
Hari hari setelah Dian dan Yusuf pindah kerumah baru mereka, aktifitas mereka berdua tak jauh beda dengan hari hari sebelumnya, selama Dian dan Yusuf bekerja di kantor masing masing baby Alif selalu dititipkan di rumah Agung hermawan dengan bantuan seorang babysiter
siang itu saat Dian tiba dikantornya setelah selesai meeting dengan klien di luar kantor, saat memasuki lobby ia melihat seorang lelaki duduk di sofa, lelaki tersebut tak lain adalah Dewa yang sedang memainkan ponsel ditangannya
"kak Dewa....sudah lama nunggunya ?" tanya Dian saat berada di depan Dewa
"lumayan juga sih" jawab Dewa sambil mengangkat wajahnya
"ayok, langsung keruangan aku aja kak !" ajak Dian
"gak usah, kita ngobrol disini aja" tolak Dewa
"ya udah ! kak Dewa mau ngomong apa ?" tanya Dian lagi sambil duduk disebelah Dewa
"begini Dian, kayaknya aku nyerah deh sama Arin, aku gak tau lagi apa yang harus aku lakukan, sepertinya dia semakin menjauhi dan menghindari ku terus" jelas Dewa dengan raut muka sedikit tak bersemangat
"kak Dewa kok ngomongnya gitu sih !, mana semangat kak Dewa untuk mendapatkan hatinya Arin ?"
"kak Dewa harus optimis dan yakin kalo cinta kak Dewa terhadap Arin gak akan bertepuk sebelah tangan"
"tapi Dian ! aku udah gak tau lagi apa yang harus aku lakukan, untuk meyakinkan dia" Dewa seakan pasrah dengan nasib cintanya terhadap Arin
"kak ! kakak harus terus kejar hatinya Arin, beri dia perhatian lebih, ajak ngobrol dia dari hati ke hati, kalo perlu kakak ambil perhatian ayah dan ibu, aku yakin lama kelamaan hatinya Arin pasti akan luluh juga, yang penting kak Dewa terus berusaha jangan patah semangat" Dian memberi semangat Dewa yang hampir menyerah dengan keadaan
mendengar ucapan Dian, Dewa hanya bisa menarik napas panjang dan menghempaskannya keras
"mbak....tolong telpon bagian pantry, suruh bawakan minuman kesini ya !" perintah Dian kesalah satu receptionis dan dibalas anggukan sopan
tak lama kemudian seorang OB datang dengan membawa dua cangkir teh kemeja lobby
"makasih ya mas !" ucap Dian
"sama sama bu !" balas OB tersebut
"ayok kak, minum dulu tehnya, supaya pikirannya rileks" ucap Dian
__ADS_1
"makasih ya Dian"
"sama sama kak !"
setelah keduanya ngobrol panjang lebar dengan semua curhatan Dewa kepada Dian, akhirnya Dewa pun berpamitan untuk segera kembali ke kantornya, sepeninggal Dewa dari kantornya, Dian pun kembali ke ruangannya dan langsung larut dengan pekerjaanya
* * * * *
malam hari pun tiba, saat itu Dewa berniat ingin menemui Arin dirumahnya untuk membicarakan keseriusan hubungan mereka berdua, tapi saat ia tiba didepan rumah Arin, Dewa segera menghentikan mobilnya diseberang rumah Arin, ia masih ragu untuk melangkahkan kakinya untuk menemui Arin
saat Dewa didalam mobil dengan segudang keraguananya, tiba tiba tatapan matanya tertuju pada gadis yang keluar dari halaman rumah Arin, gadis tersebut tak lain adalah Arin
Dewa pun segera membuntuti Arin dengan mobilnya saat Arin berhasil menyetop sebuah taxi dan pergi meninggalkan rumahnya
setelah beberapa lama Dewa mengikuti mobil yang dikendarai Arin, dan akhirnya mobil tersebut berhenti disebuah cafe, Dewa pun segera turun dan membuntuti Arin yang masuk kedalamnya, didalam cafe Dewa melihat Arin menuju kesebuah meja yang dimana sudah duduk seorang lelaki muda seumuran dengan Arin, Dewa pun segera mengambil posisi duduk tak jauh daru meja tersebut, tapi Arin tak menyadari kalo dirinya sedang diikuti oleh Dewa
dari tempat duduknya Dewa melihat semua gerak gerik Arin dan lelaki tersebut, tapi ia tak begitu jelas mendengar percakapan keduanya karna situasi cafe yang begitu dekat dengan jalan raya, dan terdengar suara kendaraan lalu lalang, cukup lama juga Dewa memperhatikan keduanya sampai akhirnya Dewa melihat Arin yang tiba tiba berdiri dari duduknya hendak pergi meninggalkan lelaki tersebut, tapi langkahnya terhalang oleh tangan lelaki itu yang dengan tiba tiba menarik tangan Arin, mencegahnya untuk pergi
"lepaskan kak ! lepas ! kalo tidak aku akan berteriak !" teriak Arin yang tiba tiba mengagetkan Dewa
"kamu teriak aja, tapi aku tetap gak akan pernah melepaskan kamu, aku sangat mencintai kamu Arin" ucap lelaki itu penuh dengan keyakinan dan percaya dirinya
"dengarkan aku Rin !, aku sudah tidak mencintai Dinda lagi, hanya kamu yang aku cintai saat ini" ucap lelaki itu
"iiisshhh....kamu benar benar lelaki bejat, bisanya hanya mempermainkan perasaan wanita" ucap Arin dengan memalingkan mukanya saat tangannya terlepas dari genggaman lelaki tersebut
"tapi Arin....!"
"cukup....!!!, aku gak akan pernah mendengar alasan apapun dari mulut kamu, aku tau semua apa yang telah kamu lakukan dengan sahabat aku, dan sekarang kamu tidak mau mempertanggungjawabkan semuanya dan kamu seenaknya main pergi dari tanggung jawab" Arin pun memotong ucapan lelaki itu dengan penuh penegasan dan emosi
"oohhh...ternyata kamu sudah tau semuanya, asal kamu tau Arin semua itu karna Dinda sahabat kamu itu yang terlalu gampangan dengan laki laki, dia rela menyerahkan kehormatannya dengan semudah itu" ucap lelaki tersebut tanpa ada rasa bersalah dan penyesalan
// plllaaaaaakkkkkk //....
sebuah tamparan keras mendarat di pipi lelaki tersebut, dan membuat nya meringis sambil mengelus bekas tamparan Arin dipipinya
__ADS_1
"kamu sudah berani menampar aku Arin, dan sekarang kamu harus menerima balasannya.....ayok kamu ikut aku sekarang juga, Arin !!" lelaki tersebut menarik tangan Arin dan menyeretnya dengan paksa pergi dari tempat duduknya
"lepas kak ! lepaskan !!...." Arin berteriak meronta sambil satu tangannya memukul lengan lelaki itu, berusaha melepaskan genggaman lelaki tersebut yang dengan paksa membawanya pergi dari tempat itu, tapi lelaki tersebut tak menghiraukan teriakan Arin dan tetap memaksanya untuk mengikuti dirinya
tapi saat tiba dihalaman cafe, tiba tiba langkah lelaki tersebut terhenti karna didepannya, sudah berdiri Dewa yang berusaha menghalanginya
"lepaskan perempuan itu !!" gertak Dewa
"siapa kamu ???" ucap lelaki itu sambil tangan kirinya menunjuk ke arah Dewa
"kak Dewa, tolong aku kak !" teriak Arin memohon pertolongan pada Dewa, yang salah satu tangannya masih dalam genggaman lelaki tersebut
"kamu lepaskan wanita itu dengan baik baik, atau dengan cara kekerasan ?" Dewa memberikan pilihan pada lelaki itu agar mau melepaskan Arin dari genggamannya
"minggir...!!, kamu jangan ikut campur urusan aku dengan dia !" ucap lelaki tersebut dengan kasarnya
"siapa kamu berani beraninya menghalangi langkahku ?"
"kamu gak perlu tau siapa aku....cepat kamu lepaskan !!, atau terpaksa aku bertindak kasar kepadamu !!" lagi lagi Dewa memberi gertakan pada lelaki tersebut, tapi lelaki itu tak menghiraukan gertakan Dewa, dan ia tetap berusaha membawa Arin pergi dengan paksa
tanpa menunggu lama Dewa segera menghantamkan sebuah bogem mentah kewajah lelaki tersebut, dan membuat lelaki itu terhuyung kebelakang sontak saja tangan Arin segera terlepas dari genggaman lelaki tersebut, dan membuat Arin menghambur kepelukan Dewa dan Dewa pun segera memyambut tubuh Arin dan memeluknya dengan erat
"cepat kamu pergi dari sini.....kalo tidak aku akan menghajarmu sekali lagi !" ucapan Dewa dengan kasar dan penuh amarah sambil tangannya menunjuk kearah lelaki tersebut
tanpa berkata apapun lelaki itu segera pergi dari hadapan Dewa sambil mengusap bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat pukulan yang dijatuhkan oleh Dewa
"aku takut kak !" ucap Arin dalam pelukan Dewa sambil terisak meneteskan air matanya
"sudahlah.....jangan takut, ada aku disini" ucap Dewa sambil mengelus rambut Arin yang terus terisak dalam pelukannya
Dewa pun segera membawa Arin untuk masuk lagi ke dalam cafe, dan membantunya duduk disebuah sofa panjang yang ada disudut ruangan cafe, dan Dewa segera memesankan minuman untuk Arin
"minumlah dulu, agar pikiran kamu lebih tenang" perintah Dewa sambil menyodorkan minuman yang telah dibawakan oleh seorang pelayan cafe, dan Arin pun segera meminumnya
"kalo boleh tau siapa lelaki yang bersama kamu tadi ?" tanya Dewa pada Arin dengan penuh hati hati agar tak menyinggung perasaan Arin
__ADS_1
"dia itu kak Ronald, senior aku di kampus, ia juga pacar teman aku.....Dinda kak, tapi sudah lama ia ngejar ngejar aku, ia bilang sudah tak cinta lagi sama Dinda" jawab Arin dengan sedikit sesenggukan karna sisa tangisannya
"ya sudah.....sekarang lebih baik aku antar kamu pulang ke rumah kakak kamu, kayaknya jaraknya lebih dekat ke rumah kakak kamu dari pada kerumah kamu, kamu bisa istirahat disana" ucap Dewa dan dibalas anggukan oleh Arin