
Sesampainya di rumah sakit. Banyak ibu hamil yang di temani para suaminya untuk melakukan pemeriksaan. Baik itu pasangan baru seperti Naomi dan Nanda, maupun pasangan yang sudah lama.
Naomi dan Nanda langsung saja masuk ke dalam ruangan dokter khusus kepercayaan mereka. Tidak seperti pasien lainnya yang harus menunggu dan mengantri di beberapa deret bangku, guna mendapatkan giliran.
''Selamat Siang. Nyonya Naomi dan Tuan Nanda'' sapa sang dokter perempuan dengan sangat ramah
''Selamat Siang Dokter'' hanya Naomi yang membalas sapa'an tersebut. Sedangkan Nanda hanya diam saja tanpa minat berbasa-basi.
''Silahkan duduk Nyonya, Tuan.'' titahnya lagi.
Mereka pun menuruti apa yang di perintahkan sang dokter. Lalu dokter khusus kandungan tersebut segera menerangkan secara seksama, apa saja yang harus di perhatikan oleh Naomi semasa mengandung.
Setelah itu barulah mereka melakukan pemeriksaan yang di namakan 'Ultrasonografi' atau sering di sebut (USG). Guna melihat tumbuh kembang janin yang kini di kandung oleh Naomi.
Dan di bagian inilah yang paling tidak di sukai oleh Nanda. Sebab, perut buncit sang istri akan ter-ekspos secara bebas dan pastinya akan terlihat oleh dokter perempuan itu.
Meski dokter tersebut berjenis kelamin perempuan. Tapi! Bagi Nanda, tetap saja tidak boleh.
''Ck! Memang nya tidak ada metode lain? Selain membuka baju dan memperlihatkan seluruh perut istri saya. Dan kenapa harus di olesi gel seperti itu segala?'' celetuk Nanda dengan pandangan sebal pada dokter khusus tersebut.
''Maaf Tuan. Tidak ada metode lain di sini, selain USG seperti ini'' balas Dokter tersebut lagi. Karna bukan hanya sekali dia menerangkan hal demikian pada pemilik saham rumah sakit tersebut.
Setiap kali melakukan pemeriksaan itu, Nanda selalu saja protes. Jadi, tidak heran lagi bagi sang dokter mendapat ucapan seperti tadi.
''Kak. Selalu saja seperti itu'' desis Naomi ketus
''Lanjut kan saja Dok. Jangan hiraukan suami saya, dia kan sudah biasa seperti itu'' lanjut Naomi yang di mengerti oleh dokter wanita itu.
Nanda hanya menatap sebal pada kedua wanita itu, jika saja istrinya tidak berada di pihak dia. Sudah dapat di pastikan jika dokter itu akan tinggal nama saja keesokan harinya.
10 menit berlalu. Dan kini mereka sudah selesai melakukan periksaan tersebut, dan di nyatakan bahwa bayi yang Naomi kandung sehat dan tumbuh baik dengan semestinya. Naomi dan Nanda pamit pulang pada dokter khusus mereka. Ralat! Hanya Naomi saja yang berpamitan, sedangkan Nanda seperti biasa nya memasang wajah datar dan cuek.
Sedangkan di luar ruangan tersebut ada sepasang suami istri yang terus saja mengumpat. Pasalnya, ruangan yang di khususkan untuk mereka, kini berpenghuni dan otomatis mereka harus menunggu pasien tersebut selesai, guna mendapatkan giliran.
''Tch! Sama saja kayak pasien lain, nunggu dan antri. Siapa sih pasien yang berani ambil jatah kita buat periksa'' gerutu suami nya itu.
''Mana aku tau, padahal bunda sudah memberi tahukan dokter itu kan tadi? Mungkin mereka juga istimewa di sini'' oceh sang istri.
"Siapa yang begitu istimewa coba, selain keluarga kita dan Nanda''
__ADS_1
''Mungkin i-itu. Eh- kak Naomi'' pekik nya kala melihat sosok yang begitu dia kenal. Dan segera berlari kecil kearah Naomi
''Anaya'' balas Naomi juga.
''Mana?'' tanya Agatha ikut penasaran, hingga pandangan matanya menangkap sosok familiar baginya.
"Lah pantes kita di nomor duakan. Orang pasien pertama nya si bos'' ujarnya mengerti dengan posisi dokter yang menangani mereka. Jelas! Nanda dan Naomi akan menjadi yang pertama, siapa yang mau berurusan dengan pemilik saham terbesar serta psikopat kejam seperti dirinya.
''Apa loe'' sentak Nanda ketus.
''Kagak ada. Lah, napa tuh muka asem banget'' tanya Agatha dengan kekehan kecilnya
''Sumpah gue pengen bunuh tuh dokter'' desis Nanda geram.
''Kenapa-''
''Nyonya Anaya dan Tuan Agatha. Mari silahkan masuk'' teriak sang dokter memotong kalimat Agatha.
''Iya Dok, tunggu sebentar'' balas Anaya yang jaraknya lebih dekat dengan pintu ruangan dokter tersebut.
''Gue masuk dulu bos. Do'akan semoga kali ini tuh kecebong jadi kecambah. Nanti abis ini, gue sama Naya kerumah loe deh'' ucap Agatha yang mendapat anggukan kepala dari Nanda.
Anaya dan Agatha pun masuk untuk melakukan pemeriksaan, meninggalkan Nanda dan Naomi di sana.
''Gak perlu di tunggu sayang. Katanya Agatha mau ke rumah kita setelah selesai nanti'' terang Nanda
''Baiklah'' jawab Naomi.
Drett ....
Drett ....
''Tunggu dulu sayang, ada telpon masuk'' Nanda segera merogoh saku celana nya, guna melihat siapa yang menghubunginya itu.
''Siapa kak?'' tanya Naomi penasaran
''Bi Yuyun. Sayang!'' Nanda memperlihatkan layar ponselnya pada Naomi agar percaya.
''Cepat jawab kak, mungkin Bibi mau pesan sesuatu sama kita'' titah Naomi yang di jawab anggukan kepala oleh suami tampan nya itu.
__ADS_1
''Hallo. Bi! Kenapa?''
''(......)''
''Siapa namanya?''
''(.....)''
''Baik, saya dan Naomi segera pulang. Bibi tetap bersikap biasa saja, hm''
''(.....)''
''Hm!''
Tut ....
''Apa kata Bibi kak?'' tukas Naomi saat melihat rahang suaminya mengetat setelah menerima panggilan dari asisten rumah tangganya itu.
''Kita harus pulang sekarang sayang. Ada seseorang yang datang berkunjung kerumah kita hari ini'' ucap Nanda lembut.
''Sodara kah?'' desak Naomi.
''Orang gila'' celetuk Nanda asal. Naomi mengerutkan keningnya
''Orang gila? Maksud nya gimana sih kak''
''Tidak penting dia siapa, sayang. Pesan kakak hanya satu, jangan dengarkan apapun yang keluar dari mulut dia nantinya. Tetap percaya pada kakak, hm'' pinta Nanda sembari menangkup kedua pipi chuby istrinya itu.
''Kenapa tiba-tiba kakak bicara seperti itu? Siapa orang yang berkunjung itu kak''
''Suutt! Jangan tanya siapa dan kenapa. Jika Kakak sudah bilang tidak penting, berarti itu bukan suatu masalah. Paham?''
''Iya kak'' Naomi memilih patuh dan percaya pada suaminya, karena apa yang Nanda ucapkan adalah mutlak, bukan?
''Bagus! Yuk kita pulang sekarang, sayang'' Nanda segera menuntun lembut tangan istrinya menuju keparkiran. Mobil mereka pun melesat membelah jalanan yang padat dan ramai, dapat di tebak jika Nanda ingin segera sampai kerumah saat ini.
Sepanjang perjalanan Naomi selalu memperhatikan raut wajah suaminya itu, terlihat ada gurat marah di netra tajamnya.
''Siapa orang yang mampu membuat rahang kakak mengeras seperti itu? Juga raut wajah kakak terlihat begitu marah'' batin Naomi terus bertanya-tanya.
__ADS_1
Naomi tidak berani mendesak suaminya dalam keadaan yang seperti ini, bisa-bisa dia kena imbas kemarahan nya. Tidak menutup kemungkinan jika jiwa iblis nya Nanda hadir, istri tercinta nya pun akan merasa tersakiti. Meski penyesalan akan datang pada akhirnya.
Lebih baik Naomi diam saja saat ini, sampai dia memecahkan tanda tanya besar di kepalanya itu.