
Beberapa hari sudah berlalu, seminggu lagi pernikahan Dian akan dilaksanakan.
berbagai persiapan pun sudah mulai dilakukan, baik keluarga Dian maupun keluarga Yusuf sudah saling menghubungi family mereka yang berada jauh di luar kota.
Minggu pagi Dian dan keluarga selalu menyempatkan untuk jogging keliling komplek.
saat Dian dan keluarganya pulang kerumah ternyata dirumah mereka sudah ada Yusuf yang duduk diteras rumah.
"ohhh ternya ta ada tamu toh....", ucap papanya Dian.
"iya .....maaf pak Agung, saya pagi - pagi sudah datang kesini", ucap Yusuf sambil menyalami papanya Dian.
"tidak apa - apa...mau ada perlu sama saya ala sama Dian?", tanya pak Agung sambil menemani Yusuf duduk diteras rumahnya.
"begini.....sebenarnya saya mau mengajak Dian untuk jalan - jalan, itupun kalo diperbolehkan", jawab Yusuf.
"tentu saja boleh.....asal perginya jangan terlalu jauh, kamu kan tahu sendiri seminggu lagi acara pernikahan kalian, jadi mama gak mau terjadi apa - apa sama kalian", jelas mamanya Dian.
Yusuf menganggukkan kepalanya, bahwa ia mengerti maksud mamanya Dian.
"bentar ya...mama masuk dulu, mau ngasih tau Dian untuk segera siap - siap", ucap bu Retno sambil berjalan menuju kamar Dian.
"ada apa ma?", tanya Dian yang melihat mamanya masuk ke kamarnya.
"kamu cepat mandi dan siap - siap, Yusuf mau ngajak kamu jalan", jawab mamanya.
"males ah ma.....aku lagi gak mau kemana - mana", ucap Dian dengan nada yang tidak bersemangat.
"kamu gak boleh gitu, kasihan Yusuf yang sudah menunggu diluar, jangan buat calon suamimu kecewa...pokoknya cepetan kamu siap - siapnya, mama tunggu diluar", ucap mamanya sambil berjalan keluar kamar.
dan Dianpun segera menuruti perintah mamanya, ia segera mandi dan bersiap - siap.
tak lama kemudian Dian sudah berada diteras rumah, siap untuk pergi bersama Yusuf.
__ADS_1
lagi - lagi tak ada percakapan di dalam mobil, mereka berdua hanya diam satu sama lain.
Dian hanya menatap keluar jendela, sedangkan Yusuf fokus mengemudi, dan sesekali mencuri pandang ke arah Dian.
"kamu koq diam aja?.....sariawan ya?", tanya Yusuf dengan sedikit bercanda.
"emangnya kita mau kemana?", Dian tidak menjawab pertanyaan Yusuf, ia malah berbalik tanya.
"aku mau membawamu ke sebuah tempat, yang jelas kamu akan menyukainya", jawab Yusuf.
beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai ditempat yg dituju.
tempat tersebut adalah sebuah pantai, pemandangannya cukup indah, cocok sebagai tempat untuk orang - orang yang mamadu kasih.
Dian benar - benar terpesona dengan tempat tersebut, ia merasa terhipnotis sehingga membuat ia merasakan rileks dan melupakan sejenak beban pekerjaan dan pikirannya.
dalam hatinya ia menggerutu, ternyata romantis juga selera calon suaminya, tapi buru - buru ia menyadarkan pikirannya kalo ia gak boleh terlalu percaya dulu sama laki - laki, ia gak mau dikecewakan lagi.
Yusuf melangkahkan kakinya dan diikuti oleh Dian, menuju sebuah meja yang dikelilingi empat kursi saling berhadap - hadapan dan diatas meja tersebut ada sebuah payung besar yang bisa melindungi dari teriknya sinar matahari.
"kenapa kamu mengajak aku kesini?", tanya Dian sambil pandangannya tertuju ke pantai yang terhampar luas didepannya.
Yusuf hanya tersenyum tanpa berkata apa - apa, lalu ia memindahkan posisi duduknya disebelah Dian.
ia menyerongkan duduknya tepat mengarah ke hadapan Dian.
"aku tau kalo kita berdua adalah korban perjodohan kedua orang tua kita, dan aku tau kalo kamu sebenarnya menolak ini semua, akupun demikian....tapi sejak aku melihatmu waktu acara lamaran kita, aku merasa ada yang aneh sama perasaanku, apalagi itu adalah pertemuan kita untuk yang kesekian kalinya setelah kita sebelumnya pernah bertemu tanpa disengaja, dan itu semuanya membuat aku yakin kalo kamu adalah orang yang dipertemukan oleh tuhan untuk ku", jelas Yusuf.
"kamu jangan terlalu mengukuti perasaan, karna perasaan bisa membuat kita sakit, kalo semuanya tidak sesuai dengan kenyataan", ucap Dian dengan pandangan jauh kedepan.
"kenapa kamu ngomong seperti itu?", tanya Yusuf
"aku cuma ngomong apa adanya, sesuai kenyataan, banyak yang tiba - tiba jatuh cinta karna perasaanya, tapi seketika itu juga banyak hati yang tersakiti karna perasaan cinta itu sendiri", jawab Dian.
__ADS_1
"kamu gak percaya dengan yang namanya cinta?", tanya Yusuf lagi.
"aku percaya sama cinta, tapi untuk saat ini aku lebih percaya pada kenyataan dari pada sama cinta", jawab Dian.
"cinta hanya akan membawa kita jauh kealam mimpi, dimana kita akan membayangkan hal - hal yang indah - indah tentang cinta, tapi setelah kita sadar dan mengetahui kenyataan kalo kita hanya dipermainkan cinta, maka kita akan menyadari kalo ternyata cinta itu benar - benar menyakitkan", jelas Dian.
perkataan Dian benar - benar membuat Yusuf bingung, ia merasa ada yang aneh, kenapa wanita disebelahnya begitu membenci yang namanya cinta, dalam hati Yusuf ia harus mencari tau banyak hal tentang Dian.
"baiklah kalo memang saat ini kamu tidak percaya dengan cinta, aku tidak memaksa... tapi kamu harus yakin kalo aku akan berusaha membuatmu percaya kalo cinta itu indah dan tidak menyakitkan", jelas Yusuf pada Dian.
setelah panjang lebar pembicaraan mereka tentang cinta, Yusufpun pamit sebentar ke toilet.
tapi setelah Yusuf kembali ke tempat semula, Dian sudah tidak ada disitu, dan Yusuf pun sempat panik.
setelah beberapa lama ia memandang sekelilingnya, mencari keberadaan Dian, akhirnya ia menemukan Dian sedang berjalan menyusuri
tepi pantai.
tak lama kemudian Yusuf segera menyusul ke tempat dimana Dian berada, dan ia berjalan disebelah kanan Dian, yang sempat membuat ia kaget karna tiba - tiba Yusuf sudah ada disebelahnya.
"kamu suka sama tempat ini?, tanya Yusuf.
"aku selalu kesini kalo aku sedang mengalami banyak masalah, dan tempat ini bisa membuat pikiran aku sedikit rileks untuk sejenak melupakan beban pikiran aku, karna tempat ini benar - benar menghipnotis pengunjungnya dengan keindahan alamnya, bahkan tak jarang pula aku kesini hanya untuk melepas lelah karna pekerjaan", jelas Yusuf.
Dian terus berjalan menyusuri tepi pantai, tak menghiraukan apa yang dikatakan Yusuf, sampai akhirnya kakinya tersapu ombak yang membuat dirinya sedikit oleng dan menyebabkan tubuhnya hilang keseimbangan.
tapi dengan cepat tangan Yusuf menarik tangan Dian, dan menyebabkan tubuh Dian jatuh kepelukan tangan Yusuf. dan akhirnya mereka saling berpandangan. untuk kesekian kalinya Dian dan Yusuf merasakan ada getaran yang aneh di dalam dada mereka.
"kamu gak pa-pa?", tanya Yusuf sambil melepaskan pelukannya.
Dian hanya menggelengkan kepalanya, bibirnya tak mampu berkata apa - apa, ia masih merasakan dadanya berdetak kencang.
Yusuf pun dengan lembut menggandeng tangan Dian, tapi kali ini Dian tak menolaknya, ia pun merasakan ada kenyamanan dibalik genggaman tangan Yusuf.
__ADS_1
hari sudah semakin senja, mereka berdua memutuskan untuk segera pulang, Yusuf pun mengantarkan Dian sampai ke rumahnya.
setelah tiba dihalaman rumah Dian, Yusuf langsung berpamitan pulang kerumahnya.