Kembalinya hati yang telah mati

Kembalinya hati yang telah mati
Minta bantuan agar dekat dengan Arin


__ADS_3

"Pagi say....! Beni bilang kamu bakalan pindah rumah dekat ama rumah ortu kamu ya ?" tanya Dewi saat bertemu dengan Dian dilobby kantor


"iya....tapi masih nunggu proses jual belinya dulu, insha alloh prosesnya bakalan selesai dalam dua hari ini" jawab Dian


"emangnya kenapa dengan rumah kamu yang lama ?" tanya Dewi lagi sambil tangannya memencet nomor lift yang akan dituju


"gak kenapa napa sih ! cuma ortu aku mau agar aku pindah dekat rumah mereka, soalnya mama bilang biar lebih dekat sama cucunya" jawab Dian


"ohh.....kirain kamu sudah gak betah dengan rumah lama kamu"


setelah sampai di lantai yang dituju, Dian pun segera keluar dari lift, sedangkan Dewi masih didalam lift menuju ke lantai tempat ruangan kerjanya berada


sementara beberapa jam kemudian....


"maaf pak ! apa bapak sudah ada janji sama bu Dian ?" tanya seorang receptionis


"belum mbak !" jawab lelaki yang berdiri didepan meja receptionis


"kalo begitu saya hubungi dulu sekertarisnya bu Dian ya pak !" ucap receptionis tersebut, dan dibalas anggukan oleh lelaki itu


"maaf pak ! bu Dian nya masih belum bisa diganggu, beliau masih ada tamu diruangannya, silahkan bapak tunggu dulu disebelah situ !" ucap receptionis itu dan menunjuk sofa panjang yang ada disudut lobby


setelah beberapa jam menunggu akhirnya, lelaki tersebut diperbolehkan menuju keruangan Dian


"silahkan bapak langsung masuk keruangan ibu Dian !" perintah Lisa saat lelaki itu berada didepan ruangan kerja Dian


"masuk....!!" terdengar perintah dari dalam ruangan saat Dian mendengar pintu ruang kerjanya ada yang mengetuk


"aku ganggu gak nih ?" tanya lelaki itu saat sudah masuk keruang kerja Dian, sementara Dian sibuk dengan lap top yang ada di depannya


"eeehhh.....kak Dewa, duduk kak ! kirain siapa ?"


"sibuk ya ?"


"ya.....lumayan lah ! barusan ada klien baru, yang akan mengajak kerja sama untuk mendirikan super mall dikota C, jadinya aku harus mempelajari dulu proposalnya" jawab Dian, sambil memberikan sebotol air mineral pada Dewa

__ADS_1


"waaahhh....makin hebat aja ya kamu !" puji Dewa


"apaan sih ! biasa aja kale !"


"oh ya....ada apa lagi nih, sampai kak Dewa datang kesini lagi ? masih soal Arin ?" tanya Dian


"iya.....aku mau minta bantuan kamu, biar aku bisa dekat dan mengenal adik ipar kamu itu" jawab Dewa sambil sedikit senyum senyum dan memainkan kedua alisnya


"kan....sudah aku kasih no hapenya ke kakak !"


"iya....tapi aku malu kalo harus nelpon duluan, ntar dia kira aku orang yang iseng dan mau macem macemin dia"


"pliisss....aku mohon, mau ya bantu, bagaimana pun caranya !" rajuk Dewa seperti sedang mengemis sesuatu sambil tangannya dikatupkan didepan dadanya


"iya...iya deh aku bantu dengan rencana aku ! bentar aku telpon dulu anaknya, moga moga aja dia gak sedang ada kuliah pagi" ucap Dian sambil memencet nomor diponselnya sambil mukanya sedikit sebal karna sikap Dewa


"makasih ya....kamu memang calon kakak ipar aku yang baik deh !" canda Dewa sambil mencolek lengan Dian


"iiiihhhh.....ngareepp !" balas Dian dan Dewa hanya merespon dengan cengengesan seperti orang yang gak punya dosa


"iya dek ! kamu sibuk tidak ?" tanya Dian saat sambungan ponselnya sudah tersambung dengan ponsel Arin


"iya kakak tunggu ya !" ucap Dian sambil mengakhiri panggilan telponnya


"kakak tunggu aja, bentar lagi juga ia datang !" ucap Dian sambil melangkah kearah meja kerjanya


"Lisa.....kamu hubungi receptionis, kamu bilang kalo ada wanita yang mencari aku namanya Arin, suruh langsung masuk keruangan aku aja !" perintah Dian melalui telepon kantor


"apa kak Dewa mau aku pesankan makan siang ?" tanya Dian yang kembali sibuk dengan lap top nya


"gak usah !, ntar aku makan diluar aja, sekalian aku bisa ajak adik ipar kamu" jawab Dewa sambil bersandar di sofa dan tangannya sibuk memainkan ponselnya


setelah beberapa lama Dian dan Dewa menunggu akhirnya yang ditunggu pun tiba


"masuk.....!" perintah Dian saat terdengar pintu ruangannya diketuk

__ADS_1


"maaf bu Dian....!, ini mbak Arinnya sudah datang" ucap Lisa setelah membuka pintu ruang kerja Dian


"iya, makasih Lis, kamu bisa kembali ke tempat kerja kamu !" ucap Dian dan dibalas anggukan oleh Lisa sambil melangkah keluar ruangan


"ayo duduk sayang !" perintah Dian pada Arin


"iya kak !, oh ya emangnya ada apa kakak meminta aku kemari ?" tanya Arin penasaran saat ia sudah duduk diujung sofa menghadap Dian


sementara Dewa memperhatikan gadis yang duduk didepannya tanpa berkedip sedikitpun, dalam hati ia merasa senang karna sekarang ia bisa memandang gadis yang ia suka dari dekat


"begini dek, kamu kan pernah bilang kalo kamu punya teman seorang desainer dan pemilik butik yang spesialisasi pakaian pria" ucap Dian


"iya benar kak ! emangnya kakak mau pesan pakaian untuk mas Yusuf ?" tanya Arin


"bukan ! bukan kakak yang mau pesan, tapi teman kakak yang duduk didepan kamu itu yang mau pesan" jawab Dian sambil mengarahkan mukanya ke arah Dewa


Arin pun langsung menolehkan mukanya sesuai ucapan Dian, dan ia melihat sosok laki laki yang melihatnya dengan tersenyum dan Arin pun membalasnya dengan menganggukkan kepalanya dengan sopan sambil membalas senyum Dewa


"dia itu namanya kak Dewa, kakaknya kak Dewi, ia mencari desainer yang khusus pakaian pria, jadi kakak merekomendasikan teman kamu itu"


"kamu mau kan mengantarkan kak Dewa ketempat teman kamu itu ?" tanya Dian sambil kedua tangannya menopang dagunya diatas meja kerjanya


"iya kak !" jawab Arin sambil menganggukkan kepalanya


"makasih ya dek !"


"sama sama kak !" ucap Arin


"ya udah, kalo gitu berangkat sekarang yuk !" ajak Dewa sambil berdiri dari tempat duduknya, dan dibalas anggukan Arin dengan sopan


"kak, aku berangkat dulu ya !" ucap Arin sambil melangkah ke arah pintu


"iya, kamu hati hati ya !"


"kak, jaga adek aku baik baik ! awas kalo sampai kenapa napa !" ucap Dian yang masih dengan posisi duduknya di meja kerjanya

__ADS_1


"siiaaappp, komandan !" jawab Dewa sambil mengangkat tangannya, lalu mereka berdua pun menghilang dibalik pintu


Dian yang melihat semua itu, hanya tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya


__ADS_2