
Saat sedang asik-asiknya menikmati candaan api di depan sana, tiba-tiba Leon datang merusak suasana dengan ikut duduk di salah satu kursi yang masih kosong setra merebut gelas teh ku. Tapi aku akan bersabar menghadapinya, karena suasana hatiku sedang baik.
"Wah, kau benar-benar memberikan kejutan yang sempurna untuk menyambut kedatanganku!!"
"Anggap saja begitu!"
"Pu,putri??" kedua pengikut ku yang masih ketakutan menatap penuh tanya ke arah Leon
"Abaikan saja dia, Kusarankan kalian tidak berhubungan dengannya jika masih sayang dengan nyawa kalian!" kataku datar
"!!!" mereka semua menelan ludah dan menyentuh leher karena memikirkan hal yang menyeramkan
"Lihat! ada yang keluar dengan selamat! apakah perlu..." kalimat Leon terhenti saat salah satu prajurit menebas leher tuan bangsawan yang keluar dengan selamat itu
"Lemparkan dia kembali ke dalam api, karena kulihat apiku masih lapar!!" jawabku saat prajurit itu menatap ke arahku
"Baik putri!"
Dengan wajah datarnya itu ia melemparkan kepala tuan Marvin yang hampir selamat masuk ke dalam api dan meminta prajurit lain untuk melempar tubuhnya ke dalam api bangunan satunya. Prajurit yang sigap membunuh tuan Marvin itu adalah, prajurit yang sempat di lecehkan secara seksual oleh tuan Marvin sendiri.
"Dunia ini benar-benar mengerikan!" kataku terkekeh kecil
Tidak berapa lama, seorang prajurit memberikan laporan jika para penduduk berbondong-bondong menuju ke arah kobaran api yang memang sangat besar ini. Aku sempat bingung harus bertindak bagaimana, tapi tanpa di duga-duga tuan Zack mengajakku bersandiwara.
"Cepat padamkan apinya..." teriak tuan Zack dengan wajah khawatir
__ADS_1
"Bergegaslah, selamatkan apa yang masih bisa di selamatkan..." teriak tuan Ben tidak kalah akting
"Apakah aku juga perlu ikut berakting?" cibir Leon
"Silahkan saja jika ingin membuatku tertawa!" aku terkekeh kecil mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya
"Ya ampun... bagaimana hal ini terjadi?"
"Apakah tidak cukup dengan wabah saja..."
"Sekarang kediaman grand Duke benar-benar mengalami kerugian yang sangat besar..."
"Apakah kita perlu membantu memadamkan apinya?"
"Benar!" mereka terus berbicara hingga membuatku hampir tertawa
Aku puas melihat semua ini yang bagaikan hiburan tersendiri bagi diri ini yang sempat menangis dengan alay. Tanpa mengurangi rasa terimakasih pada penduduk yang menyempatkan dirinya menengok perapian ku. Dengan baik hati aku memberikan beberapa keping uang emas dan makanan kepada setiap orang.
Dan tentunya tidak lupa aku memasang wajah Malaikat, meminta maaf karena telah membuat keributan malam-malam seperti ini hingga membuat waktu istirahat para penduduk terganggu. Semua orang tentu saja senang, karena mendapatkan beberapa keping uang emas hanya dengan menunjukkan rasa prihatin mereka dengan perapian ini.
Wabah ini memang sangat berdampak bagi mereka yang hidup dalam kekurangan selama ini. Aku turut prihatin dengan kondisi mereka yang menyedihkan karena tidak bisa terlahir dari keluarga kaya raya seperti diriku di kehidupan lalu.
"Malaikat berhati Iblis!" bisik Leon setelah semua orang kembali ke rumah masing-masing
"Biarlah, ketimbang anda iblis berhati bajingan..."
__ADS_1
"Apakah kau tahu apa itu bajingan..." marahnya
"Bajingan itu... ya anda!"
"Dasar manusia kurang ajar!" kekehnya
"Jika tidak kurang ajar, itu bukan manusia..." kata ku menepuk-nepuk pipinya
"Lancang sekali tanganmu ini..."
"Sudah lah, aku ingin istirahat dengan nyaman malam ini..."
"Apakah kau pikir aku akan melepaskanmu..."
"Jika tuan tidak punya rumah, anda bisa menginap disini... Hoaamm, ngantuk!" kataku melepaskan genggamannya
"!!" dia terdiam kesal
"Ingat, satu malamnya 5 juta keping emas."
"Apakah kau berniat memeras!"
"Apakah anda begitu miskin tuan?" kataku berlalu pergi dari hadapannya
Leon terlihat kesal karena ucapan ku yang memang kurang ajar dan berlebihan kasar saat berbicara padanya. Lagipula untuk apa berbicara sopan padanya, paling mengerikan mungkin aku akan di bunuh olehnya setelah disiksa dengan sangat mengerikan. Bukannya tidak takut mati, tapi memang tidak memikirkan mati selama berada di dekat Leon, karena ada di dekatnya saja rasanya sudah seperti menjadi arwah gentayangan.
__ADS_1