KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Makan Dengan Atasan


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat seakan-akan sedang mencoba untuk meninggalkan sesuatu di belakang dan juga sedang berlomba mengejar sesuatu di depan sana. Tak terasa kini novel yang pernah ku mimpikan sukses besar setelah ku rombak bersama sahabatku menjadi novel tragedi. Sekarang adalah saat-saat yang tepat untuk menikmati kesuksesan dari novel yang laku laris di pasaran.


Tapi hal itu hanya berguna untuk sahabatku bukan padaku yang masih harus berkutat setengah mati dengan jadwal atasan yang semakin membuat gila. Sudah setahun aku bekerja menjadi sekretaris pak Aldi, tapi nyatanya aku masih juga tidak terbiasa dengan kesibukan beliau yang padatnya minta ampun.


"Ngopi dulu!"


"Eh, makasih senior!" Aku mengambil gelas kopi pemberian Azka dan melepas kelelahan mata yang sejak tadi siang terus menatap layar komputer


"Bagus! Sudah saya duga, kamu pasti bisa melampaui kemampuan saya..." Azka memeriksa laporan yang hampir selesai di susun


"Ahaha, ngga juga sen..."


"Hsss... Sudah berapa kali saya bilang, panggil kakak aja, geli saya dengernya kalo di panggil senior!"


"Eh, maaf sen... Maaf kak, soalnya sudah terbiasa"


"Lain kali jangan salah panggil lagi... Ya sudah, kalo selesai kamu bisa pulang duluan..." Kata Azka melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya


"Baik se... Kak!"


Azka memain-mainkan jarinya untuk memperingati ku yang hampir salah sebut panggilan sambil melangkah menuju tempat kerjanya. Jam di layar ponselku sudah menunjukkan pukul 9 malam lewat, dimana kalo karyawan biasa pulang selalu pukul 7 malam. Bagiku ini bukan lembur kerja tapi memang waktu pulangku aja yang agak unik dari kebanyakan karyawan biasa.


Sejak satu bulan bekerja sebagai sekretaris aku berusaha menyesuaikan jadwalku dengan jadwal atasan. Hingga akhirnya aku tetap tidak terbiasa dengan jadwal para atasan yang benar-benar tidak ada jadwal istirahatnya. Yang dulu ya buku-buku di kamarku penuh dengan novel romansa, kini rak-rak buku di kamar hanya penuh dengan buku-buku yang berhubungan dengan sekretaris serta buku seorang karyawan teladan.


Dan sudah beberapa Minggu ini pak Aldi seperti kurang istirahat, karena selain disibukkan oleh pekerjaan kantor beliau juga harus mengurus acara pertunangan yang di tetapkan oleh keluarganya. Kantong mata pak Aldi akhir-akhir ini tidak berbeda jauh dengan kantong mataku dan Azka. Tiba-tiba ponselku bergetar memperlihatkan nama yang tidak asing di layar.


"Halo"


"Kapan pulang?"


"Sebentar lagi!"


"Perlu di jemput nggak?"


"Nggak usah, kamu tidur aja duluan, jangan begadang!"


"Oke!"

__ADS_1


"By..." Panggilan ku akhiri dan lanjut mengerjakan laporan di depan mata.


"Yasudah, kamu pulang aja duluan, nanti saya yang akan menyelesaikan..."


"Nggak usah kak, Dikit lagi selesai kok!"


"Udah pulang aja, kasian adik kamu nungguin"


"Nggak apa-apa kak, dia udah gede juga... Ini bentar lagi selesai kok!"


"Kalo capek jangan di paksa!"


"Iya kak, siap!"


Panggilan telpon seperti barusan juga sudah menjadi ritual setiap malam bagiku. Adam yang entah kenapa setelah tinggal bersamaku selama ini, terasa lebih perhatian dari Adam yang dulu selagi kami masih berkumpul di rumah orang tua. Sekarang kehidupan keluarga ku sudah lebih dan benar-benar lebih baik dari yang dulu. Gaji sebagai seorang sekretaris lumayan besar di tambah dengan bonus dari bos tiap bulannya, semakin mencukupi kebutuhan keluarga ku.


Tidak berselang lama pekerjaanku benar-benar telah selesai untuk hari ini bersamaan dengan selesai nya pekerjaan Azka yang sejak tadi juga sudah sibuk dengan komputer di depannya. Tadi siang pak bos pergi keluar di temani oleh Azka untuk menemui klien dari luar, sehingga pekerjaan ku hari ini bisa selesai lebih cepat dari biasanya.


Kulihat pak bos sedang termenung menatap akuarium yang menempel di dinding ruangannya. Entah apa yang sedang beliau pikirkan hingga terlihat begitu tidak bersemangat, dan kabarnya untuk rapat tadi siang juga ada sedikit kekacauan akibat pak bos yang tiba-tiba tidak mood.


"Udah!"


"Mau pulang bareng?" tawar Azka seperti biasa


"Ng..."


"Jangan nolak."


"Yaudah deh, maaf kalo ngerepotin ya kak!" Aku segera bangkit dari kursi setelah selesai membereskan meja


Tiba-tiba saat kami berdua sedang asik berbincang ringan menunggu pintu lift terbuka, dari belakang aku merasa ada yang sedang memperhatikan kami. Dan benar saja saat aku menoleh ke belakang, di sana ada pak bos yang berdiri dengan tegap ikut menunggu pintu lift terbuka.


"Eh, apa ada yang bisa saya bantu pak?" tanyaku yang membuat Azka ikut berbalik


"... Tidak ada" sahut beliau setelah beberapa saat diam


Aku hanya tersenyum kecil dan mengangguk mempersilahkan beliau masuk ke dalam lift duluan. Tapi ternyata beliau malah menyuruhku masuk duluan ke lift, hingga membuatku sedikit bingung, karena tidak biasanya pak bos begini.

__ADS_1


"Ekhmm... Kalian sudah mau pulang ya?" kata pak bos memecah keheningan di dalam lift


"Iya pak!" sahutku dan Azka bersamaan


Setelah pertanyaan dan jawaban singkat itu suasana kembali hening menunggu lift sampai di lobi perusahaan. Kulihat dari gelagat pak bos, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi sepertinya beliau sedang menimbang harus di katakan atau tidak. Sampai akhirnya pintu lift terbuka dan kami bertiga keluar dari lift masih dalam keadaan hening.


Suasana lobi kantor benar-benar sudah sepi, bahkan sebagian lampu juga telah di matikan. Pak bos masih terus melangkah perlahan menuju pintu keluar bersama kami yang mengikuti nya dari belakang. Aku ingin mencairkan suasana, tapi rasanya sedikit tidak sopan kalo aku yang memulai duluan bicara, tapi jika bukan aku siapa lagi. Karena dua laki-laki yang sedang berjalan bersamaku saat ini, tidak pernah bicara basa-basi kecuali saat membahas pekerjaan.


"Maaf pak! Kalau bapak tidak keberatan mau ikut kita nyari makan di luar?" Tanyaku akhirnya setelah melangkah keluar gedung perusahaan


Keduanya menatapku dengan mata kaget tapi setelahnya segera mengatur ekspresi masing-masing kembali seperti semula "Ahaha... Soalnya saya merasa lapar lagi... Tapi kalo bapak sama Senior keberatan saya..."


"Saya nggak keberatan!" Potong Azka


"Ba,bagaimana pak? Bapak mau ikut?"


"Sepertinya tidak ada salahnya saya ikut!" Kata pak bos setelah melihat jam di pergelangan tangannya


"Ka,kalau begitu saya yang akan bayar... Karena kita akan makan di tempat biasanya saya makan. Hehe!"


Satu kesalahan fatal yang kulupakan, aku melupakan jika saat ini aku sedang mengajak seorang CEO untuk makan di warung pinggir jalan langganan ku. Kalau untuk Azka, sudah tidak begitu masalah karena dulu aku pernah satu kali mengajaknya makan di sana saat lembur. Tapi beda lagi dengan tamu besar satu ini, sepertinya aku benar-benar telah melupakan status sosial jika mengenai urusan perut.


Saat mobil Azka berhenti di depan warteg langganan ku pak bos celingak-celinguk seperti mencari tempat makan yang akan kami datangi. Dan di detik itulah aku tersadar jika saat ini ada tamu besar yang telah ku undang makan di warteg yang buka malam.


"Anu, itu pak... Tempat makan langganan saya yang itu... tapi kalo bapak merasa tidak nyaman..."


"Saya tidak masalah!" Sahutnya tegas saat aku mengatakan rasa bersalah karena telah mengundangnya join


"La, lain kali saya akan mengajak bapak dan senior ke tempat makan yang lebih layak dari ini..."


"Di tempat ini pun sudah cukup!" Kata Azka dengan senyum tulus


"Benar!"


Kami bertiga segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam warung tenda. Sekali lagi tanpa mempedulikan yang lain aku memilih tempat duduk paling pojok tempat kesukaan ku, yang dimana mau tidak mau Azka dan pak bos juga ikut duduk di meja yang sama dengan ku.


"Dasar konyol!" sungutku pada diri sendiri

__ADS_1


__ADS_2