
Keesokan harinya Dian pagi - pagi siap berangkat ke kantor, ia berjalan melewati ruang makan.
"kamu gak sarapan dulu sayang?", tegur mamanya yang sudah duduk dimeja makan bersama papa, dan adiknya.
"maaf ma, pa......aku mau pamit", ucap Dian, sambil menyalami tangan mama dan papanya.
"kamu mau kemana sayang?.....koq bawa tas pakaian?, kamu ada dinas luar ya?", tanya mamanya lagi yang merasa heran.
"tidak ma.....aku mau pergi sementara waktu dari rumah ini dan dari kesibukan aku dikantor", jawab Dian.
"tapi sayang.......", ucap mamanya.
"iya ma......aku tetap pada keputusanku menolak perjodohan ini", jawab Dian sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Dian stop !!!!!!....", teriak papanya.
"kalo kamu tetap nekat pergi dari rumah ini, silahkan........., tapi jangan harap papa bisa menerima mu kembali ke rumah ini, dan jangan harap kamu bisa menerima semua fasilitas dari papa", ucap papanya dengan emosinya yang tak terkendali.
Dian menghentikan kakinya, dan membalikkan badannya ke arah ke dua orang tuanya.
"baik pa......., kalo memang itu kemauan papa, aku terima, makasih pa untuk semuanya....aku pamit dulu", ucap Dian sambil meneteskan air mata.
lalu Dian melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu, sambil sesekali mengusap air matanya.
"Dasar anak kurang ajar.....gak tau diuntung !!!!!!, teriak papanya lagi.
__ADS_1
Tiba - tiba, papanya mengerang kesakitan dan memegangi dada kirinya.
mama dan Dilla kaget yang melihat papanya sempoyongan dan mengerang menahan sakit didadanya.
rupanya penyakit jantung papanya kambuh lagi.
"papa....papa...papa !!!!!!", teriak Dilla dan mamanya, sambil menggoyang - goyangkan tubuh papanya yang jatuh dilantai.
"kak..!!!!!!, papa kak....!!!!!", teriak Dilla sambil terus menangis.
Dian yang berada di pintu ruang tamu, kaget mendengar teriakan adiknya, lalu ia membalikkan badannya dan berlari ke arah ruang makan, ia melihat papanya tergeletak tak sadarkan diri.
Dian pun langsung berlari menghampiri papanya dan langsung memeluk tubuh papanya, sambil air matanya makin deras tak terbendung.
"bi....bi Siti...!!!!!!, cepat panggil pak Atmo suruh menyiapkan mobil", teriak Dian.
kemudian pak Atmo, Dian, Dilla dan mamanya membopong papanya kemobil untuk dilarikan ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit mereka membawa papanya menuju IGD, dan disitu papanya langsu g diberi pertolongan pertama, selang oksigen lagsung dipasang dan dilarikan menuju ruang ICU.
setelah beberapa saat di ruang ICU dan beberapa peralatan medis nampak dipasang disekujur tubuh papanya, tak henti - hentinya Dian, Dilla dan mamanya terus menangis didekat jendela ruang ICU.
dari luar ruangan nampak dokter Subandi sedang menangani papanya Dian, dokter Subandi adalah dokter spesialis jantung di rumah sakit tersebut.
dan disaat itu pula Dian langsung menghubungi sekertarisnya di kantor. ia mengatakan kalo dirinya tidak bisa datang ke kantor dikarenakan papanya masuk ruang ICU.
__ADS_1
setelah beberapa lama, akhirnya dokter Subandi keluar dari ruangan.
"alhamdulillah......keadaan pak Agung hermawan sudah melewati masa kritisnya, kita tunggu saja beberapa jam kemudian insha alloh pak Agung Hermawan akan siuman", kata dokter Subandi.
"tapi keadaan papa saya gak apa - apa kan dok?", tanya Dian dengan penuh kekhawatiran.
"insha alloh semua akan baik - baik saja", jelas dokter Subandi
"kalo nanti pak Agung hermawan sudah siuman, beliau akan kami pindahkan keruang perawatan", jelas dokter Subandi lagi.
"baik dok.....terima kasih", ucap Dian.
dokter Subandi hanya mengangguk dan tersenyum sambil meninggalkan keluarga Dian.
lalu tiba - tiba nampak Dewi yang datang dari ujung pintu menuju ke arah keluarga Dian.
lalu Dewi menghampiri bu Retno, mamanya Dian dan memeluknya.
"yang sabar ya tan......", ucap Dewi sambil mengelus punggung bu Retno.
bu Retno hanya menggangguk sambil sesekali mengusap air matanya yang mengalir di pipi.
"yang sabar ya say.....", ucap Dewi sambil mengelus pundak Dian.
"oh ya aku tadi di kasih tau Lisa kalo kamu gak ngantor karna om Agung masuk rumah sakit, emang apa yang terjadi sampai om Agung bisa ngedrop?", tanya Dewi.
__ADS_1
"ceritanya panjang wi", jawab Dian.