
sementara itu dirumah pak maulana suasananya tak jauh beda dengan di rumah dian. keluarga mereka berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan masalah perjodohan anak mereka.
pak maulana dulunya adalah sopir keluarga dian, lebih tepatnya sopir papanya dian yang selalu setia mengantar papanya dian pulang dan pergi kekantor. tapi pak maulana berhenti bekerja karena papanya dian sudah tidak memerlukan jasa sopir lagi setelah papanya dian tidak lagi mengurusi bisnisnya yang sekarang sudah diserahkan sepenuhnya pada anak sulungnya yaitu dian.
" yusuf.....ada yang mau ayah omongin ke kamu nak ", kata ayah yusuf dengan nada yang kalem.
yusuf adalah anak sulung mereka dari dua bersaudara, yusuf mempunyai adik perempuan bernama Arin, saat ini arin duduk dibangku kuliah semester empat jurusan sastra inggris.
" emangnya apa yang mau ayah omongin ke yusuf ?", tanya yusuf penuh tanda tanya.
" sekarang ayah tanya ke kamu.....apa kamu punya pacar ?, kayaknya sampai sekarang ayah gak pernah lihat kamu jalan sama perempuan apalagi membawanya kerumah untuk kamu kenalkan sama ayah dan ibu, padahal usiamu sudah cukup matang dan mapan untuk berumah tangga ".
yusuf sedikit bingung, kenapa ayahnya tiba - tiba bertanya seperti itu pada dirinya.
dan yusuf hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkata apa - apa.
yusuf memang sudah dianggap cukup matang dan mapan untuk berumah tangga, tapi yusuf tidak pernah sedikitpun berfikir untuk segera menikah sebelum ia benar - benar menemukan seseorang yg cocok dan bisa menerima dirinya apa adanya. karna ia sadar siapa dirinya, yang hanya seorang pegawai PNS biasa di dinas pendidikan.
__ADS_1
yusuf gak mau kalo ia sampai ditolak lagi sama perempuan, seperti beberapa tahun yang lalu.
" begini nak....beberapa hari yang lalu pak Agung hermawan mengajak ayah ketemuan membicarakan janji yang dulu pernah kami buat, tepatnya 25 tahun yang lalu ".
" pak Agung berjanji setelah 25 tahun akan menjodohkan anak sulung beliau dengan anak ayah, yaitu kamu, karna pak agung merasa berhutang nyawa sama ayah ". pak maulana menjelaskan pada yusuf keinginannya.
Yusuf mendengarkan tanpa ada bantahan sedikitpun sampai akhirnya ia bertanya dalam hati, emang apa yang sudah ayahnya lakuin sama keluarga pak agung hermawan, sampai - sampai orang sekaya beliau merasa berhutang nyawa sama ayahnya.
siapa yang gak kenal pak agung hermawan di kota itu, beliau adalah orang ternama yang sangat kaya, beberapa hotel dan resto ternama dikota tersebut adalah milik beliau.
yusuf mendengarkan dengan sedikit mengangguk - angguk tanda ia mengerti apa yang dibicarakan ayahnya.
" tapi yah...aku belum mengenal siapa dan bagaimana anak pak agung itu", bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya?, apa mungkin anak pak agung mau menerimaku yang hanya seorang pegawai pns", yusuf sedikit ragu untuk mengiyakan keinginan orang tuanya.
lantas ibunya menjawab pertanyaan yusuf, " begini yusuf.....ayah dan ibu gak mungkin salah dalam mengambil keputusan, ayah dan ibu tau siapa dan bagaimana keluarga pak agung, biarpun mereka orang kaya tapi hati mereka baik, gak sombong dan gak pernah membeda - bedakan orang lain."
" tapi itu kan orang tuanya bu...kalo anaknya kita gak pernah tau". jelas yusuf pada ibunya penuh kebimbangan.
__ADS_1
" begini yusuf, pak agung minta minggu depan kita sowan dulu kerumahnya sekalian sama lamaran, setelah itu kamu bisa saling mengenal sama anak beliau", jelas ibunya.
" baiklah kalo memang itu baik menurut ibu, yusuf siap bu ", akhirnya yusuf mau memenuhi keinginan orang tuanya untuk dijodohkan dengan anak pak agung.
tanpa berkata apa - apa lagi yusuf berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan orang tuanya menuju kamarnya. kemudian yusuf masuk kamar dan tak lama kemudian disusul arin adiknya. lalu arin mengambil posisi duduk di depan meja kerja yusuf, dan yusuf duduk diatas ranjangnya.
" mas yusuf yakin mau menerima keinginan ayah dan ibu ? ", tanya arin pada kakaknya.
" habis mau gimana lagi dek....., terpaksa deh mas mau, sebagai tanda bakti mas pada ayah dan ibu ", jelas yusuf pada adiknya sambil menghela napas.
" tapi mas, gak baik lho kalo sesuatu itu dilakukan karna terpaksa ", ucap arin seperti gak terima keputusan kakaknya.
" gak papa dek ..., nanti kan mas bisa belajar mengenal calon mas terlebih dahulu, dan mas akan belajar mencintainya setelah menikah, semoga aja cinta bisa tumbuh seiring waktu selama kami berdua hidup bersama ", jelas yusuf pada adiknya sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
" ya sudah terserah mas aja ... semoga keputusan mas ini yang terbaik ", arin berkata sambil berdiri meninggalkan kamar kakaknya, ia membiarkan kakaknya untuk istirahat.
yusuf diam tanpa berkata apa - apa, ia hanya memandang kearah adiknya yang berjalan meninggalkan dirinya, dan sampai adiknya menghilang di balik pintu kamar.
__ADS_1