KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Aku Tau... Tapi Memilih Diam!


__ADS_3

Saat alamat toko buku telah kuberikan kepadanya Leon malah menatapku dengan matanya yang dalam itu. Dia tidak mengatakan apa-apa hingga membuatku menelengkan kepala bingung, dengan maksud dari tatapannya.


"Kamu ingin aku ikut bersamamu?" tanyaku akhirnya


"Pake nanya lagi!" katanya segera menarik lenganku


"Eits, tunggu dulu! aku harus mengganti pakaian dulu!"


"Pakai apa yang ada di tubuhmu sekarang saja, aku malas menunggumu berias yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam..."


"Hei... tunggu dulu! Bagaimanapun aku tetap harus memperhatikan penampilan... apalagi ini hari pertamaku keluar kediaman, setelah lama berada di wilayah itu!" Leon melepaskan tanganku dan berbalik menatapku


"Benar apa katamu! Kau kan tokoh jahat di dunia ini, bagaimanapun keadaannya kau harus terlihat seperti penjahat!" katanya dengan memicingkan mata


"Ya, ya, ya, aku adalah penjahat paling jahat!" kesalku segera menarik lonceng


Deti dan para dayang lainnya segera masuk ke kamar Seperti biasanya. Setalah aku mengatakan ingin pergi keluar, mereka semua segara membantuku bersiap-siap. Sekilas aku melihat ekspresi wajah Deti yang seperti keberatan jika aku keluar sekarang. Apalagi setelah aku mengatakan jika tidak ingin di temani siapapun, dengan alasan pergi bersama Leon.


Aku tahu Deti mengkhawatirkan diriku, yang terkenal memiliki banyak musuh di kota kekaisaran ini. Untungnya yang sekarang bertugas melayaniku bukan Qirca si cerewet itu, abaikan saja Qirca yang berada di sini sekarang mungkin dia tidak akan mengijinkan ku keluar dari kediaman sedikitpun. Apalagi dengan kondisi tubuhku yang masih lelah akibat perjalanan panjang, dari wilayah di luar kota kekaisaran.


Saat ini aku memberikan Qirca waktu cuti hingga waktu yang tidak pasti, karena aku tahu jika seorang ibu muda itu perlu banyak waktu mengurus bayi dan keluarga. Anggap saja dia liburan untuk beberapa tahun kedepan, agar nantinya aku bisa menyiksanya dengan penuh, setelah dia kembali ke kediaman ini. Karena pekerjaan yang harus kulakukan tidak ada henti-hentinya, walaupun selalu di kerjakan tepat waktu.


"Ambilkan pakaian yang sederhana saja!" tolak ku saat mereka membawa gaun mewah


"Bagaimana dengan yang ini, nona?"


"Yang lebih sederhana lagi..."


"..." akhirnya mereka semua pun menjadi bingung


Satu lemari tidak cukup mereka bongkar, semua ini memang salahku yang selalu mementingkan kesan jahat, sehingga membeli semua pakaian mewah yang ada di ibukota. Aku sadar jika aku terlalu berambisi untuk terlihat sebagai wanita jahat, padahal aku tidak nyaman dengan apa yang kulakukan, bahkan pakaian yang biasanya ku pakai pun bukan pakaian yang bisa membuatku nyaman.


"Bagaimana dengan yang ini, nona?"

__ADS_1



"Baiklah! pakai itu saja!" putusku akhirnya


"Saya akan memesan beberapa gaun sederhana lagi hari ini!" kata Deti yang sedang sibuk membantuku memakai gaun


"Ingat, pesan gaun yang sederhana saja!"


"Baik nona!" sahutnya tersenyum manis seperti biasa


"Bisakah kita berangkat sekarang?" tanya Leon yang tiba-tiba muncul


Para dayangku yang manis ini terlihat kaget dengan kemunculan tiba-tiba dari Leon. Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan dirinya yang sangat suka muncul tiba-tiba ini, aku hanya berharap semua orang yang ada di dekatku segera terbiasa dengan kehadirannya. Semoga saja mereka cepat terbiasa, agar aku tidak perlu melihat wajah tegang dan ketakutan mereka lagi kedepannya.


"Kita berangkat sekarang!" kataku segera melangkah


"Kau terlihat manis!" lirihnya


"Apa yang kau katakan barusan?" aku ingin memastikan ucapannya barusan sekali lagi


"Ya, ya, ya, apa katamu saja!"


Di luar kereta kuda telah disiapkan, kami berdua segera menaiki kereta kuda yang seperti hotel berjalan ini dengan tenang. Leon tidak banyak bicara hati ini, sehingga aku tidak perlu repot-repot memintanya berhenti bicara.


Udara di sini sangat segar dan menenangkan, aku suka tempat ini lebih dari tempat manapun. Anak-anak kecil yang berlarian kesana-kemari, Seperti tidak memiliki beban apapun, para orang dewasa yang sibuk berbincang atau hanya sekedar bertukar sapa di jalanan, serta bunga-bunga yang tumbuh menghiasi setiap rumah menjadikan tempat ini seperti suatu kota di negri dongeng.


Aku sengaja membiarkan jendela kereta untuk menikmati pemandangan indah ini, Pemandangan yang membuatku tidak bisa berhenti untuk tersenyum. Rasanya aku selalu bahagia dimanapun aku berada, apakah rasa ini hadir karena aku merasa puas dengan kehidupanku saat ini?, ataukah karena aku masih menganggap jika dunia ini hanyalah mimpi?.


Semuanya memang masih belum pasti, walaupun aku sudah menghabiskan waktu yang tidak sedikit di tempat ini. Aku seorang wanita yang pernah (merasa) hidup di dunia modern, tidak ada salahnya bukan jika aku menikmati semua ini. Karena aku hanya akan fokus pada apa yang terjadi hari ini, bukan masalalu ataupun masa depan.


"Berhentilah tersenyum, kau bisa dikira sebagai orang gila nantinya!" kata Leon memecah keheningan


"Aku memang wanita gila! jika aku waras, bukankah aku tidak akan mungkin duduk satu kereta dengan raja kegelapan!" aku tersenyum ke arahnya yang segera berpaling

__ADS_1


"Dasar konyol..." entah dia sedang kesal atau apa, yang jelas wajahnya memerah


"Hihihi... kamu lucu!" tawaku melihatnya yang sekarang seperti serigala dalam panggangan


"!!!" Dia semakin berpaling bahkan duduk membelakangi ku


Dia raja kegelapan di dunia ini, walaupun aku yakin jika dia mempunyai rasa kepadaku. Aku akan tetap memberikan batas yang nyata jika aku tidak akan pernah membalas perasaannya. Aku menyukainya sebagai kakak, bukan sebagai seorang laki-laki yang bisa kucintai. Aku bisa percaya padanya, aku bisa menyukainya, aku juga bisa mati untuknya, tapi aku tidak akan pernah bisa menjadi jodohnya, walaupun telah di takdirkan.


Saat ini, cintaku sedang terluka karena nya yang selalu menatapku dengan curiga. Aku ingin membencinya dan belajar melupakannya, walaupun semua itu pasti berat, tapi aku akan tetap berusaha untuk menjauh darinya, walaupun cinta ini terus mendesak ingin memilikinya.


Aku akan mencintai nya dari jauh dan membencinya dari dekat. Kini aku menyadari satu hal, jika ternyata melepaskan cinta tulus itu tidak semudah memalingkan wajah pada pria lain. Memang aku masih bisa tersenyum dan mengagumi setiap pria tampan yang kutemui, tapi nyatanya aku tidak bisa melupakan wajahnya. Kuharap suatu hari nanti, Zed bisa melihatku sebagai seorang wanita, bukan sebagai seorang monster yang harus di hindari nya.


"Putri! kita telah sampai!" kata pak kusir setelah mengetuk pelan pintu kereta


"Kami akan keluar!" sahutku


"!!!" Leon hanya diam saat kuseret masuk


"Kenapa diam? Bukankah kamu yang ingin pergi ke tempat ini!" kataku berpaling menatapnya yang segera membuang muka


"!!!" dia masih diam


"Eiy! kau tidak mungkin sedang marah kan!" aku menggodanya


"Ma,mana mungkin aku marah... Ka,kalau sudah sampai ya sampai saja, apa yang perlu di marahkan!" katanya bergegas menuju rak buku


"Khihihi..." tawaku melihatnya yang melangkah dengan kaku


"Selamat datang nona dan tuan muda! apakah ada yang bisa saya bantu!" sapa penjaga toko buku ini, sepertinya


"Saya ingin melihat-lihat koleksi novel romantis!" kataku sopan dan penuh semangat


"Ma,mari ikut saya nona!" katanya tergagap segera mengajakku ke rak jajaran novel

__ADS_1


Aku tidak berniat menggoda penjaga ini, tapi kenapa dia tergoda???. Terserahlah, aku hanya akan fokus membantu Leon menemukan novel yang sesuai dengan seleranya saja hari ini.


__ADS_2