Kembalinya hati yang telah mati

Kembalinya hati yang telah mati
Kedatangan Beni


__ADS_3

Malam itu dirumah Dewi, semua keluarga Dewi ada ayah, ibu dan kakak laki laki Dewi berkumpul di ruang keluarga, mereka semua sedang bersantai bersama sambil nonton acara televisi


tak lama kemudian yang ditunggu Dewi pun akhirnya datang, Beni datang seorang diri dengan mengendarai mobil honda jazz hitam miliknya, setelah ia masuk memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Dewi, iapun segera berjalan menuju keteras rumah


"assalamu'alaikum....." ucap Beni sambil memencet bel rumah, saat tiba di depan pintu rumah Dewi


"wa'alaikumsalam...." sahut Dewi dari dalam rumah, berjalan untuk membukakan pintu dan menghampiri Beni yang berdiri didepan pintu


"ayok masuk mas !" ajak Dewi sambil menggandeng tangan Beni dan mengajaknya langsung keruang keluarganya


"ma....pa...., kenalkan ini Beni, teman aku" ucap Dewi memperkenalkan Beni kepada ke dua orang tuanya


"teman apa teman ?" celetuk kakak Dewi


"apaan sih kamu kak !, pengen tau aja" jawab Dewi sambil menunjukkan muka sewotnya pada kakaknya


"malam....om, tante !!, sapa Beni dengan sopan sambil bersalaman dengan kedua orang tua Dewi, dan disambut hangat oleh kedua orang tua Dewi


"oh ya mas.....kenalin juga, ini kakak aku namanya kak Dewa" ucap Dewi sambil tangannya menunjuk ke arah kakaknya


"malam kak !", sapa Beni sambil mengulurkan tangannya ke arah Dewa, dan disambut oleh Dewa dengan dibarengi senyum manisnya


setelah berkenalan dengan semua anggota keluarga Dewi, Beni pun dipersilahkan duduk, dan ia pun duduk bersebelahan dengan kak Dewa tepat diseberang ke dua orang tua Dewi


"oh ya....nak Beni ini bener temannya Dewi ?" tanya ibundanya Dewi


"awalnya saya, memang berteman biasa sama Dewi tante, tapi untuk kedepannya saya ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Dewi" jawab Beni dengan sopannya


"memangnya nak Beni kenal dimana dengan Dewi ?, apa nak Beni ini teman kerjanya Dewi ?" tanya ayahnya Dewi lagi


"bukan om, saya bukan teman kerjanya Dewi, saya ini sahabatnya Yusuf suami Dian, sekaligus teman sekantornya Yusuf, jadi saya kenal dengan Dewi dari Dian dan Yusuf" jawab Beni


"oohhh....jadinya kalian berdua ini kenalnya karna ada yang nyomblangin gitu ?" celetuk isengnya si Dewa


"huussttt !!!, kamu ini Dewa ngomong apaan sih, gak sopan tau" jawab mamanya sambil matanya sedikit melotot kearah putra sulungnya


"tau nih kak Dewa, usil aja kerjaannya" ucap Dewi sambil memukul pundak kakaknya yang kebetulan duduknya bersebelahan dengan dirinya, Dewa hanya tersenyum menanggapi kejengkelan adiknya

__ADS_1


"om dan tante tidak melarang kamu untuk berteman ataupun pacaran dengan Dewi, asalkan om dan tante tau latar belakang keluarga kamu, jadi kami berdua tidak khawatir lagi dengan siapa Dewi bergaul" ucap ayahnya Dewi dengan nada penuh ketegasan


"iya om, saya sudah mempertimbangkan semua itu, untuk kedepannya saya tidak ingin berpacaran lama lama dengan Dewi, saya akan membawa ke dua orang tua saya kemari, untuk segera melamar Dewi menjadi tunangan saya" jawab Beni tenang namun sedikit ada rasa tegang, Dewi yang mendengar ucapan Beni, dalam hatinya ada sedikit rasa kaget campur bahagia karna ia tak menyangka ternyata lelaki yang dicintainya benar benar serius dengan dirinya


"apa tidak terlalu terburu buru nak Beni ?", tanya ibunya Dewi


"sara rasa tidak tante, karna saya benar benar serius dengan Dewi, dan saya rasa kami berdua bukan anak kecil lagi dan usia kami juga sudah cukup untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi kertimbang hanya sekedar pacaran" jawab Beni meyakinkan kedua orang tua Dian


"kalo memang itu kemauan nak Beni, kami sebagai orang tua Dewi hanya bisa menyetujui hubungan kalian dan dengan senang hati kami sekeluarga menunggu kedatangan kedua orang tua kamu, untuk melamar anak kami" ucap ibundanya Dewi, dan dibalas anggukan oleh Beni


"oh ya sampai kelupaan.....ayok silahkan diminun nanti keburu dingin tehnya !" ucap ibundanya Dewi mempersilahkan Beni meminum secangkir teh yang suda ada dimeja depan Beni


"iya tante" jawab Beni singkat


"nyonya....makan malamnya sudah siap !" ucap seorang pembanti rumah tangga Dewi


"iya bi, makasih !, ayok nak Beni ikut makan malam sekalian !" ucap ibundanya Dewi mengajak Beni untuk ikut makan malam keluarga mereka


"makasih tante.....merepotkan !" jawab Beni dengan sedikit canggung


mereka semua menikmati hidangan yang sudah disediakan dimeja makan dengan suasana penuh kehangatan, sesekali canda tawa dari mereka terdengar dan sedikit keusilan Dewa pun tak ketinggalan untuk sekedar menjahili Dewi adiknya, setelah selesai mereka makan malam, tak lama kemudian Beni berpamitan kepada kedua orang tua Dewi dan kak Dewi, karna waktu sudah agak malam


"kamu jangan sungkan sungkan, dan sering seringlah main kesini, pintu rumah kami terbuka untuk kamu" ucap ibundanya Dewi sambil mengelus lengan Beni saat mengantar Beni ke teras rumahnya


"iya tante, makasih tante untuk semuanya !, saya pamit dulu, selamat malam ! assalamu'alaikum" pamit Beni sambil berjalan menuju mobilnya


"wa'alaikumsalam" jawab mereka semua


"kamu hati hati dijalan ya mas !" ucap Dewi sambil melambaikan tangannya, dan dibalas lambaian tangan Beni dari dalam mobil


"ma....kayaknya ntar malam ada yang gak bisa tidur nih !, memikirkan pujaan hatinya kapan kira kira datang melamarnya !" ucap Dewa dengan keusilannya


"biarin !!, emangnya kakak yang gak pernah ada perempuan yang suka, karna terlalu pilih pilih" sahut Dewi sambil mencubit pinggang kakaknya


"awas kamu ya !, berani beraninya ngatain kakak kamu yang ganteng ini" ucap Dewa sambil mengacak acak rambut adiknya dan berlalu meninggalkan Dewi menuju kedalam kamarnya


"kaaakkkk Dewaaa !!, awas kamu yaaa !!!" teriak Dewi saat kakaknya berhasil membuatnya jengkel lagi, dan kedua orang tuanya hanya saling tersenyum melihat tingkah laku kedua putra putrinya

__ADS_1


Dewi pun berjalan menuju kamarnya dengan perasaan kesal atas kekonyolan kakaknya, tapi semua itu tiba tiba hilang saat dilayar ponselnya muncul nama Beni yang sedang menelponnya, keduanya pun saling bercakap cakap dengan sedikit terdengar candaan dari keduanya, sampai akhirnya Dewi pun mengakhiri pembicaraan dengan Beni dan mulai memejamkan matanya dengan perasaan yang berbunga bunga


keesokan harinya dikantor, seperti biasa semua karyawan Dian larut dalam pekerjaan dan kesibukan masing masing termasuk dengan Dewi, tak lama setelah jam makan siang tiba Dewi segera menuju kantin kantor untuk segera makan siang, tak berapa lama muncullah Dian dari seberang mejanya


"duuhhh, yang sedang berbunga bunga, sampai sampai gak ingat sama temannya kalo makan" ucap Dian saat ia sudah berdiri didepan meja Dewi, sambil membawa sepiring makanan


"apaan sih kamu !, biasa aja kale" jawab Dewi sambil terus memakan makanan yang ada dipiringnya


"cerita dong, gimana tadi malam ? seru gak ?" tanya Dian sambil menyendok makanan ke mulutnya


"biasa aja.....tapi yang paling seru tuh !, Beni akan segera membawa kedua orang tuanya kerumah untuk segera melamar aku" jawab Dewi dengan nada berbunga bunga


"bagus dong !, selamat ya, akhirnya akan ada pangeran yang datang melamar sahabatku ini, dan gak akan jadi jomblo lagi" ucap Dian sambil memegang tangan Dewi yang ada didepannya


"makasih ya !, itu juga karna kamu say, kalo kamu gak nikah sama Yusuf aku juga gak bakalan kenal sama Beni" ucap Dewi, dan dibalas senyuman oleh Dian


"kamu enak ya wi, ada perasaan bangga dan bahagia saat ada lelaki yang akan melamar kamu, beda dengan aku dulu, aku dulu sempat benci dan gak senang saat suami aku datang melamar aku" ucap Dian sambil memutar memorinya ke masa beberapa tahun yang lalu


"sudahlah say !, itu kan dulu, yang penting sekarang lelaki itu sudah menjadi suami kamu dan sangat sangat menyayangi kamu dan sekarang kamu sudah mengandung buah cinta kalian berdua" ucap Dewi, senyum Dian pun nampak menghiasi bibirnya dan sesekali tangannya mengelus perutnya, mereka berdua pun melanjutkan makan siang sambil terkadang terdengar tawa mereka sampai akhirnya jam makan siangpun berakhir, dan mereka berdua meninggalkan kantin untuk menuju ke ruangan masing masing


"ada apa sayang ?" terdengar suara Yusuf dari seberang telpon, saat Dian membuat panggilan kepada suaminya


"kamu tau mas, ternyata Beni benar benar serius 1000% sama Dewi, karna Dewi bilang Beni akan segera membawa kedua orang tuanya kerumahnya untuk segera melamar Dewi" jawab Dian dengan nada penuh kegirangan


"bagus lah kalo gitu, berarti sebentar lagi mereka gak bakalan jomblo lagi, pastinya kita bakalan punya saingan mesranya sayang" ucap Yusuf


"kamu bisa aja.....udah ah !, aku tutup dulu ya mas telponnya !, satu jam lagi aku ada meeting pemegang saham, kayaknya suasana meeting kali ini bakalan tegang, karna bos besar akan datang untuk memimpin langsung jalannya meeting" ucap Dian


"maksud kamu, papa yang bakalan datang ?" tanya Yusuf


"iya, oh ya mas...ntar gak usah jemput aku kalo pulang, aku pulangnya biar diantar papa aja, soalnya kalo meetingnya dipimpin papa langsung, bakalan sampai berjam jam" jawab Dian


"ya udah kalo gitu, beneran gak usah dijemput ? ntar aku kena boikot lagi sama papa kamu, kalo anaknya tercinta gak ada yang nemenin pulang" ucap Yusuf


"gak apa apa, ntar aku yang ngomong ke papa, tapi ingat kalo pulang jangan pakai mampir mampir, kalo enggak ntar sampai rumah aku gantung dipohon cemara depan rumah, hhheeee" canda Dian


"aassiiiaaapppp....muuaaacchh, daaahh sayang" balas Yusuf sambil mengakhiri panggilan telponnya

__ADS_1


__ADS_2