Kembalinya hati yang telah mati

Kembalinya hati yang telah mati
Persiapan lamaran


__ADS_3

Keesokan harinya pak Agung hermawan sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit atas ijin dokter Subandi.


sesampainya di rumah, semua orang di keluarga Dian sibuk mempersiapkan acara lamaran.


sementara pak Agung hermawan hanya memantau semua pekerjaan asisten rumah tangganya.


"Pak Atmo, sebentar lagi antar kami ke toko kue dan butik langganan saya ya......", perintah ibu Ratna.


"Dian kamu ikut mama ya sayang, kamu temenin mama ke butiknya teman mama, sambil kamu pilih baju buat besok", perintah mamanya.


sesampainya di butik, bu Ratna sibuk memilih baju - baju yang ada di butik tersebut.


para pegawai butik tersebut melayani dengan sabar dan ramah.


"kamu pilih - pilih aja dulu jeng, seperti biasanya", kata ibu asri pemilik butik tersebut sekaligus teman mamanya Dian.


sementara Dian hanya duduk - duduk di sofa yang ada dipojokan butik tersebut. ia terus memainkan ponselnya, seolah tak menghiraukan mamanya yang sibuk memilih baju.


"ada apa say?", terdengar suara Dewi dari seberang telpon.


rupanya Dian menelpon sahabatnya, Dewi.


"kamu masih dirumah sakit ya?", tanya Dewi lagi.


"aku sekarang ada di butik bu Asri, temennya mama, aku diajak mama buat pilih baju untuk acara besok", jawab Dian.

__ADS_1


"emang papa kamu sudah boleh pulang?, terus besok mau ada acara apa dirumah?,", Dewi bertanya dengan nada bingung.


"sudah...papa sudah boleh pulang koq, oh ya besok malam kamu datang kerumah ya, besok temenin aku diacara lamaranku", jawab Dian.


"apaaaa.....jadi kamu sudah menerima keinginan om Agung, iya?", jawab Dewi seakan tak percaya apa yg Dian katakan.


"iya, aku menerima keinginan papa", jawab Dian.


"sudah ah.....yang penting kamu besok malam datang, jangan sampai lupa", ucap Dian.


setelah semua selesai Dian dan mamanya langsung menuju toko kue.


kemudian setelah itu mereka berdua langsung pulang kerumah.


mereka mempersiapkan semua yang akan dibawa besok ke acara lamaran.


"Arin, jangan sampai ada yang ketinggalan ya....", kata bu Yani, ibundanya yusuf.


"iya bu, beres......tenang aja Arin sudah menyiapkan semuanya, dijamin gak ada yang bakal ketinggalan", ucap Arin sambil mengetipkan sebelah matanya.


"sekarang tinggal kak Yusufnya, gimana.....sudah siap belum?", ucap Arin menggoda Yusuf.


Yusuf rak berkata apapun, ia hanya senyum - senyum, sambil memainkan ponselnya.


Tiba - tiba......."bro jangan lupa, besok malam ke rumah gue, ikut gue dan keluarga gue ke rumah pak Agung hermawan", celetuk Yusuf yang ternyata ia sedang menelpon Beni.

__ADS_1


"bereesss boosss.....tenang aja gue akan siap nemenin lo", jawab Beni.


Yusuf senyum - senyum sendiri sambil mengakhiri telponnya.


"oh ya bu....apa kita cuma berempat aja datang ke rumah pak Agung hermawan?", tanya Arin pada ibunya.


"iya......cukup keluarga kita aja, kan acaranya cuma kenalan sama lamaran biasa aj, ntar kalo sudah acara nikahan baru kita bawa family dan tetangga kanan kiri kita", jawab ibunya.


Arin hanya menganggukkan kepalanya, sambil terus membungkus dan menghias hantaran yang akan dibawa besok.


Sementara itu dirumah Dian semua asisten rumah tangganya sibuk menyiapkan menu yang akan disuguhkan besok diacara lamaran .


Didalam kamar, Dian nampak sibuk mengecek semua pekerjaanya yang dikirim Lisa melalui emailnya. ia sibuk dan larut dalam pekerjaannya sampai tengah malam.


"tok...tok...tok....", terdengar suara kamarnya diketuk.


lalu masuklah mamanya, "sayang kamu belum istirahat juga, ini sudah larut malam lho".


"iya ma....bentar lagi, tanggung tinggal dikit lagi", jawab Dian.


mamanya hanya tersenyum simpul, dan keluar dari kamar Dian.


setelah selesai dengan semua pekerjaannya, Dian lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang, pandangannya menerawang jauh kelangit - langit kamarnya.


ia memikirkan apa yang bakalan terjadi esok hari, sampai ia terlelap dalam gelapnya malam.

__ADS_1


__ADS_2