KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Penyusup Yang Dikenal


__ADS_3

Aku merenggangkan persendian tulangku dan tersadar jika langit diluar sudah gelap. Wajar saja jika sudah gelap, karena sebagian besar berkas sudah terselesaikan. Kulihat kedua asisten ku masih sibuk berkutat dengan tumpukan berkas yang ada di meja mereka. Aku merasa kasihan dengan mereka yang bekerja seperti mesin di bawah kepemimpinan ku.


"Aku akan berbaik hati! kalian berdua bisa pulang lebih awal hari ini!" kataku membuat mereka berdua terperangah kaget


"Be, benarkah putri?" kata Ase ragu


"Putri, tidak sedang menguji kami kan?" selidik Missa


"Yah, walaupun hati ini kalian bisa pulang cepat... aku hanya berbaik hati karena tahu bahwa besok kita akan sangat sibuk setelah para utusan datang!"


"..." mereka saling berpandangan


"Benarkah kami bisa pulang cepat hari ini putri?" tanya Mereka penuh harap


"Silahkan! aku tidak akan mengganggu waktu istirahat kalian sebelum matahari terbit esok harinya..."


"Ka, kalau begitu kami berdua permisi duluan putri... semoga malam anda indah!" pamit mereka berdua terlihat senang


"Tunggu..." mereka berbalik dengan wajah tegang "... Bawalah beberapa cookies untuk putra putri kalian, mintalah pada kepala koki di dapur, katakan saja ini perintah dariku..."


"Te, terimakasih banyak tuan putri..." mereka membungkuk semakin senang

__ADS_1


(Ibuku pun mungkin juga akan bahagia hanya dengan hal sederhana ini, jika bos ibuku berbaik hati seperti yang kulakukan pada bawahan ku barusan!!)


Aku teringat dengan senyum bahagia ibuku saat mendapatkan kabar jika aku lulus bekerja saat itu. Wajah bangga dan bahagia yang akhirnya terlukis indah di dalam benakku, hingga sekarang. Seperti itulah wajah kedua asisten ku barusan, saat menatapku dengan mata mereka yang bergetar terharu. Karena mungkin selama ini mereka hanya mengetahui jika aku adalah orang yang kejam dan tidak berperasaan.


Aku juga sudah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan, mungkin kini saatnya aku kembali ke kamar sambil menikmati segelas teh hangat. Tapi saat kakiku hendak melangkah keluar pintu aku ingat dengan satu pekerjaan lagi yang belum terselesaikan.


"Kamu! panggilkan ke 6 prajurit yang ku bawa hari itu..." tunjukku pada seorang prajurit


"Baik putri!" Dia beregegas pergi setelah mendapatkan perintahku


Sepertinya aku melupakan hal yang kujanjikan pada mereka berenam, karena terlalu sibuk dengan urusan di wilayah ini. Bahkan aku tidak pernah bertanya bagaimana keadaan mereka, aku benar-benar pemimpin yang bodoh. Aku kembali melangkah menuju meja kerja sambil merutuki diriku yang kelewat bodoh ini.


"Lindungi tuan putri! ada penyusup..." teriak salah satu pelayan segera berdiri seakan-akan sedang melindungi ku


"Ada apa ini?" tanya ku bingung dengan kehebohan mereka


"Tenanglah tuan putri, para prajurit akan menangani penyusup itu, mari ikut saya keluar..." ajak pelayan itu membawaku menjauh dari kerumunan prajurit


"Jangan biarkan penyusup ini lepas, serang!" teriakan komando membuatku semakin penasaran, siapakah gerangan penyusup yang berani masuk keruang kerjaku.


Setelah nya tiba-tiba saja semua prajurit yang mengepung penyusup itu terlempar berhamburan.

__ADS_1


"Lindungi tuan putri..." belum sempat aku melihat wajah penyusup itu, mereka semua sudah menghadang pandangan ku


"Hei, apakah kau hanya akan diam saja di balik sekumpulan manusia lemah ini?" kata suara yang sangat kukenal


"Apa? kalian semua minggir lah dulu, karena dia adalah sesuatu yang kukenal!!" aku hanya bisa menepuk jidat dan menggeleng pasrah dengan keadaan ini


"..." semuanya menyingkir membuka jalan dan benar saja topeng itu dan mata merah itu, apalagi kalau bukan Leon


"Benarkah aku hanya sesuatu seperti itu??" katanya tiba-tiba berpindah ke hadapanku


"Eits..." aku hampir terjungkal kebelakang karena kaget, tapi untungnya sempat di tahan oleh tangannya yang dingin


"Hati-hati..."


"Plakk..." aku mendaratkan tanganku di topengnya "Salah siapa yang tiba-tiba mendekat kayak gini!" kesalku


"Pu, putri..." para pelayan dan prajurit menatapku penuh khawatir


"Tenanglah, aku tidak apa-apa..."


"Tuan putri!!" teriak prajurit yang ada di ambang pintu saat Leon membantuku menstabilkan kakiku

__ADS_1


"..." aku hanya bisa menepuk jidat


Sebelum mereka semua salah paham, aku segera menghentikan langkah mereka yang seakan-akan siap menghunus Leon detik ini juga. Tapi ketika kelima prajurit mengenali jubah yang di pakai Leon mereka berhenti dengan teratur. Eh, tunggu sepertinya kurang satu prajurit lagi.


__ADS_2