Kekasih Ku (Psikopat`s)

Kekasih Ku (Psikopat`s)
Trauma


__ADS_3

''Pasien atas nama Aliska Stefani sudah sadar, salah satu dari kalian boleh masuk untuk melihatnya.''


Alvin yang sedari tadi duduk di kursi tunggu, langsung berdiri saat dokter Vanya keluar dari ruang rawat Alice. Tanpa menunggu waktu lagi, Alvin langsung masuk meninggalkan teman-temannya serta keluarga Alice.


''Mih pih. Kita nginep di sini atau pulang?'' tanya Helena pada kedua orang tuanya.


''Begini Len. Kamu sama kakak pulang saja, besok kamu harus sekolah kan. Biar Mamih sama Papih yang nginep di sini'' usul Nana pada kedua anaknya.


''Ok Mih.'' balas Helena patuh.


"Tapi Kakak mau liat kondisi Alice Mih'' cetus Hendrik


''Terus Helena pulang sama siapa Hen? Kasian adek kamu sendirian pulangnya''


''Maaf! Tante, Om. Jika kalian tidak keberatan, biar saya saja yang mengantar pulang putri kalian. Jadi Hendrik bisa melihat kondisi Alice di sini bareng kalian, bagaimana?'' sela Abi dengan nada sopan.


''Dih modus'' desis Atala dan Aiden memicingkan matanya


''Nah setuju tuh. Gimana Len, kamu mau kan di anter pulang sama d-dia'' seru Hendrik pada adik perempuannya sambil menunjuk wajah Abi


''Abi, bang'' sela Abi lagi dengan senyum lebarnya seolah berkenalan.


''Iya. Sama Abi, mau kan?'' desak Hendrik lagi.


Helena melihat kearah ibu dan ayahnya meminta pendapat. Dan mereka pun mengangguk pelan tanda setuju.


''Ya udah aku mau'' ucap Helena pelan.


''Yes!'' desis Abi senang.


''Titip adek gue yah Bro'' ucap Hendrik care pada Abi.


"Pasti Bang'' jawab Abi mantap.


"Nih cowok kenapa gak berhenti buat jantung gue maraton sih, kalo gini terus bisa kena penyakit jantung gue'' batin Helena mencoba tenang dalam bersikap.


Sedangkan Abi sudah tersenyum penuh kemenangan saat ini. Entah apa tujuan Abi terhadap Helena.


...----------------...


Alice berharap setelah sadar dari tidur sementaranya, kejadian yang sudah terjadi adalah sebuah mimpi buruk. Namun ketika adegan demi adegan yang terekam sangat jelas di pikirannya itu, membuatnya tidak bisa menepis semua kebenarannya.


Bi birnya yang pucat dia gigit dalam-dalam agar suara isakannya tidak terdengar. Tubuh Alice mulai bergetar saat bayangan Luwis mulai menghantuinya lagi.


''Ya Tuhan! Apa aku sudah kotor? Hiks hiks'' gumamnya begitu menyakitkan bagi siapa pun yang mendengar suara isakannya.


Suara decitan pintu membuat Alice dengan cepat menghapus air matanya yang mulai membasahi pipinya dan sedikit membekap mulutnya agar suara isakannya teredam.


''Sayang.'' sapa Alvin. Ah! Ternyata yang datang itu adalah kekasihnya. Alice mencoba menunjukan wajah sebaik mungkin menandakan bahwa dirinya baik-baik saja.


''Alice. Ini gue sayang''


''Pergi'' lirihnya dengan kepala menggeleng kuat. Ternyata seberapa kuat dia menyembunyikannya, tetap tidak bisa saat rasa traumanya semakin menjadi-jadi sekarang.


Bahkan pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu pun menyerupai sosok pria bajingaan yang sudah melecehkannya, saat ini.

__ADS_1


''Pergi! Ku mohon jangan mendekat. Atau Alvin akan marah dan berakhir membunuhmu'' jeritnya sambil melindungi tubuhnya yang mulai ketakutan.


''Alice ini gue Alvin. Sayang''


''PERGIII. JANGAN SENTUH AKU SIAALAN'' bentaknya semakin histeris.


''Tubuh loe ternyata sangat bagus. Sayang sekali jika gue melewatkannya bukan''


Suara Luwis mulai kembali terdengar dan memenuhi pikirannya.


''Aaaa. Jangan lakukan itu, aku mohon'' jerit Alice semakin tak terkendali.


Hati Alvin sangat sesak saat melihat gadis yang dia cintai dalam keadaan kacau seperti itu. Dia berjanji akan membalaskan rasa takut dan sakit yang Alice rasakan saat ini.


Grep ....


''Sayang. Tenang, ini gue Alvin pacar kamu Lis'' Bisik Alvin saat berhasil mendekap tubuh Alice yang masih saja berontak dan bergetar.


''BOHONG! Kamu pasti orang jahat kan''


''Coba kamu tatap mata gue Lis'' nada suara Alvin mulai bergetar menahan tangis, saat mata bulat yang memerah itu mulai menatapnya.


''Iya sayang begitu'' Alvin menahan tatapan Alice agar tidak terlepas dari matanya. Perlahan tangan mungil yang bergetar itu terangkat menyentuh rahang Alvin


''Alvin. Hiks hiks'' Alice menyebutkan nama kekasihnya.


''Iya sayang. Ini gue pacar kamu'' Alvin tidak bisa menahan rasa sesaknya kala kening mereka bertemu. Meski di tahan sekuat apapun tetap saja air matanya meleleh juga.


Tetapi Alvin tidak boleh terlihat lemah di hadapan Alice. Yang ada Alice makin tertekan dan jatuh.


''Jangan takut sayang''


''Peluk aku Vin''


''Iya sayang'' Alvin membalas pelukan Alice tidak kalah eratnya.


''Peluk yang erat Alvin'' pinta Alice lagi.


"Iya. Kamu jangan takut lagi yah sayang. Sekarang kamu aman sama gue. Udah yah, gue sakit lihat kamu seperti ini Alice'' Alvin secara spontan berkata manis.


Alice mengangguk dalam dekapan hangat Alvin.


''Tidur lagi yah'' Alvin membawa tubuh Alice berbaring di atas brangkar bersamanya. Tangan Alvin mengepal sempurna merasakan rasa sakit yang di rasakan oleh kekasihnya saat ini.


''Gue gak akan setengah-setengah menghukum orang itu'' batin Alvin marah.


''Sayang?'' gumam Alice yang sudah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alvin


''Hm'' balas Alvin singkat.


''Aku udah kotor'' tubuh Alice mulai bergetar kembali dengan suara isakan kecil.


''Suuut. Kamu gak boleh bicara seperti itu, siapa yang bilang kamu begitu sayang. Kamu masih fress dan rapet, apa perlu aku buktikan sekarang?'' ucap Alvin dengan nada menggoda.


Bugh ...

__ADS_1


''Kamu mah. Jangan mesum di sini''


''Terus di mana dong? Di rumah kamu. Iyah'' goda Alvin lagi.


"Gak boleh di mana pun Vin'' tegur Alice dengan nada suara yang berat.


''Iya sayang. Sorry'' balas Alvin yang mengusap lembut punggung Alice.


''Iya. Hm'' gumam Alice makin dalam. Dan tidak lama suara napas teratur terdengar di telinga Alvin.


Luluh sudah air mata yang sedari tadi dia tahan itu. Dengan terus mengecup puncak kepala Alice, dia menangis dalam diam. Pandangan mata nya sangat tajam saat ini, sungguh Alvin akan memberikan rasa sakit yang setimpal atau bahkan lebih pada orang yang merencanakan hal buruk itu.


...****************...


''Loe ada masalah apa sama Aliska? Kenapa loe rencanain hal buruk ini terhadap dia''


Di hadapan Aiden ada seorang perempuan yang di ikat dengan posisi berdiri. Saat ini Aiden dan kedua temannya tengah mengintrogasi pelaku atau dalang di balik penculikan Aliska.


''JAWAB!'' bentak Aiden keras.


Perempuan itu hanya diam dan menangis tanpa mau menjawab pertanyaan dari Aiden. Bi birnya masih tetap rapat dan bungkam


''Loe bisu atau gagu, hah?'' desis Abi kesal


''Mungkin dia sariawan'' Celetuk Atala asal dan berakhir mendapat tatapan tajam dari Abi serta Aiden.


"Sorry'' bisik Atala yang kembali lagi ke mode seriusnya.


''Ok. Kalo loe masih gak mau ngomong, biar Alvin nanti yang bertindak. Dan gue pastikan loe bakal bicara dengan jujur setelah berhadapan dengan Alvin'' tutur Abi yang kembali meninggalkan Yuri di dalam ruangan khusus milik Nanda.


Brak ...


Pintu di tutup dengan sangat keras oleh Aiden. Mereka sangat kesal pada Yuri yang tidak mau berbicara sejak pertama kali dia di bawa kemarkas tersebut.


''Gimana?'' tanya Agatha yang kebetulan ada di sana saat ini.


"Masih sama bang, mingkem'' balas Atala cepat.


''Biarkan saja, dia itu jatahnya Alvin. Kita jangan sampai membuatnya marah dengan mengambil bagiannya meski pun sedikit'' terang Agatha yang lebih mengetahui bagaimana sifat asli yang di miliki Alvin.


''Hm.'' balas ketiga pria itu mengerti.


''Bawa makanan gak sih bang? Laper nih gue'' cetus Abi sambil mengusap perut ratanya. Abi memang terkenal kuat makan, sekali makan dia bisa menghabiskan dua porsi orang dewasa.


''Noh ada mie instan. Seduh sana'' balas Agatha menunjuk kantong plastik di hadapannya.


''Loe pada mau kagak?'' Abi memilih rasa mie yang dia suka.


''Boleh. Gue mau yang kari'' sahut Aiden.


''Gue juga sama'' timpal Atala.


Abi mengangguk pelan sambil membawa semua mie yang ada di dalam kantong tersebut. Dia akan memasak mie dengan porsi banyak saja pikirnya, berhubung jumlah mie yang di bawa Agatha sekisaran 10 bungkus. Juga di markas itu tersedia kompor serta peralatan dapur lainnya.


Ah! Sangat mendukung sekali pikir Abi.

__ADS_1


__ADS_2