
Semua yang menghadiri rapat saling mengajukan argumen mereka masing-masing. Tubuhku masih lelah tapi aku memaksakannya agar tetap terjaga dan mendengarkan semua masukan mereka. Matahari mulai menelisik masuk melewati celah-celah jendela dan pintu yang memang tidak tertutup rapat. Bukan karena di sengaja, tapi memang karena keadaannya sudah begitu buruk.
Bahkan bangunan tempat kami rapat terlihat bolong di bagian atapnya, membuatku semakin pusing dan stress dengan semuanya. Rasanya suasana hatiku semakin di buat kesal, oleh raja kegelapan yang nangkring di dekat lemari tua yang di beberapa bagian telah di makan rayap.
"... Putri! apakah kita akan diam saja seperti ini melihat semuanya?" tanya salah satu pengurus membuyarkan lamunanku
"..." aku menarik napas panjang "Menurut kalian sendiri lebih baik yang seperti apa menindak masalah ini? Jika kita mengambil dari sisi pendapat tuan Marvin, pendapat tuan-tuan semuanya tidak kalah penting... akan tetapi, bagaimana jika kita satukan semua rencana yang bisa dilaksanakan dalam waktu dekat ini?" usul ku
"Tapi jika kita menggabungkan semua rencana yang bisa dilaksanakan dalam waktu dekat ini, amat sangat beresiko, Putri..."
"Benar, dan kita tidak tahu seberapa besar skala resiko yang akan ditimbulkan..."
"Belum lagi memikirkan tentang kerugian ataupun kegagalan dari rencana ini..."
"Bla,bla,bla..." mereka semua seakan-akan memenggal semua ide ku
"Brakkk..." aku menggebrak meja karena kesal dengan ocehan mereka semua dan tentu saja membuat mereka diam "Rapat ini kita lanjutkan nanti malam, setelah kepala kalian semua di rendam kedalam air dingin..."
__ADS_1
Kataku lancang segera keluar dari bangunan tidak mempedulikan pendapat mereka tentang diriku setelah keluar dari bangunan ini. Rasanya mereka benar-benar meremehkan ku yang hanya seorang kepala keluarga sementara di kediaman grand Duke. Tapi tak apalah, selagi aku bisa bernafas gangguan apapun itu masih bisa ku basmi.
"Hei, apakah perlu bantuan ku untuk menutup mulut..."
"Diamlah, jika tidak membantu apa-apa!" kesalku pada raja kegelapan yang mengikutiku
"Kata siapa aku tidak membantu! Aku sudah melakukan tugas yang kau berikan!" katanya bangga seakan-akan minta di puji
"Memangnya aku pernah menugaskan mu melakukan apa?"
"Bukankah kau meminta bantuan dariku untuk merusak seluruh tanaman di benua musuh?" katanya menatapku tajam
"Tentu saja!" dia berdiri dengan congkak serta tangan dilipat di dada
"Baguslah! Terimakasih atas bantuan anda tuan..." kataku menepuk-nepuk pundak nya bangga
"Apakah hanya itu?"
__ADS_1
"Apanya? memangnya aku harus berlutut dan menangis kegirangan karena telah mendapatkan bantuan dari raja kegelapan..."
"Leon! panggil namaku" potongnya di tengah-tengah Omelan ku
"Hehh, baru sekarang memperkenalkan diri, tapi ngelunjak pengen di panggil dengan akrab!" kataku meremehkannya
"Apa-apaan sikapmu itu? kau itu hanya manusia biasa yang bisa mati kapan saja di tanganku... tahu diri sedikit!" katanya mencengkram wajahku
""Enyangnya au euli..." (emangnya aku peduli)
"Makin lama makin ngelunjak... tapi aku suka sifatmu yang seperti ini!" katanya malah nyengir menghempaskan wajahku
Sial, pipiku rasanya nyeri + sakit karena cengkraman nya yang terlalu kuat barusan. Sampai-sampai kalimat yang ingin ku ucapkan masih terdengar tidak jelas.
Mataku melihat hal yang luar biasa di depan sana, sebuah bangunan yang terlihat lebih mewah dari bangunan lainnya yang biasa-biasa saja. Lambang keluarga grand Duke Argen terpampang jelas di bangunan itu.
"Dasar para sampah menjijikkan!!" cibirku kepada para pengelola tempat ini
__ADS_1
Mereka semua benar-benar menjijikkan, bagaimana bisa mereka dengan teganya meletakkan bahan pangan untuk para prajurit dan penduduk desa yang terdampak perang, diletakkan di bangunan yang seakan-akan bisa roboh hanya karena ditiup angin. Sedangkan mereka tidur dengan nyenyak di tempat seindah dan semewah bangunan yang membuat siapa saja yang melihatnya jatuh cinta ini.