
Sementara keesokan harinya, dikediaman Luna nampak begitu sibuk mempersiapkan kedatangan keluarga Hendra, yang berniat untuk melamar Luna
dan pada malam harinya, sebuah keluarga yang dinantinya pun akhirnya datang, nampak sebuah mobil alphard hitam dan sebuah mobil xpander silver memasuki halaman rumah Luna, dari dalam mobil muncul kedua orang tua Hendra beserta beberapa orang anggota keluarganya yang lain, nampak Hendra berjalan paling depan dan didampingi kedua orang tuanya, mereka semua disambut hangat oleh keluarga Luna, dengan menyerahkan beberapa hantaran yang dibawanya
"mari silahkan masuk !" ucap ibundanya Luna, dan para tamupun nampak mengambil tempat duduk yang telah disediakan
"perkenalkan saya orang tuanya Hendra, nama saya Wijaya, maksud kedatangan kami semua kesini adalah untuk melamar putri ibu yang bernama Luna untuk anak saya Hendra" ucap pak Wijaya dengan tegas tanpa basa basi
"iya pak.....saya sebagai orang tua tunggalnya Luna, bersedia dan menerima maksud baik keluarga bapak untuk melamar anak saya Luna" jawab ibundanya Luna, karna memang ia adalah seorang single parent, Luna telah ditinggal ayahnya sejak masih duduk di bangku SMP, jadi ibundanyalah yang selama ini merawat dan membesarkan Luna dan adik perempuannya seorang diri
"tentunya ibu sudah tau apa yang sudah terjadi antara Hendra dan Luna, maka untuk menutupi semua aib keluarga, jadi alangkah baiknya untuk segera melangsungkan acara pernikahan mereka" ucap pak Wijaya lagi
"iya pak....saya sudah mengetahui semua yang telah terjadi antara mereka berdua, maka dari itu saya sebagai orang tua Luna merasa bahagia karna keluarga bapak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan" ucap ibundanya Luna dengan sopan
"untuk langkah selanjutnya biarkan keluarga kami yang urus semua keperluan pernikahan mereka berdua, anggap saja ini sebagai pemohonan maaf keluarga kami atas kelakuan Hendra kepada anak ibu, Luna" ucap ibundanya Hendra
__ADS_1
"tapi bu....."
"sudahlah bu, ibu gak perlu merasa sungkan, bagaimanapun juga kita secepatnya akan menjadi keluarga, dan saya sudah menganggap Luna seperti anak saya sendiri, karna mengingat dari dulu saya menginginkan anak perempuan" sahut ibundanya Hendra memotong perkataan ibundanya Luna, karna memang orang tua Hendra sangat menginginkan kehadiran anak perempuan dikarenakan Hendra adalah anak tunggal maka dari itu keluarga Hendra menganggap Luna seperti anak mereka sendiri
Hendra yang sedari kecil hanya hidup seorang diri ditengah kehidupan keluarga yang serba berkecukupan tanpa kehadiran seorang kakak ataupun adik, karena memang setelah melahirkan Hendra ibundanya sudah tak bisa melahirkan seorang anak lagi karna kondisi rahimnya yang tak memungkinkan untuk mengandung bayi lagi
"baiklah kalo begitu kita lanjutkan acaranya dengan tukar cincin untuk mereka berdua" ucap salah seorang anggota keluarga Hendra
Hendra pun segera mengambil kotak merah yang dibawa oleh ibundanya dan membukanya, sebuah cincin emas putih bermotif bunga mawar dan dihiasi dua mata berlian diatasnya, sungguh cantik dan sangat elegan sekali, lalu Hendra pun mengambil sebuah cincin tersebut dan menyematkannya dijari manis tangan kiri Luna, begitu juga Luna mengambil sebuah kotak lagi yang berisi sebuah cincin yang sama, tapi tanpa hiasan sama sekali hanya berbentuk polosan saja, lalu Luna pun menyematkan cincin tersebut dijari manis tangan kiri Hendra, nampak terbersit senyum sumringah diwajah mereka berdua
"karna acara intinya sudah selesai, sekarang silahkan semuanya untuk menikmati hidangan yang sudah kami sediakan, tapi maaf sebelumnya hanya hidangan seadanya yang bisa kami suguhkan" ucap ibundanya Luna dengan nada merendah
"wah ibu ini bisa saja !, bagi kami ini sudah lebih dari cukup, dan bagi kami sambutan yang sangat hangat dari keluarga ini saja sudah cukup dari pada hidangan yang sangat mewah namun terasa hambar" ucap ibunya Hendra sambil mendekati ibunya Luna
nampak semua para tamu dari keluarga Hendra menikmati hidangan yang ada dengan suasana keakraban dari dua keluarga yang sebelumnya belum pernah saling kenal, dan nampak Hendra pun mendekati Luna hanya untuk sekedar saling ngobrol satu sama lain
__ADS_1
"makasih ya Hen !, untuk pertanggung jawaban kamu kepadaku" ucap Luna sambil menatap ke arah Hendra
"iya !, sudah menjadi kewajiban aku sebagai seorang laki laki yang harus berani mempertanggung jawabkan atas semua perbuatan aku, jadi intinya berani berbuat harus berani bertanggung jawab" ucap Hendra, dan dibalas senyuman oleh Luna
"papa aku ingin kita segera melangsungkan pernikahan sebelum perut kamu ini makin membesar, dan kemungkinan seminggu lagi acara itu akan dilaksanakan" ucap Hendra sambil menyentuh perut Luna
"tapi Hen...apa itu gak terlalu terburu buru ?" tanya Luna
"emangnya kamu mau kita duduk dipelaminan dengan kondisi perut kamu yang membesar ?, ntar apa kata orang, sudahlah kamu gak perlu memikirkannya, biar semuanya diurus oleh keluarga aku" jawab Hendra sambil sesekali tangannya memainkan ponsel yang dipegangnya
"oh ya, kamu besok malam ada waktu ?, aku mau ajak kamu ke rumah Dian untuk minta maaf atas kelakuan aku pada dirinya dan suaminya, mumpung sekalian aku masih di kota ini" ajak Hendra pada Luna
"ya, aku mau...." jawab Luna singkat
"baiklah, karna saya rasa untuk acaranya sudah selesai, dan waktupun sudah larut malam, maka kami semua mohon pamit, dan terimakasih untuk waktu dan tempat yang sudah disediakan" ucap salah satu anggota keluarga Hendra
__ADS_1
kedua keluarga pun saling bersalaman satu sama lain, mereka semua meninggalkan kediaman Luna dengan penuh suka cita, begitu juga dengan Luna nampak wajahnya sangat berbunga bunga