Kembalinya hati yang telah mati

Kembalinya hati yang telah mati
Tamu tak diundang


__ADS_3

Sudah beberapa hari Dian tidak ngantor, ia hanya memantau pekerjaannya dari rumah melalui email yang dikirim sekertarisnya maupun rekan bisnisnya yang lain, karena ia harus banyak istirahat dan Yusuf pun melarang istrinya untuk terlalu capek


perhatian Yusuf selama ia sakit membuatnya sedikit demi sedikit tumbuh benih - benih cinta dihatinya, tapi Dian masih belum seratus persen menerima semua itu, di dalam hatinya masih ada keraguan yang belum bisa ia singkirkan


"pagi sayang...!!!, kamu jadi kekantor sekarang?", sapa Yusuf saat bangun dari tidurnya dan melihat istrinya duduk dimeja rias


"iya......aku kan sudah lama gak masuk kerja, dan sepertinya hari ini banyak file yang sudah numpuk dimeja kerjaku dan harus aku tanda tangani", jawab Dian


" oh ya mas....!!!, kamu bisa kan nganterin aku kekantor dulu?"


"siiiaappp...!!!, apa sih yang gak bisa untuk istri tercintaku", jawab Yusuf menggoda istrinya sambil ia melangkah menuju kamar mandi


Dian hanya tersenyum melihat tingkah suaminya, dan ia pun segera menyiapkan baju kerja suaminya dan meletakkannya di atas tempat tidur, lalu ia segera turun dan menunggu suaminya di meja makan


saat Yusuf keluar dari kamar mandi dan ia melihat baju kerjanya sudah ada diatas tempat tidur, ia hanya tersenyum ringan, rupanya istrinya sudah mulai ada sedikit perhatian pada dirinya, tapi dalam hati Yusuf masih harus ekstra sabar untuk bisa mendapatkan hati istrinya seratus persen


setelah mereka berdua selesai sarapan, merekapun berangkat kekantor bersama - sama, seperti permintaan Dian, Yusuf pun mengantarkan istrinya terlebih dahulu dan ia melanjutkan pergi ke kantornya


"hai....say !!!!, kamu sudah benar - benar sehat?, koq sudah ngantor?", tanya Dewi yang kebetulan ketemu Dian di halaman kantor


"sorry ya....aku gak bisa jenguk dan nemenin kamu waktu sakit kemaren, kamu kan tau sendiri saat kamu gak masuk kerja, Andika meminta ku untuk kekantor cabang menggantikan dirimu, sekali lagi aku minta maaf ya....!!!, ucap Dewi sambil terus mengikuti Dian sampai tiba dilantai atas


"ah....sudahlah !!!, tak masalah, lagian aku juga sudah ada juru rawat yang sangat - sangat sabar dan telaten", ucap Dian sambil terus melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya dan ia hanya tersenyum saat melihat beberapa karyawannya yang menganggukkan kepala memberi hormat


"emang siapa sih, orangnya....???", tanya Dewi semakin penasaran, sampai - sampai ia mengikuti Dian masuk ruang kerjanya


"ah....sudahlah !!!, itu gak penting buat kamu, sudah sana kamu kembali ke ruangan mu, sebentar lagi kita meeting membahas masalah manajemen hotel yang baru ada masalah minggu lalu


"awas kamu ya...!!!, pokoknya kamu berhutang cerita ke aku, kalo sampai kamu gak mau cerita, kita putus jadi sahabat", ucap Dewi yang merasa kesal karna Dian tidak mau menceritakannya


Dian hanya tersenyum simpul melihat sahabatnya itu yang merasa kesal dan penuh penasaran dengan ucapannya


sesaat kemudian meeting pun dimulai, Dian nampak serius memimpin meeting tersebut, sampai akhirnya meeting yang berjalan selama tiga jam itupun selesai. nampak beberapa peserta meeting keluar satu - persatu dari ruangan tersebut, hanya tinggal Dian dan Lisa


"oh ya bu Dian.....kemaren ada seseorang yang yang menelpon ke bagian receptionis, katanya minta dibuatkan jadwal untuk ketemu ibu sekarang", ucap Lisa sambil membereskan beberapa file yang ada diatas meja didepannya

__ADS_1


"siapa orang itu ?, apa ia klien bisnis aku ?", tanya Dian


"maaf bu.....orang tersebut tidak memberitahukan identitasnya", jawab Lisa


"kalo begitu, jangan ijinkan orang tersebut buat janji dan menemuiku", ucap Dian sambil meninggalkan ruangan tersebut


"maaf pak !!!, memangnya bapak sudah buat janji bertemu bu Dian ?", tanya salah satu receptionis pada seorang laki - laki yang datang ke kantor Dian


"kamu lupa ya....!!!, aku kan yang kemaren nelpon minta dibuatkan jadwal bertemu bos kamu", jawab lelaki tersebut


"maaf pak !!!, kalo begitu bentar ya pak....saya hubungi bu Lisa dulu saya tanyakan apa bu Dian bisa ditemui apa tidak", ucap wanita tersebut sambil mengangkat gagang telpon


"maaf pak !!!!, bu Dian tidak bisa ditemui"


"apa kamu bilang...!!!," lelaki tersebut sambil menggebrak meja receptionis


"kalo begitu biar saya langsung keruangannya saja", dan lelaki tersebut langsung menuju lift untuk menuju ke ruangan Dian


saat sampai di depan ruang kerja Dian, "bos kamu ada ????", tanya lelaki tersebut saat di depan meja Lisa


"kamu bilang sekarang, kalo saya ingin menemuinya....!!!!", ucap Hendra dengan nada tinggi dan posisi tangan kanannya diatas meja Lisa serta tangan kirinya disamping pinggangnya


"tapi pak.....!!!", tiba - tiba ucapan Lisa terputus, saat melihat Hendra memaksa masuk keruangan Dian


Lisa tidak bisa berbuat apa - apa, karna ia tau siapa Hendra dan ia pun tahu siapa Hendra di masa lalu Dian


ternyata pintu ruangan Dian tidak dikunci, Hendra berhasil membukanya dan masuk keruangan tersebut, Lisa hanya bisa membuntutinya dari belakang


"Hai....sayang !!!!, sepertinya kamu sibuk ya ?, sampai - sampai kamu tidak menyambut kedatanganku", ucap Hendra dengan nada sombongnya sambil melangkah menuju ke sofa diruangan tersebut, ia lalu duduk dengan posisi kaki kanan diatas kaki kirinya


"maaf bu Dian !!!, tadi saya sudah melarangnya, tapi pak Hendra memaksa masuk", ucap Lisa dengan nada sedikit takut


"tidak apa - apa Lisa, kamu boleh pergi sekarang, kamu lanjutkan pekerjaanmu", perintah Dian, dan disambut anggukan kepala Lisa yang kemudian meninggalkan ruangan tersebut


"ada perlu apa kamu sampai datang kemari ?, aku rasa gak ada hal penting yang harus kita bicarakan", ucap Dian sambil pandangannya tetap tertuju pada layar monitor didepannya

__ADS_1


"iya....memang gak ada, aku cuma ingin bertemu denganmu secara pribadi, aku kangen sama kamu"


"kenapa waktu itu bukan kamu sendiri yang datang, kenapa harus Dewi ?", tanya Hendra sambil melangkah mendekat arah Dian,


dan sekarang tubuh Hendra sudah berada persis disebelah tempat duduk Dian, ia membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya kearah Dian


Dian yang merasa risih dengan tingkah laku Hendra, mencoba menghindar namun belum sampai ia meninggalkan tempat duduknya, tangan kanannya ditarik Hendra hingga membuat tubuh Dian jatuh ke pelukan Hendra


"lepaskan Hendra...!!!, jangan kuranga ajar !!!!", Dian mencoba melepaskan genggaman dan pelukan Hendra


/// plaaakkk ///


tamparan tangan Dian mendarat tepat dipipi kanan Hendra, hingga membuat Hendra sempat meringis menahan sakit, tapi semua itu malah membuat Hendra tertawa dengan mengelus pipi kanannya


"jaga sikap kamu Hendra !!!.....jangan kurang ajar...!!!!, aku sekarang bukan aku yang dulu, aku sekarang........." , ucapan Dian sempat terputus karna tiba - tiba Hendra memotong perkataan Dian


"aku tau....kamu sekarang sudah menikah, tapi semua itu tidak membuatku berhenti untuk mendapatkan hati mu lagi, aku akan tetap berusaha apapun dan bagaimanapun caranya"


" kamu tau darimana kalo aku sudah menikah....?dan apa maksud dengan semua peekataanmu itu....????", tanya Dian yang sedikit heran dari mana Hendra tau kalo dirinya sudah menikah dan ia pun sempat bingung dengan maksud perkataan Hendra


"tenang aja.....nyantai !!!!, ucap Hendra sambil melangkah menuju sofa dan duduk disebelah Dian


lagi - lagi Dian yang merasa risih dengan sikap Hendra, berusaha menggeser posisi duduknya menjauhi Hendra


"aku tau semuanya tentang kamu dari Dewi sahabatmu itu, ia sudah menceritakan bahwa kamu sudah menikah tapi semua itu karna terpaksa, kamu dijodohkan sama orang tua kamu, maka dari itu aku yakin kalo hati kamu masih mengharapkan cinta ku.....iya kan...???", ucap Hendra dengan nada sedikit menggoda, tapi dengan rasa percaya dirinya


"jangan pernah bermimpi untuk semua itu Hendra....!!!!, dalam kamus hidupku gak ada yang namanya balikan lagi sama orang yang sudah menghianati dan menyakiti hatiku", ucap Dian tegas


"dan sekarang kamu keluar dari ruangan ini !!, kalo tidak aku bisa panggilkan satpam untuk menyuruh kamu keluar dari sini dengan tidak sopan", perintah Dian sambil telunjuk tangannya mengarah ke arah pintu


"sabar sayang..!!", ucap Hendra sambil menggeser posisi duduknya makin mendekati Dian


"stoopp....Hendra !!!, aku minta sekarang juga kamu keluar.... !!!, sebelum kesabaranku habis", ucap Dian sambil berdiri dari tempat duduknya


"baik !!, baik!!....aku akan pergi sekarang juga, tapi ingat aku gak main - main dengan ucapanku, tunggu sampai waktunya tiba, aku pasti bisa mendapatkan hatimu kembali", ucap Hendra sambil melangkah keluar ruangan tersebut

__ADS_1


__ADS_2