KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Bosan


__ADS_3

"Apakah kedatangan kakak kemari hanya untuk melamun?" tanyaku yang tentu saja diabaikan oleh nya


Aku merasa kesal dengannya dan berusaha melemparkan bantal "Aaakkkkk...." teriakku meringis kesakitan saat luka di perut terasa robek


"Hei... Ada apa?" tanya Lean bangkit berdiri dengan sigap menghampiriku


Aku memegangi perutku yang terasa sangat perih dengan wajah meringis kesakitan "Bukan apa-apa... Hanya..."


"Darah!... Lukamu berdarah lagi..." katanya dengan mata terbelalak melihat noda merah pada gaun tidurku yang berwarna krem


"Oh! Benarkah..." kataku masih meringis berusaha bangkit duduk untuk melihatnya


"Jangan bergerak! Aku akan memanggilkan dokter kemari..." katanya bergegas berlari keluar pintu


Saat Lean membuka pintu dia berpapasan dengan Via yang membawa nampan berisi makanan untukku, Tapi belum sempat aku menyantap makanan itu, Via sudah keburu melepaskan nampan di tangannya hingga mendarat ke lantai dan bergegas pergi dengan langkah secepat kilat entah kemana. Dan aku hanya bisa menghela nafas panjang melihat makanan yang terbuang percuma di lantai.


Lean kembali berbalik menghampiriku dengan wajah takut-takut saat melihat tanganku yang menutup luka sudah berlumuran darah. Sepertinya luka ini memang cukup parah sehingga proses penyembuhan berlangsung sangat lama.


"Apakah sakit?" pertanyaan konyol apa ini yang di katakan Lean

__ADS_1


"Kau pikir?" geramku kesal


"Entahlah!" dia mengangkat bahu santai dan duduk di dekatku lalu membantu ku menutup luka dengan tangannya


"Aaakkk.... Pelan-pelan, sakit tau..." kesalku saat ia menekan terlalu kencang


"Bawel!" katanya dengan wajah datar


Tidak berselang lama dokter masuk bersamaan dengan Via yang segera berlari menghampiri ku dengan wajah pilunya. Dokter segera menangani luka di perutku yang sempat membuatnya bingung, karena ukuran lukanya sudah menyempit sedikit. Dan aku yang di tatap hanya bisa tersenyum kikuk saat dokter menatapku dengan wajah heran, tapi tidak mengatakan apa-apa.


Setelah selesai mengobati dan mengganti perban luka, dokter segera pamit undur diri, namun masih menatapku dengan tatapan penuh tanya sebelum menghilang di balik pintu.


"Pasti ada yang aneh!" gumam Lean di sampingku


"Katakan dengan jujur padaku..." kalimatnya terhenti saat melihat sekitar kamar yang penuh dengan pelayan "... Kalian semua keluar lah!" usir Lean memerintah para pelayan agar meninggalkan kami berdua


Aku mengangguk saat Via menatapku "Aku akan baik-baik saja!" kataku meyakinkan mereka semua


Setelah semuanya keluar Lean mulai memasang wajah serius "Kau..." katanya tanpa ada kelanjutan

__ADS_1


"Apa?"


"Kau... Kau! Tidak apa-apa, istirahat lah dengan baik aku pergi" katanya berlalu menuju pintu


"Dasar aneh!"


Setelah Lean keluar aku juga meminta Via yang hendak masuk untuk meninggalkan ku sendirian. Rasanya lelah dan bingung harus melakukan apa jika berada dalam keadaan yang seperti ini. Andai disini sudah ada alat canggih seperti handphone, mungkin tidak akan ada yang namanya kebosanan seperti ini. Pilihan hanya ada satu kalau sudah begini, tentu saja memanggil Leon untuk membawaku pergi senang-senang.


"Eh, gimana sih caranya manggil tu makhluk, lupa!" gumamku berusaha mengingat apakah ada cara untuk memanggil Leon


"Kenapa? Ada apa kau ingin memanggil ku? " tanya Leon yang tau-tau sudah berdiri di depan mata


Aku mengerjap-ngerjap kan mata "Eh, itu anu... Aku bosan, hehehe... pengen jalan-jalan!" kataku dengan wajah imut serta memelas


"Dasar babi jelek!" gumamnya kasar


"Maaf ya... aku bukan babi. Tapi rubah licik!" kataku meralat julukan yang di berikannya


"Ckckck!!" dia hanya berdecak pasrah

__ADS_1


***


Up lagi nih, sedikit demi sedikit. Hehe


__ADS_2