang masih sibuk bermain game online di handphone nya. Serta jangan lupakan sebatang rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan tengah laki-laki tampan tersebut.


''Semuanya'' balas Atala.


"Termasuk Alice'' sela Abi dengan posisi yang sama dengan Alvin.


"Kayaknya sih gitu'' tukas Atala


''Terus kita harus gimana dong sekarang?'' sela Aiden yang hanya tiduran di meja sembari memakan kacang rebus.


''Tetap tenang'' ujar Alvin santai.


Dreett …..


''****!'' desis Alvin kesal. Pasalnya ada panggilan masuk di sela-sela pertarungan nya dengan Abi.


''Mampus loe, akhirnya gue menang dari loe'' sorak Abi merasa menang dari Alvin, meski itu tidaklah murni.


''Hallo. Kenapa bang?'' sapa Alvin pada orang yang menghubunginya itu.


''(......)''


''Ok!"


"(.....)"


''Hm!"


Setelah panggilan terputus. Senyum senang terukir di bi bir merah Alvin meski sebentar.


''Bang Nanda?'' selidik Aiden yang di balas anggukan kepala dari Alvin.


''Pasti ada jatah party'' tebak Abi yang mengetahui gelagat atau bahasa tubuh Alvin.


''Tepat!'' sahut Alvin yang sudah mengambil satu buah permen yang ada di hadapan Aiden.


''Napa loe mendadak suka permen?'' selidik Abi.


''Iya, baru kali ini gue liat loe makan permen. Biasanya ogah banget kan buka bungkus permen'' tukas Aiden


''Gue mau balik ke kelas'' balas Alvin.


''Hubungan nya balik ke kelas sama makan apel apa'an woyy'' pekik Aiden gemas.


''Tch! Lamban'' ucap Alvin ketus sembari melangkah guna membuka pintu rooftop sekolah.


''Otak loe tuh lamban Tala'' celetuk Abi menyalahkan Atala


''Emang nya elo kagak?'' sentak Atala yang mengikuti langkah kaki Alvin.

__ADS_1


''He he. Eh, beresin tuh sampah. Atau kita bakal kena masalah nantinya'' Abi tersenyum mengejek pada Aiden.


''Asuu* loe. Bantuin napa, main tinggal-tinggal aja. Ini nih orang yang kagak punya hati nurani'' gerutu Aiden sembari memasukan cangkang kacang ke dalam tong sampah.


''Utututu .. ada yang ngambek nih, kayak anak perawan aja ambekan'' goda Abi yang tidak urung membantu Aiden saat ini.


Brak …


''Kalian ngapain di sini. Bolos?'' seorang guru laki-laki berdiri di daun pintu sembari melihat ke dua badboy tampan tersebut.


''Iya lah, apa lagi coba? Udah tau pake nanya lagi. Gebleg'' tukas Aiden yang sepertinya tidak menyadari jika saat ini dirinya tengah berhadapan dengan siapa


''Bagus sekali! Aiden. Abi. Kalian harus di hukum'' sentak guru tersebut dengan level kemarahan yang tinggi.


''Waduh! Alamat kena ceramah gue sama Dea'' gumam Aiden yang meringis kecil.


''Yang sabar Den, siap-siap aja tuh telinga berdengung'' Abi berucap sembari menepuk pundak Aiden.


''Kalian berdua ayo turun. Dan bau apa ini? Asap rokok! Astaga, kalian ini benar-benar yah. Hukuman kalian jadi double'' ucap guru laki-laki iti secara tegas.


''B-bukan kita yang ngeroko kok pak'' dalih Aiden cepat sembari melihat kearah Abi.


''Lalu siapa, hantu? Masa hantu bisa ngerokok. Gak perlu alasan, ayo ikut saya'' ucap guru laki-laki itu.


''Pasrah aja deh. Yok'' tukas Abi 


''Tapi kan gue gak ngerokok ogeb! Loe sama Alvin yang ngerokok. Harusnya loe sama si kulkas yang di hukum'' bisik Aiden tetus saja protes.


''Ck! Nasib, sial banget dah. Perasaan tadi pagi gue mandi wajib dulu sebelum pergi ke sekolah'' celetuk Aiden asal


''Mandi wajib! Loe kira abis apa'an toge. Atau loe'' Abi menatap curiga pada Aiden.


''Gak usah su'uzon jadi orang. Gue Smak Down juga loe lama-lama'' sentak Aiden dengan tatapan tajam. Sedangkan Abi hanya nyengir sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


Mereka berdua mau tidak mau, harus menjalankan hukuman. Serta menanggung perbuatan Alvin dan juga Atala, yang memang terlibat dalam hal ini.


Tanpa mereka dan guru itu sadari, jika di sana ada orang lain lagi selain mereka berdua.


''Untung gue gak ketahuan'' gumamnya merasa beruntung.


...****************...


''Loh, bukannya Abi sama Aiden tadi bareng kamu Al? Terus kenapa cuma mereka berdua aja yang di hukum. Harusnya kamu sama Atala juga di hukum dong'' ocehan Alice yang masih kesal terhadap kekasih tampan nya itu.


''Jadi, loe mau gue di hukum gitu?'' ucap Alvin dengan tatapan mengunci.


''Iya lah, harus. Orang bolos kan memang harus di hukum'' jawab Alice mantap


''Kenapa gak loe aja yang kasih gue hukuman?'' tantang Alvin dengan senyum jahilnya.


''Hukuman apa?'' 


''Apa aja, yang penting enak'' pinta Alvin 

__ADS_1


''Mana ada hukuman yang enak. Orang aneh'' gerutu Alice yang jengah dengah laki-laki tampan di hadapan nya ini.


''Ada kok. Mau gue kasih tau'' bisik Alvin dengan seringainya.


''Gak perlu'' jawab Alice judes


''Pasti ujung-ujungnya dia yang menang dan aku yang darah tinggi'' lanjut Alice yang sudah hafal sedikit demi sedikit kelakuan Alvin.


''Ha ha ha'' Alvin tertawa kecil melihat kekasihnya cemberut.


''Masih marah?'' tanya Alvin kembali ke wajah serius


''Gak tau!'' jawab Alice ketus


''Gue pergi nih!'' 


''Eh, jangan'' cegah Alice cepat


''Tapi gue gak mau liat loe cemberut kayak gitu, apalagi diemin gue'' ujar Alvin


''Gak kok, mana ada cemberut. Nih aku senyum, dan janji gak bakal cuekin kamu lagi'' balas Alice yang tidak ingin Alvin pergi.


''Gadis baik'' Alvin tersenyum hangat sembari mengusap lembut puncak kepala Alice. Padahal dia juga tidak mungkin meninggalkan Alice apapun keadaannya, Alvin hanya ingin melihat sebesar apa rasa peduli Alice saat ini terhadapnya.


...****************...


''Jadi wanita itu siapa kak?'' Naomi terus saja mendesak suaminya agar mau berbicara serta menjelaskan siapa wanita yang sempat bertamu ke rumah mereka tadi.


''Hanya sampah yang haris di bersihkan sayang'' balas Nanda lembut


''Selalu saja itu jawaban nya'' ucap Naomi ketus.


''Dia hanya masalalu sayang. Tidak baik di bahas sekarang'' jelas Nanda


''Terus, baiknya kapan?'' desak Naomi lagi.


''Tidak akan pernah. Tidak ada waktu untuk membicarakan nya''


''Ih, kakak mah gitu ah'' Naomi mulai merajuk dan membelakangi suaminya. Nanda terkekeh kecil melihat hal tersebut, lalu dia memeluk Naomi dari arah belakang.


''Intinya, dia itu tidak penting bagi kakak maupun kamu sayang, jadi anggaplah dia musuhmu. Dan kamu harus bisa melindungi suami kamu ini darinya'' ucap Nanda yang entah di mengerti oleh Naomi atau tidak.


''Kakak gak akan bunuh dia kan?'' selidik Naomi yang sudah kembali melihat wajah suaminya.


''Tidak sayang. Don't worry''


''Tapi Neli juga terbunuh, dan pasti Alvin pelakunya. Apa itu juga akan berlaku untuk Bianca? Iyah! Kakak tidak membunuhnya tapi memerintah untuk membunuhnya bukan?'' oceh Naomi yang mulai paham.


''Smart!'' puji Nanda yang sudah mengecup sekilas bi bir plumpy istrinya itu.


''Ck! Sama saja'' desis Naomi yang sudah memutar matanya jengah.


"Yang penting kan kakak tidak membunuhnya sayang'' bisik Nanda dengan senyum menawan nya.

__ADS_1


__ADS_2