KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Guild Informasi


__ADS_3

"Kudengar kau sedang mencariku, ada apa?" tanya Lean setelah semuanya kembali normal


"Tidak ada apa-apa! Aku hanya ingin melihat kakak saja" kataku dengan wajah imut


"Ka,kau! Apa kita sedekat itu, sampai membuatmu memanggil ku kakak!" katanya kesal


"Tidak! Tapi kita akan menjadi dekat!"


Dia melangkah pergi dengan wajah terlihat kesal denganku, tapi aku mengikutinya dari belakang. Sepertinya Lean akan kembali ke kamarnya karena sekarang kami sedang mengarah ke istana selatan. Aku berhenti mengikutinya lalu hanya bisa menatap punggungnya yang semakin jauh meninggalkanku.


"Yasudah lah, perlahan-lahan saja!" gumamku


"Apa kau berniat dekat dengannya?" tanya Leon


"Tentu saja! karena aku membutuhkan perisai nyata bukan bayangan seperti mu!" kesalku mencibirnya


Karena hari masih siang aku memutuskan untuk pergi keluar, niatnya sih pengen pergi ke kediaman Duke Freious untuk menemui lady Ayla. Tapi kayaknya terlalu cepat, sehingga ku urungkan niat tersebut.


"Sekarang tanggal berapa? dan kapan grand Duke akan menjemput ku?" tanyaku pada Leon tentunya


"Masih ada 4 hari sebelum kau di bawa kembali ke kediaman grand Duke!" sahutnya masih dengan bentuk tidak terlihat


Waktu 4 hari masih lumayan panjang, untukku mencari sekutu di istana kaisar sebelum di bawa pergi. Sepertinya putra mahkota juga akan memiliki kesempatan untuk membalas perbuatan ku barusan. Mengenai tingkah putra mahkota yang barusan, memang masih wajar untuk saat ini, karena perubahan sikapnya nanti akan terjadi setelah perang dengan benua musuh beberapa bulan lagi.


Nanti saat perang terjadi, demi melindungi posisinya, putra mahkota menjadi orang yang sangat berambisi sehingga membuatnya terlihat dingin. Mungkin perang itu tidak akan terjadi lagi, karena aku akan mencegahnya dengan bantuan dari Leon si raja kegelapan.


"Antarkan aku ke menara sihir?" pintaku pada kusir


"Baik putri!"


"Kenapa kesana?" tanya Leon terlihat tidak suka


"Aku ingin melihat wajahnya!" aku mengatakannya dengan perasaan bahagia


"Apa kau yakin?"


"Memangnya kenapa! Jangan bilang jika Zed juga ingat tentang kehidupan yang lalu?" tebakku


"Tentu saja, dia kan utusan dewa dan pernah tinggal di kota suci!"


Pupuslah sudah harapanku bisa melihat wajahnya "Ganti tujuan, sekarang antarkan aku ke pusat kota!" pintaku tidak bersemangat pada kusir


"Baik putri!" kusir membelokkan arah tujuan


"Apa kau ingin belanja?"


"Tidak! Aku ingin mencari guild informasi!"


"Apa kau masih ingin mencari manusia itu?"


"Tentu saja! Karena dia membuatku penasaran!" tanpa sadar aku tersenyum licik


"Senyuman licik itu memang paling cocok ada di wajahmu!" kata Leon membuang muka

__ADS_1


Aku mengabaikan perkataannya dan kembali mengingat-ingat kejadian sebelum aku kembali ke umur 14 tahun. Tidak banyak yang bisa kuingat, tapi yang jelas aku masih ingat dengan jelas dengan tumpukan berkas di meja kerja saat aku menggantikan posisi grand Duke yang ada di medan perang.


Sesampainya di pusat kota, aku meminta pak kusir berhenti di depan sebuah toko kecil yang menjual makanan pasar. Tentunya tidak lupa melepas tanda pengenal seorang putri yang segera kusimpan di saku bajuku bagian dalam.


"Wah, sudah lama aku tidak mencicipi makanan seperti ini!" kata Leon yang telah menampakkan wujudnya sebagai seorang laki-laki super tampan


"Wajahmu itu akan membuatku kesulitan!" Aku hanya bisa menepuk jidat kesal melihatnya menikmati makanan jalanan dengan wajah imut


"Pemuda itu tampan sekali..."


"Apakah dia sudah punya istri?" beberapa wanita muda mulai berkerumun mengagumi wajah dan tubuh proporsional Leon


"Tapi siapa gadis cantik di sampingnya itu, apakah dia adiknya?"


"Berasal dari keluarga mana mereka? Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya!"


"Benar! Apakah mereka keluarga yang baru pindah kekaisaran?"


"Mungkin saja! Lihat, lihat! dia mengedipkan sebelah matanya ke arahku..." histeris seorang lady saat Leon mengedipkan matanya genit


"Jangan membuatku geli!" kataku tidak jadi memakan sate yang hampir sampai ke mulutku


"Makan saja! Ini semua enak!" katanya memaksa sate masuk ke mulutku


Aku hanya bisa mengunyah apa yang telah masuk ke dalam mulutku dengan kesal melihatnya yang masih bersikap genit pada para lady itu. Aku kesal bukan karena Dia menggoda para lady itu, tapi karena selain sibuk menggoda para lady, ia juga terus mengambil makanan yang hendak kumakan.


Aku juga maklum dengan cara genitnya menggoda para lady, karena tahu jika dia itu berusia berpuluh-puluh kali lipat dari wajah nya saat ini. Wajah muda usia tua, mungkin hanya dia seorang yang memilikinya di kehidupan ini.


"A,ada apa lady?" tanyanya padaku


Dilihat dari tampangnya sepertinya dia hanya 5 tahun lebih muda dari umur ku saat ini "Kau ingin uang tidak?" tawarku


Matanya terlihat tertarik "Saya tidak bisa membunuh orang dengan tubuh kecil ini!" katanya menebak


"Ha-ha-ha! Memangnya aku terlihat seperti ingin membunuh seseorang?" tanyaku setelah tertawa hambar


Dia mengangguk "Apakah bukan?"


"Kalaupun aku ingin membunuh seseorang, aku akan membunuh dengan tangan ku sendiri! Aku hanya ingin memintamu menunjukkan jalan menuju guild informasi, apakah kau tahu dimana?" tanyaku langsung


Anak ini menggangguk "Mari ikut saya lady!"


Sebelum melangkah mengikuti anak ini aku menoleh ke arah Leon yang sekarang s dang di kerumuni oleh lady-lady cantik dan menawan. Aku hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya yang seperti itu, apa mungkin dia melakukan itu semua karena terlalu banyak membaca novel romantis?. Entahlah, terserah dia saja.


Anak kecil di depanku ini, membawaku memasuki gang-gang sempit dan kumuh. Di sepanjang jalan mengikutinya aku sempat berpapasan dengan para berandalan yang menatapku buas. Hingga akhirnya ada juga yang berani menghadang perjalanan kami.


"Ka,kalian mau apa? Lady ini milikku!" kata bocah itu menghalangi para pemuda yang terlihat berantakan


"Minggir..." Bentak salah satu dari mereka mendorong bocah itu


Bocah itu segera bangkit lagi "Lady! cepat lari..." teriak bocah itu memintaku lari


"Kau..." pemuda yang terlihat sebagai kapten itu kembali menendang bocah itu hingga tersungkur

__ADS_1


Mungkin sekarang terdengar seperti cerita klise lainnya, tapi memang gang-gang kecil dan kumuh itu rawan kejahatan. Mau itu di dunia ini ataupun di dunia modern, semuanya sama saja.


"Hei! bisakah bersikap lembut sedikit pada anak kecil!" kataku kesal melihat mereka


Mereka semua menatapku kembali dengan tatapan sedang mengincar mangsa "Kenapa masih belum lari lady?" tanya mereka meremehkan ku


"Aku tidak punya kaki!" sahutku sembarang sambil membersihkan telinga


"Pffttt... Hahaha...." mereka semua menyemburkan tawa


"Lalu apa yang ada di balik gaun mewah itu? Apa anda bisa terbang sehingga tidak punya kaki!" mereka semua masih tertawa


"Yah, aku memang punya kaki sih... Walaupun begitu bukan urusan kalian juga kan!"


Mereka terdiam karena merasa diremehkan "Lady! anda terlalu sombong hanya karena punya kekuasaan... Kalian semua para bangsawan hina, hanya bisa merendahkan rakyat biasa..." Dia meludah ke arahku yang dimana ludahnya itu hanya berjarak sekilas saja lagi dari gaunku


"Iihhh, menjijikkan...." kataku melangkah mundur


"Tangkap dia!" katanya semakin kesal


"Berhenti!" perintahku membuat mereka berhenti dan saling menatap satu sama lain sebelum kembali tertawa meremehkanku


"Lady pikir kami akan menuruti apa kata anda..."


"Tidak! Aku hanya ingin mengajukan penawaran pada kalian, itupun jika kalian mau!"


"Penawaran apa itu?" tanya salah satu dari mereka


"Kalian menginginkan uang bukan?" tanyaku yang tentu saja membuat mereka mengangguk


"Lady!" kata bocah itu mencegahku bicara


"Tenanglah, kau akan tetap dapat bagian..."


"Apakah mereka mengganggu mu!" kata Leon dingin tiba-tiba saja muncul


"Tentu saja!"


"Sial! Ternyata wanita ini cukup licik, dia sengaja mengulur waktu karena tahu bantuan akan datang..." kata mereka segera balik kanan hendak bubar


"Kalian pikir bisa kabur semudah itu..."


"Biarkan saja para pengecut itu! cegat ku saat Leon hendak bergerak


"Hei bocah! Antarkan aku ke tujuan awal karena mereka telah kabur..."


Bocah itu segera bangkit berdiri dengan tertatih-tatih menahan sakit setelah di hajar oleh para berandalan itu. Tidak lama setelahnya bocah itu berhenti di depan sebuah rumah dan mengetuk pintunya, seorang pemuda tanggung membuka pintu.


"Nah ini bayaranmu! Dan makan bingkisan ini setelah kau seratus langkah jauhnya dari tempat ini, mengerti?" tanyaku menyerahkan kantong uang logam dan sebuah cookies yang telah ku letakkan mantra penyembuh pada cookies itu.


Dia mengangguk dan mulai menghitung langkahnya pergi meninggalkan kami di depan pintu bersama dengan seorang pemuda yang segera mengajak kami masuk. Setelah memasuki rumah ini, ternyata di dalam tidak seperti yang terlihat di luar. Awalnya memang hanya akan melihat ruang tamu biasa, tapi setelah membuka pintu toilet dan di dalam ada lagi pintu yang ternyata menuju ruang rahasia.


Setelah keluar dari lorong, mataku langsung disuguhkan dengan pemandangan para pria berotot besar yang sedang meminum arak. Ruangan yang awalnya ribut kini menjadi senyap, saat menatap seorang bocah perempuan seperti ku memasuki kawasan mereka bersama seorang laki-laki tampan, yang tidak lain adalah Leon.

__ADS_1


__ADS_2