
Selama satu hari satu malam Alice dirawat di rumah sakit, keadaannya sudah mulai tenang dan membaik. Ia dapat mengenali dengan jelas wajah siapa saja yang datang untuk membesuknya, tidak seperti pertama kali Alvin menemuinya.
Dokter Vanya selaku dokter yang menangani Alice mengizinkan Alice pulang karna kondisinya baik-baik saja.
Beno dan Nana serta Hendrik pun sudah kembali pada kediaman mereka. Alice sempat menawarkan pada keluarga satu-satunya itu untuk kembali tinggal di rumah bersamanya. Tapi rasa malu dan bersalah dalam hati mereka belum hilang hanya untuk sekedar mengiyakan ajakan tersebut.
''Alice. Kakak mau kamu tinggal dulu di rumah kakak yah, kakak gak mau kamu tinggal sendirian'' seru Naomi saat dirinya membantu Alice bersiap untuk pulang.
Alice tersenyum manis pada Naomi lalu melirik ke arah Alvin. Yang di lirik menjadi salah tingkah dan canggung
''Ekhem. Itu saran yang bagus kak'' sahut Alvin kikuk.
''Kakak gak usah khawatir sama Aku. Gak papa kok aku tinggal di rumah, lagian kan Alvin juga sering datang'' tolak Alice secara halus.
''Gak bisa Alice. Kamu masih harus di pantau'' ujar Naomi sedikit memaksa.
''Vin'' bisik Alice meraih tangan besar kekasihnya.
''Kakak tahu fisik mu tidak terluka, tapi bagaimana dengan mentalmu Alice. Kamu pasti mengalami trauma kan?'' tanya Naomi lagi sembari menuntun Alice turun dari atas brangkar.
Alice mengeratkan pegangannya pada tangan besar kekasihnya dengan pandangan mereka yang beradu.
''Tidak kak, Aku tidak mengalami trauma apapun kok. Jadi kakak tidak usah khawatir dengan aku'' jelas Alice berbohong dan menggeleng supaya Alvin tetap diam.
''Tapi kakak tetap khawatir sama kamu. Untuk malam ini kamu tidur di rumah kakak yah''
''Tap-'' Alice melihat kearah Alvin yang menggeleng supaya Alice tetap diam dan menerima permintaan Naomi.
''Jika itu memang baik untuk Alice, ya sudah'' Alvin tersenyum dengan tangan yang mengusap lembut kepala Alice.
''Tuh kekasihmu saja setuju''
''Ya sudah. Tapi hanya untuk malam ini saja kak'' ucap Alice mengalah.
''Terserah kamu, yang penting malam ini kamu menginap di rumah kakak. Di sana juga sudah ada Bunda dan Kak Anaya yang menunggu mu'' terang Naomi yang sudah masuk ke jok belakang bersama Alice, sedangkan Alvin yang mengemudikan mobilnya.
...****************...
''Naomi, sayang. Mana Aliska?'' Merina yang kebetulan membuka pintu utama langsung saja memeluk Naomi dengan lembut.
''Itu Bun''
''Aliska sayang. Kamu baik-baik saja kan?'' lagi merina menghambur memeluk Alice dengan erat dan sayang. Alice tidak kuasa menahan tangis saat ada orang lain yang menyayangi dan menganggapnya ada di dunia ini selain kekasihnya Alvin.
''Aku baik-baik saja Bunda''
''Loh kok nangis sayang, ada yang sakit yah?'' Merina mengusap lelehan air mata Alice dan memeriksa tubuh Alice.
Alice menggeleng. ''Gak ada Bun. Aku cuma terharu aja sama perhatian Bunda untuk aku. Terima kasih untuk kalian semua'' ungkap Alice secara tulus.
Anaya menuntun pelan tangan Alice untuk segera masuk dan beristirahat. Anaya jelas tahu bagaimana rasa yang kini Alice rasakan, karena dirinya pernah berada di posisi tersebut.
''Sudah, besok saja ngobrolnya. Sekarang kamu istirahat di kamar Alvin yah'' ucap Anaya lembut.
''Iya sayang. Lebih baik kamu istirahat saja sekarang'' timpal Merina. Alice hanya mengangguk pelan tanda jawabannya.
__ADS_1
''Sana Vin'' titah Naomi pada adik iparnya
''Ayo sayang'' Alice hanya menurut saja saat tangannya di tarik pelan oleh Alvin dan membawanya masuk kedalam kamar miliknya di rumah tersebut.
Cklek ...
''Mau mandi dulu atau langsung tidur?'' tanya Alvin setelah mereka masuk.
''Kan tadi udah mandi Vin'' jawab Alice mendaratkan tubuhnya di hamparan empuk berbalut sprei blue itu.
''Ya sudah, kalo gitu gue aja yang mandi. Kamu tunggu dulu yah, nanti kita tidur berdua di sini'' ujar Alvin yang mendapat senyuman aneh dari Alice.
Alvin menautkan alisnya melihat senyuman itu. ''Kenapa senyum kayak gitu?'' selidik Alvin
''Kamu!'' balas Alice singkat dan tersenyum lebar.
''Kamu? Astaga! Jadi, maunya terus di panggil loe gitu?''
''Gak mau.'' tolak Alice cepat.
''Ya udah, mulut gue hak gue dong mau ucapin apapun. Apalagi itu sama cewek polos dan imut ini, mau gue panggil calon istri juga terserah gue. Inget, Alice adalah miliknya Alvin sagara'' tutur Alvin sembari membuka kaos hitamnya di hadapan Alice.
Merasa salah tingkah sendiri Alice segera memalingkan wajahnya kearah samping agar tatapannya terhindar dari tata'an rapi delapan bentuk kotak di perut Alvin.
"Kalo gini mah, mau cepet-cepet di nikahin deh. Biar tiap hari bisa liat tuh roti sobek, mana mulus banget lagi tuh badan. Boleh gak sih aku pegang'' jerit batin Alice dan melupakan rasa sakit pada mentalnya saat ini.
Meski mereka sering tidur bersama, tetapi Alvin tidak pernah membuka bajunya di depan Alice dengan sengaja. Dia selalu mengenakan kaos saat tidur, hanya sekali Alvin pernah bertelan jang dada di rumah Alice saat dia selesai membunuh dan berakhir di penuhi noda merah di seluruh tubuhnya.
''Pasti lagi muji gue dalam hati. Dan sebenarnya loe pengen banget kan pegang perut berotot gue''
''Udah sana mandi, bau tau gak'' usir Alice karna wajahnya sudah sangat panas saat ini.
''Bau tubuh gue bikin candu kan, hm?'' goda Alvin terus-menerus.
''Gak! Bau asem, mana ada bikin candu. Bikin mual iya'' dalih Alice yang berangsut naik keatas kasur guna menjauhi Alvin. Karna memang bau dari tubuh Alvin selalu dia rindukan, wangi khas seorang Alvin tidak dapat dia temukan di manapun.
Alvin tersenyum indah seolah berhasil mengoda kekasihnya itu. Tapi di dalam hati, Alvin berharap agar Alice bisa melupakan kejadian buruk waktu itu.
...****************...
''Gimana Tha? Dia mau ngomong gak'' tanya Nanda saat mereka pulang kerumah Nanda dan kembali masuk kedalam ruang kerja Nanda.
Jika saja Nanda tidak sedang menepati permintaan Naomi, mungkin sejak kemarin dia membunuh empat orang suruhan Luwis itu.
''Ck! Di bilang bisu, jelas-jelas dia bisa ngomong. Di bilang bisa ngomong dia kayak orang bisu. Entah lah'' jawab Agatha sedikit berbelit.
''Ribet!'' desis Nanda ketus.
''Iya, memang ribet tuh cewek'' sahut Agatha ringan.
''LOE yang ribet bukan dia'' sentak Nanda berang. Agatha sampai terlonjak kaget mendengar bentakan Nanda.
''Kok gue sih Bos?''
''Tinggal ngomong mingkem aja panjang bener. Gue matiin juga loe'' Agatha lupa atau bagaimana, jika Nanda tidak suka yang namanya bertele-tele.
__ADS_1
''Tch! Prinsip loe serius banget sih Bos, sekali-kali di bikin panjang dan asyik gitu. Gak singkat, padat dan jelas mulu'' cerocos Agatha.
''Udah. Gue mau tidur, dan gue gak mau tau pokoknya bujuk bini loe supaya tidur bareng loe jangan bareng Naomi. Kalo gak berhasil, awas loe'' ancam Nanda mutlak, karna setiap Anaya menginap di rumahnya selalu saja ingin tidur bersama istrinya. Padahal kamar yang di khususkan untuk Agatha juga ada di sebelahnya.
''Iya Bos'' jawab Agatha lesu.
...----------------...
''Sayang minum dulu obatnya, habis itu baru tidur'' seru Alvin yang keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap.
''Alice''
Alvin menatap nanar kearah kekasihnya yang lagi dan lagi melamun sampai tidak menghiraukan ucapannya.
''Sayang, Alice''
Alice masih saja tidak memberikan respon. Alvin berjalan kedepan di mana tatapan Alice lurus padanya.
''Sayang''
Gadis itu baru merespon saat tangan besar Alvin menangkup sisi wajahnya. Dan melihat kearah depan di mana Alvin berada saat ini.
''Iya, Vin'' jawab Alice dengan raut wajah linglung.
''Peluk gue'' pinta Alvin. Dengan hangat Alice tersenyum mendengar permintaan kekasih tampannya itu.
''Ya sudah sini'' Alice membuka lebar kedua tangannya. Dan Alvin langsung menaruh wajahnya di ceruk leher gadisnya.
''Gue sedih liat kamu kayak gini, sayang''
''Aku baik-baik saja sayangku Alvin'' jawab Alice mencoba tegar.
''Bohong, sampai kapan kamu mau bilang bahwa kamu baik-baik saja'' desis Alvin
''Tapi aku ben-''
''Stop!'' potong Alvin cepat dan semakin mengeratkan pelukannya.
''Alvin''
''Stop bicara kamu baik-baik saja di depan gue Alice. Setelah kejadian itu mustahil bagi kamu untuk tidak memiliki rasa takut dan trauma''
Alice menatap keatas langit-langit kamar guna mencegah tumpahan air matanya.
''Sayang'' Alvin menyatukan kening mereka hingga napas keduanya saling menerpa wajah masing-masing.
Tumpah sudah air mata dari dalam mata bulat itu.
''Yah. Kamu benar sayang, aku tidak baik-baik saja sekarang. Aku takut saat aku menutup kedua mata ini, semua kejadian itu pasti teringat kembali. Hiks hiks''
''Semua salah gue Alice. Andai waktu itu gue gak balik duluan dan ninggalin kamu sendiri di sekolah. Anda-''
''Suutt. Kamu gak salah apa-apa Al, jangan terus-menerus menyalahkan diri kamu, itu sangat menyakitkan bagi ku. Karna itu bukan salah kamu sayang, justru kamu lah dewa penolong yang tuhan berikan untuk aku'' tutur Alice
''Kamu gadis hebat yang pernah aku temui Alice. Kamu berhasil membuat iblis ini menangis. Terima kasih sudah bertahan''
__ADS_1
''Sama-sama sayang'' mereka kembali lagi berpelukan sambil menangis, menyalurkan rasa sesak yang sama-sama mereka rasakan.