
akhirnya hari terakhir liburan mereka pun tiba, waktunya besok mereka kembali pulang ke rumah, tapi hari itu mereka mengurungkan niatnya untuk kembali jalan - jalan ke tempat yang belum sempat mereka kunjungi, karna Dian merasa pusing dan sepertinya agak kurang enak badan
"kamu istirahat aja ya sayang...., biar aku hubungi lagi pak sopirnya untuk membatalkan rencana jalan - jalannya", ucap Yusuf sambil meraih ponselnya dan mulai menelpon sopir tersebut
Dian tak berkata apapun ia langsung menelusupkan tubuhnya kedalam selimut, dan beberapa saat kemudian matanya mulai terpejam
sedangkan Yusuf dengan setianya menunggu dan mendampingi istrinya di dalam kamar
Yusuf semakin cemas melihat keadaan istrinya "sayang apa perlu aku panggilkan dokter ?"
"gak usah mas, sebentar lagi aku pasti akan membaik", jawab Dian dengan masih memejamkan matanya
__ADS_1
"kalo gitu kamu minum aja teh hangat yang sudah aku buatkan tadi", lalu Yusuf pun segera mengambilkan secangkir teh yang sudah ia siapkan untuk Dian, karna memang setiap pagi selama ia dan Dian menginap selalu disediakan se teko air panas dan teh untuk mereka dari pihak hotel
Dian pun segera meminum teh buatan suaminya, tapi setelah beberapa teguk, ia merasa perutnya mual dan ingin muntah, kemudian ia lari ke kamar mandi dan tak berapa lama ia pun memuntahkan semua isi perutnya, Yusuf dengan sabar mengurut tengkuk Dian agar istrinya merasa lebih rileks
"kamu gak apa - apa sayang ?", tanya Yusuf yang makin khawatir melihat wajah Dian yang semakin pucat
Dian hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali berjalan menuju tempat tidur, dan kembali merebahkan tubuhnya
sementara selama seharian Dian hanya beristirahat diatas tempat tidur, Yusuf pun menyiapkan semua barang - barangnya yang akan dibawa pulang besok
"kamu bener gak apa - apa ?, kalo memang kamu masih gak enak badan, kita tunda aja kepulangan kita", ucap Yusuf sambil membopong istrinya ke tempat tidur
__ADS_1
"gak usah mas, aku masih kuat, kamu cepetan siap - siap, sebentar lagi kita pasti akan dijemput untuk segera berangkat ke bandara"
"kalo gitu, nanti sesampainya dirumah aku akan segera bawa kamu ke dokter", ucap Yusuf sambil melangkah menuju ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan badannya
mereka berdua pun segera berkemas - kemas, dan tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya dan ternyata itu seorang pegawai hotel yang memberi tahu kalo mereka berdua sudah dijemput oleh pihak tour and travel, dan mereka berdua segera turun ke lobby untuk segera meninggalkan hotel tersebut
selama dalam perjalanan, baik perjalanan ke bandara maupun perjalanan menggunakan pesawat, Dian selalu menyandarkan kepalanya di bahu Yusuf, Dian merasa tubuhnya lemas seperti tak bertenaga
sesampainya di bandara, saat berada di pintu kedatangan Dian mengeluh kepalanya pusing kepada Yusuf dan Yusuf pun menyuruh Dian untuk duduk dideretan bangku yang ada disekitar tempat tersebut, tapi saat Dian baru duduk di deretan bangku tersebut, tiba - tiba matanya berkunang - kunang dan beberapa saat kemudian tubuhnya jatuh dipangkuan Yusuf, Yusuf pun sempat panik karna sepertinya Dian pingsan dan beberapa kali Yusuf menepuk - nepuk pipi istrinya tapi Dian tak memberikan respon apapun, akhirnya Yusuf pun segera menggendong tubuh istrinya ke luar halaman parkir bandara, dan memasukkan tubuh Dian ke dalam mobil travel bandara, untung saja disitu banyak berderetan travel bandara yang mangkal dan siap mengantarkan penumpang, dan petugas bandara yang mengetahui peristiwa tersebut segera membantu Yusuf untuk membawakan kopernya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil yang ditumpangi Yusuf
mobil tersebut segera membawa Yusuf ke salah satu rumah sakit yang paling dekat dengan bandara tersebut karna Yusuf ingin agar istrinya segera mendapatkan pertolongan dan Yusuf tidak mau terjadi apa - apa sama Dian
__ADS_1
sesampainya di rumah sakit, Yusuf langsung keluar dari mobil dan menuju ruang IGD, setelah itu beberapa perawat pun langsung keluar ke halaman dimana mobil yang ditumpangi Yusuf berhenti, lalu mengeluarkan Dian dan membaringkannya diatas tempat tidur dorong dan membawa Dian masuk ke dalam ruangan tindakan medis, untuk segera mendapatkan pertolongan, sementara Yusuf yang makin panik dengan keadaan istrinya, terus memegangi tangan Dian sambil mengikuti beberapa perawat yang membawa Dian ke sebuah ruangan tindakan medis, sesampainya di luar ruangan tersebut Yusuf tidak diperbolehkan masuk, ia hanya diperbolehkan mengantar istrinya sampai depan pintu dan dipersilahkan untuk menunggu di luar ruangan
sementara selama Yusuf menunggu Dian untuk diperiksa , dengan kepanikan dan kekhawatiran ia menyempatkan diri untuk menelpon menghubungi keluarga Dian dan keluarganya