
''Gue udah ada di sini, sayang'' Alvin dengan erat memeluk kekasihnya. Dia juga sudah membuka hoody hitamnya guna membungkus tubuh Alice.
''Lebih erat Vin. Aku takut, hiks hiks''
''Suutt. Udah diam ya sayang, sekarang ada gue jadi gak usah takut lagi. Sekarang kita pulang yah'' ucap Alvin lembut yang sudah membopong tubuh Alice, yang mana kini sudah tidak sadarkan diri saking lelahnya menangis dan menghalau rasa takutnya sejak tadi.
''Kalian, bawa mereka ke markas. Dan jangan sampai polisi tahu hal ini, atau kalian semua habis di tangan gue'' teriak Alvin pada ketiga sahabatnya.
''Baik Vin'' balas ketiga nya.
...****************...
Keluarga Alice di beri kabar tentang kejadian yang menimpa Alice saat ini. Mereka datang dengan perasaan yang cemas dan khawatir.
Setelah kejadian dulu, semua keluarga Beno mulai mengakui kehadiran Alice. Mereka tidak mengusik atau mengganggu hidup Alice lagi. Bahkan Helena rela pindah sekolah demi ketenangan hidupnya dan juga hidup keluarganya.
''Alice. Apa dia baik-baik saja di dalam?'' tanya Nana pada suami dan anaknya. Mereka kini sudah berada di rumah sakit tempat Alice di rawat.
''Kita berdo'a saja Mih. Semoga Alice baik-baik saja'' sahut Hendrik yang juga merasa cemas terhadap keadaan Alice
''Iya Mih. Semoga tuhan melindungi keponakan kita'' ujar Beno
''Amin'' jawab mereka semua.
Tidak lama datang lah tiga orang remaja yang masih memakai pakaian SMA mendekati mereka.
''Helen. Bagaimana keadaan Alice sekarang?'' seru Aiden yamg memang mengenal siapa Helena bagi Alice.
''Aiden. Atala. Kalian di sini juga? Gue belum tau keadaan Alice gimana sekarang, dokternya belum keluar dari tadi'' jelas Helena yang mencuri pandang pada satu pria yang baru dia lihat.
''Kalian teman nya Alice?'' tanya Nana
''Iya Tante'' balas semuanya kompak.
''Siapa dia? Kok aku baru liat yah. Apa murid baru di sekolah lama? Ganteng banget, sumpah'' suara hati Helena memindai penampilan Abi.
Sedangkan di dalam ruangan VVIP Alvin tidak henti-hentinya menggenggam tangan Alice. Dan sedikit mempersulit pemeriksaan pihak medis karna tidak leluasa dengan adanya Alvin di sana.
''Maaf Tuan Alvin. Saya akan menangani kekasih anda dengan baik. Jadi saya mohon Tuan Alvin di harap keluar dulu agar saya dan suster yang lain lebih leluasa menangani pasien'' ucap dokter wanita yang melihat Alvin yang menghambat pekerjaan mereka sedari tadi.
Alvin menatap tajam pada kedua orang yang ada di hadapannya itu. ''Baik. Lakukan tugas kalian dengan baik dan benar'' ucap Alvin datar dan dingin. Itulah yang membuat orang-orang takut bertanya atau memberi pendapat pada Alvin. Dia selalu saja terlihat menakutkan meski wajah tampan nya begitu mendominasi.
''Pasti Tuan'' jawab nya tegas.
''Tapi, pacar gue akan baik-baik saja kan?'' tanya ulang Alvin yang tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya.
''Mungkin dia hanya syok berat saja Tuan'' jelas sang dokter yang mulai merasa gemas terhadap Alvin.
''Ok'' sebelum benar-benar pergi keluar, Alvin menyempatkan diri mengecup kening Alice sambil berkata.
__ADS_1
''Cepat sadar sayang. Gue khawatir sama loe'' bisik Alvin di daun telinga Alice.
...----------------...
''jadi selama ini Luwis adalah adik dari orang yang pernah Alvin bunuh'' tanya Aiden pada Abi.
''Dan dia selama ini mata-matain Alvin. Begitu?'' Atala menimpali
''Bisa di bilang begitu'' ujar Abi santai
''Lagian loe Tala. Masa gak tau Alvin di mata-matain sih, kan loe yang pantau keamanan nya'' celetuk Aiden
''Eh curut! Gue mana tau niat hati orang. Loe kira gue indigo apa'' sungut Atala kesal
''Siapa tahu aja kan'' ucap Aiden enteng.
Suara decitan pintu terdengar membuat obrolan mereka terhenti. Baru saja mereka membicarakannya, Alvin sudah datang muncul.
Semua orang yang ada disana berdiri dan menghampiri Alvin, guna mengetahui keadaan Alice saat ini.
''Al. Gimana keadaan Alice?'' seru Hendrik menjadi orang pertama yang mewakili mereka semua yang ada di sana.
Alvin menggeleng lesu.''Gue gak tahu, dia masih belum sadar'' ucap Alvin yang mau menjawab dan menerangkan.
Helena yang sudah lama tidak melihat Alvin. Dia hanya bengong tak bergeming dengan rasa kagumnya.
''Sabar Bro! Kita berdo'a aja supaya Alice cepet sadar dan baik-baik aja'' sahut Abi yang sudah menepuk pundak Alvin.
''Thank's'' balas Alvin ringan yang di balas anggukan kepala oleh Abi.
Drett …
Drett ..
''Vin. Ponsel loe bunyi tuh'' beritahu Aiden.
Alvin dengan malas merogoh saku celananya guna melihat siapa yang menghubunginya.
''Hallo, kak''
^^^''Vin. Bagaimana keadaan Alice? Dia sudah sadar belum?'' ^^^
''Belum kak. Dia lagi di tangani sama dokter di dalam''
^^^''Ya Tuhan. Kamu yang sabar yah Vin, nanti kakak kesana sama abang. Sekalian bawain kamu baju ganti''^^^
''Iya kak, makasih sebelumnya''
^^^''Sama-sama Vin. Kakak tutup dulu yah''^^^
__ADS_1
''Iya kak''
Tut ….
Tanpa mereka bertanya pun, mereka sudah tahu siapa yang menghubungi Alvin itu.
''Apa kasus ini akan kita bawa ke jalur hukum?'' tanya Beno ingin tahu.
"Tidak! Alice akan merasa tertekan dengan itu, sebab dia akan kembali mengulang moment mengerikan yang terjadi pada dirinya saat ini nantinya. Biar gue yang urus itu, kalian cukup diam dan bersikap seolah-olah tidak tahu. Meskipun mereka harus di hukum, usahakan jangan sampai menyinggung nama Alice dalam kasus ini, mengerti'' tutur Alvin panjang lebar dan sangat memikirkan tentang perasaan Alice di kemudian hari.
''Iya, mengerti.'' balas Beno cepat.
''Eh Lena. Loe dari tadi bengong aja liatin Alvin. Kenapa sih loe?'' celetuk Aiden yang kebetulan berada di dekat Helena.
''Hah! G-gue cuma kasian liat keadaan Alvin yang tertekan karna kondisi Alice. Iya itu'' dalih Helena dengan senyum canggung dan memalingkan wajahnya.
''Gue gak perlu dan gak butuh di kasihanin'' ucap Alvin sinis.
"Sorry'' gumam Helena
''Kenapa? Loe naksir yah sama Alvin. Hm?'' bisik Abi tepat di daun telinga Helena.
''Gak ada, gak usah asal kalo ngomong'' kilah Helena lagi.
''Ck! Boong banget gak tuh. Kenalan mau gak'' desak Abi di mode playboy.
''Gak!'' tekan Helena bertolak belakang dengan hatinya.
''Yakin?''
''Hm''
''Nyesel loe nanti''
''Dih. Maksa banget sih''
''Gue Abi. Temennya Alvin dari luar negri. Dan loe Helena anak bungsu dari Pak Beno dan Ibu Nana, serta adik kandung dari Hendrik. Iya kan? Loe juga sodara sepupu Alice'' celoteh Abi yang makin membuat hati Helena merasa terbang dan berbunga-bunga. Pasalnya ada seorang pria tampan yang mengetahui tentangnya sebelum perkenalan.
''Nih cowok so sweet banget sih. Idaman gue pokoknya'' puji Helena dalam hati.
''Iya lah, gue tuh cowok idaman serta bonus ketampanan yang mampu membuat loe jatuh cinta pada pandangan pertama'' cetus Abi dengan tingkat percaya diri yang sangat tinggi.
''Tch! Gak jelas banget sih loe'' sentak Helena yang mampu membuat semua orang melihat ke arahnya.
Wajah Helena sudah memerah karna salah tingkah dan malu di perlakukan begitu oleh Abi.
''Jangan berisik loe pada, inget ini tuh rumah sakit bukan rumah ghibah'' tegur Aiden ketus.
''Tck!'' decak Abi sebal.
__ADS_1