
Hari - hari dilalui dengan aktivitas seperti biasa, semuanya melakukan aktivitas masing - masing.
tak beda dengan yusuf dan dian mereka melakukan aktivitas rutin di tempat kerja masing - masing.
Dua hari lagi keluarga pak Maulana akan berkunjung kerumah Dian, sesuai dengan janji yang dibuat oleh kedua pihak.
kedatangan keluarga mereka bermaksud untuk mengenal lebih dekat keluarga pak Agung hermawan dan sekaligus melamar Dian.
Sore itu Dian pulang kantor seperti biasanya, ia langsung menuju kamar untuk membersihkan badan dan beristirahat sebelum jam makan malam tiba.
tapi tiba - tiba Dian mengambil ponselnya dan mulai menelpon Dewi.
"iya say......ada apa?", terdengar suara Dewi dari seberang telpon.
tapi Dian tidak menanggapi, ia hanya diam termangu sambil memegang ponsel, pandangannya kosong menerawang jauh.
"hello.....kamu denger gak sih, aku ngomong apa?", nada Dewi makin meninggi merasa jengkel karna Dian tidak merespon padanya.
sontak Dian kaget, "ah..i...iya....sorry !!!, kamu ngomong apa?, aku gak denger".
"ya jelas aja gak denger, orang situ pakai acara melamun segala", jelas Dewi dengan nada kesal.
"emang ada apa sih ?, baru juga sampai sudah nelpon", tanya Dewi lagi.
"begini Wi......aku bingung, dengan rencanaku yang aku omongin tadi di kantor, aku bingung ngomongnya sama papa dan mamaku", kata Dian.
"ya kamu ngomong aja terus terang kalo kamu menolak rencana perjodohan ini, aku yakin papa dan mama kamu bakalan ngerti, kamu kan anak kesayangan mereka, jadi mana mungkin mereka membiarkan anak kesayangannya menderita", nasehat Dewi.
"tapi aku ragu Wi......, kamu kan tau sendiri gimana sifat papa", jelas Dian.
"kamu coba aja dulu, aku doakan semoga usahamu berhasil", semangat si Dewi.
__ADS_1
"heeemmmmm........", tanpa berkata apapun, Dian langsung memutuskan sambungan telponnya.
Tak lama kemudian waktu makan malam pun tiba, seperti biasa keluarga Dewi berkumpul di meja makan untuk makan bersama.
mereka semua melahap makanan yang ada di meja dengan tenang , tanpa ada percakapan sedikitpun.
"oh ya sayang......jangan lupa ya, dua hari lagi keluarga pak Maulana mau sowan kesini, mau kenal lebih dekat sama keluarga kita sekaligus melamarmu untuk anaknya, ingat itu !!!", celetuk mamanya tiba - tiba.
tiba - tiba Dian batuk - batuk, seperti ada makanan yang tersedak ditenggorokannya, mendengar kata - kata mamanya.
"kenapa kak ?", tanya Dilla merasa heran melihat kakanya tiba - tiba seperti tersedak makanan.
"gak ada apa -apa", jawab Dian, sambil terus melahap makanannya dengan santai.
"oh ya pa, ma.....selesai makan ada yang mau aku omongin sama papa dan mama", ucap Dian, sambil melangkah menuju ruang tengah
papa, mama, dan dilla saling pandang, mereka bingung kira - kira apa yang mau diomongin Dian.
saat mamanya memandang ke arah Dilla, ia hanya mengangkat kedua bahunya, sebagai tanda kalo ia gak.mengerti maksud kakaknya.
"memangnya apa yang mau kamu omongin sama kita nak ?", tanya papanya sambil duduk disebelah kanan Dian.
"iya kak......, bikin penasaran aja", celetuk Dilla, sambil membuka - buka majalah fashion.
Dian hanya menghela napas, seperti berat untuk mengatakannya.
"begini pa, ma.......aku memutuskan untuk menolak perjodohan ini, aku gak bisa dan gak mau menikah sama orang yang belum aku kenal", jelas Dian.
"apaaa.......emangnya kamu mau membuat keluarga ini malu, karna papa mengingkari janji papa sama keluarga pak Maulana", ucap papanya, dengan nada sedikit meninggi.
"tapi bagaimanapun juga ini masalah hati, jadi gak bisa dipaksakan pa !!!", kata dian sambil matanya berkaca - kaca, seolah air matanyanmau tumpah.
__ADS_1
"keputusan papa sudah bulat, kamu harus tetap menerima lamaran tersebut.....titik !!!!!", papanya berkata dengan nada marah sambil pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
"tidaaakkkkkk.......,aku tetap tidak mau menerimanya, kalo papa memaksa, aku akan pergi dari rumah ini", kata Dian sambil air matanya tak terbendung, mengalir deras di pipinya.
papanya tak menghiraukan ucapan Dian, ia terus melangkahkan kakinya menuju kamar.
mama dan Dilla hanya bisa memandang Dian dengan tatapan sedih.
"sudahlah sayang.......kamu turuti aja kemauan papamu, kamu terima lamaran keluarga pak Maulana, kamu harus bisa belajar mencintai calon suamimu, karna cinta bakalan tumbuh seiring waktu saat kalian hidup bersama - sama", nasehat mamanya sambil mengelus - elus tangan kiri Dian.
tanpa berkata apapun, Dian langsung memeluk mamanya dengan tangis yang makin menjadi, mamanya hanya bisa mengelus rambut Dian.
"ma.....Dian mohon mama ngomong sama papa, untuk membatalkan rencananya", pinta Dian sama mamanya.
"mama akan coba, tapi mama gak janji, kalo papamu mau mengurungkan niatnya.....kamu kan tau sendiri sifat papamu yang keras, kalo ia sudah punya keputusan gak bisa diganggu gugat", ucap mamanya sambil melepaskan pelukan Dian dan mengelus pundaknya.
Dian hanya mengangguk, sambil berkata "baiklah ma kalo gitu aku mau kekamar dulu, mau istirahat, aku capek".
lalu Dian pergi meninggalkan mamanya dan Dilla, yang hanya bisa memandang Dian sampai masuk kekamarnya di lantai dua.
kemudian disusul mamanya yang juga pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya juga.
saat Dilla berjalan menuju kamarnya, tiba - tiba ia dikagetkan oleh bi Siti.
bi Siti adalah salah satu pembantu rumah Dian yang paling lama, usianya sekitar lima puluh tahunan.
"Bi Siti, bikin kaget aja", teriak Dilla.
"Maaf non......bibi gak sengaja ngagetin, bibi cuma mau tanya, tadi bibi lihat non Dian masuk kamarnya sambil nangis.......emangnya ada apa ya non?", tanya bi Siti.
"iya bi.....dua hari lagi mau ada yang datang kesini, buat ngelamar kak Dian", jelas Dilla.
__ADS_1
"ohhhh.....", bi Siti sambil manggut - manggut.
kemudian Dilla melanjutkan berjalan menuju kamarnya, dan bi Siti berjalan ke dapur sambil menggerutu dalam hati, " kasihan non Dian".