Kembalinya hati yang telah mati

Kembalinya hati yang telah mati
Sikapnya berubah


__ADS_3

Empat bulan sudah setelah peristiwa itu, dan kandungan Dian pun sudah menginjak usia enam bulan, perlahan perut Dian pun sudah mulai nampak agak membesar


setiap kali Dian akan berangkat ke kantor ia selalu tidak percaya diri dengan penampilannya, beberapa kali ia pun selalu gonta ganti pakaian yang akan dikenakannya ke kantor, ia selalu kurang nyaman dengan pakaian yang dikenakannya


"mas, aku cocok tidak pakai baju ini ?" tanya Dian pada Yusuf saat ia berdiri didepan meja riasnya


"kamu kenapa sih sayang ?, dari tadi gonta ganti baju melulu, udah pakai yang itu aja, aku tunggu kamu dibawah" jawab Yusuf dengan nada datar dan langsung pergi meninggalkan Dian yang masih didepan meja riasnya


Dian hanya bisa menghela napas panjang dengan jawaban dan sikap suaminya


"kamu kenapa sih mas ?" tanya Dian saat ia berada di meja makan bersama Yusuf


"kamu tau gak sekarang jam berapa ?, gara gara kamu bolak balik ganti baju bisa bisa aku terlambat masuk kantornya, ia kamu enak kantor punya sendiri mau datang jam berapapun gak ada yang larang" jawab Yusuf dengan nada agak ketus yang membuat Dian kaget bukan kepalang


"iya aku minta maaf mas !!, kalo gara gara aku kamu jadi sering terlambat masuk kerjanya" jawab Dian sambil menyelesaikan sarapannya


"aaahhh....udahlah, selesaikan sarapan kamu !, aku tunggu kamu dimobil" Yusuf pun segera meninggalkan meja makan dan berjalan meninggalkan istrinya menuju ke halaman depan rumahnya, sementara Dian masih menyelesaikan sarapannya, setelah selesai Dian segera keluar meninggalkan meja makan dan tak lupa ia berpamitan kepada bi Siti, sedangkan bi Siti yang melihat sikap aneh dari tuan mudanya benar benar heran dan merasa kasihan dengan Dian


selama dalam perjalanan ke kantor pun suasana didalam mobil terasa hening tak ada suara dari mereka berdua, hanya sesekali Dian menatap ke wajah suaminya tapi tak nampak sedikitpun senyuman lembut dari wajah Yusuf, dan keadaan seperti itu sering kali terjadi beberapa hari ini


tak hanya senyuman pun yang hampir jarang Dian lihat lagi dari wajah suaminya tapi juga kata kata lembut yang akhir akhir ini jarang terdengar keluar dari mulut suaminya, hanya sikap dingin Yusuf yang sering ia tunjukkan

__ADS_1


saat malam pun tiba, Dian yang melihat suaminya duduk diatas tempat tidur sambil membaca sebuah buku ia pun langsung menghampirinya dan duduk disebelahnya, seperti biasa Dian langsung memeluk Yusuf dari samping dan menyandarkan kepalanya didada suaminya tapi lagi lagi sikap dingin dan acuh yang nampak dari Yusuf


"mas, kamu kangen gak sama aku ?, tapi kayaknya anak kamu ini deh, yang lebih kangen pengen dielus elus bapaknya" ucap Dian sambil bermanja manja dan sesekali membelai lembut dada suaminya


"aahhh....apaan sih, aku capek tau !!, aku mau istirahat dulu" jawab Yusuf dan langsung merebahkan tubuhnya serta mengambil posisi membelakangi Dian, nampak raut muka kecewa yang nampak dari Dian atas sikap Yusuf, tapi Dian berusaha menyembunyikannya, lalu lagi lagi Dian berusaha bersikap lembut terhadap suaminya, ia pun memeluk tubuh suaminya dari belakang saat Yusuf membelakanginya, tapi tak ada respon apapun yang Yusuf tunjukkan, hanya seolah olah Dian sedang memeluk guling yang tak bernyawa


sudah beberapa hari ini sikap Yusuf benar benar berubah, tak pernah lagi Dian mendapatkan kecupan manis dikeningnya, hanya sikap dingin dan acuh dari suaminya yang ia dapatkan


"kamu kenapa say ?, kok aku lihat beberapa hari ini sikap kamu seperti sedang ada masalah ?" tanya Dewi saat ia dan Dian sama sama makan siang di kantin kantor


"entahlah wi.....aku sendiri bingung, dengan sikap suami aku akhir akhir ini, benar benar aneh dan berubah" jawab Dian sambil memainkan sendok yang dipegangnya


" aneh gimana ?" tanya Dewi bingung


"ya mungkin aja ia sedang ada masalah, apa kamu sudah bertanya baik baik sama suami kamu, kenapa ia berubah ?" tanya Dewi


"udah Wi.....aku udah beberapa kali tanya, tapi lagi lagi jawabnya gak ada apa apa" jawab Dian


"apa mungkin mas Yusuf selingkuh dari aku ?, apa mungkin ia sudah bosan melihatku karna keadaan aku yang semakin lama semakin gendut karna hamil ?" Dian bertanya tanya didepan Dewi dengan tatapan mata kosong kedepan


"kamu ini ngomong apaan sih !!, mana mungkin Yusuf menghianatimu, aku gak percaya kalo ia sampai berbuat seperti itu, lagian kamu itu kan hamil anaknya, mana mungkin lah ia setega itu" jawab Dewi menyangkal ucapan Dian

__ADS_1


"tapi wi....sikapnya itu....."


"aaahhhh, udahlah.....kamu jangan berprasangka buruk dulu, ntar aku coba tanya ama dia, sekarang kamu habiskan dulu makananya, kasihan bayi yang ada dikandunganmu" ucap Dewi memotong kata kata Dian, lantas Dewi pun pergi meninggalkan Dian yang masih duduk dengan berjuta perasaan yang tak menentu, beberapa karyawannya pun yang ada di tempat itu sempat memperhatikan sikap Dian yang akhir akhir ini berubah, tak seceria biasanya


sementara Dewi yang sudah ada di ruangannya mencoba menghubungi Yusus lewat ponselnya


"iya mas.....aku kasihan melihat Dian, ia benar benar terpukul dengan sikap mas terhadapnya, aku gak tega mas !!" ucap Dewi


"sudahlah Wi, kamu gak usah berpikir yang aneh aneh, udah ya aku tutup dulu telponnya, aku sibuk banyak kerjaan yang harus aku selesaikan" jawab Yusuf dari seberang telponnya, dan langsun menutupnya


"mas !...mas !!.....mas Yusuf !!, iiihhhhh.....orang belum selesai ngomong juga, udah main putus aja !" gerutu Dewi sambil memandangi ponsel yang ada ditangannya


genap satu minggu sudah sikap Yusuf terhadap Dian benar benar berubah, tak pernah lagi Dian merasakan kehangatan pelukan dari suaminya


"non.....bibi lihat akhir akhir ini non Dian nampak murung dan sedih, emangnya ada masalah apa non ?, kalo boleh bibi tau ?" tanya bi Siti saat melihat Dian yang duduk halaman belakang sambil bersandar di ayunan dan dengan pandangan kosong


"entahlah bi !, aku sendiri bingung, menghadapi sikap mas Yusuf yang akhir akhir ini berubah, sikapnya makin dingin dan nada bicaranya pun semakin kasar, seakan gak ada rasa sayang lagi kepadaku" jawab Dian dengan nada penuh kesedihan


"tapi non, non Dian jangan terlalu berfikir yang macam, kasihan bayi yang ada dalam kandungan non Dian, bibi yakin den Yusuf gak akan setega itu sama non Dian" ucap bi Siti menenangkan perasaan Dian sambil mengelus elus pundak Dian


"bi !.....kalo terus terusan seperti ini, aku gak betah tinggal disini, aku pengen pulang ke rumah mama, aku kangen sama pelukan mama bi !" ucap Dian sambil memeluk bi Siti dan air matanya pun mulai mengalir di pipinya, sedangkan bi Siti gak tega melihat majikannya bersedih dan ia pun langsung memeluk dan membelai rambut Dian

__ADS_1


"sudahlah non !!, non Dian bisa menganggap bibi sebagai orang tua non Dian, kalo boleh bibi menyarankan non Dian jangan pergi ke rumah mama non Dian, jangan sampai mama non tau masalah ini, lebih baik non Dian dan den Yusuf selesaikan dulu masalah ini berdua tanpa harus melibatkan kedua orang tua" bi Siti menasehati Dian seakan seperti anaknya sendiri


__ADS_2