KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Taman Istana


__ADS_3

Aku kembali ke masa umur 14 tahun, yang berarti beberapa hari setelah jiwaku masuk ke dunia ini. Kini semuanya tidak terasa asing lagi bagiku, karena ini kehidupanku yang kedua di dunia ini. Lalu apakah aku harus bahagia?, tidak! Saat ini aku tidak bisa bahagia terlalu cepat, sebab ada begitu banyak hal hang harus kulakukan dan itu pasti akan sangat melelahkan.


Setelah mengganti pakaian dengan yang lebih hangat, aku beranjak dari kamar untuk jalan-jalan. Saat pertama kali membuka pintu, tatapan seorang pelayan yang biasanya merendahkan putri Nyura membuatku jijik.


"Apa lihat-lihat! Cari mati?" kataku garang


Pelayan itu terlihat kaget karena tidak biasanya putri Nyura bersikap galak padanya, bahkan putri Nyura sendiri tunduk padanya "Pu, putri..."


"Jangan panggil namaku dengan mulut kotor mu itu, kau menjijikkan!" kesalku menumpahkan air bekas pel yang digunakannya untuk membersihkan lantai


Dia terlihat semakin kaget "Pu..."


"Kamarku saja kau biarkan terbengkalai, bagaimana mungkin kau bisa membuat lantai ini lebih licin daripada meja di dalam kamarku... Bersihkan kamarku sekarang!" Perintah ku padanya "... Jika saat aku kembali ke kamar, kamarku masih kotor, aku akan mengusir mu dari istana ini!" Kesalku berlalu pergi setelah menendang ember


Aku terus melangkah dengan pasti keluar dari istana selatan menuju taman. Para pelayan terlihat kaget saat melihatku yang tidak biasanya keluar dari kamar. Tatapan mereka yang sedang merendahkan ku tanpa berkata apa-apa itu membuatku tambah kesal. Aku balas menatap mereka dengan tajam, tidak disangka ternyata mereka semua segera menundukkan kepalanya takut dengan tatapan dari anak kecil seperti ku.


"Hei..." Aku menendang kaki salah satu prajurit yang berdiri di depan gerbang taman


Dia menatap kearah ku "Ada yang bisa saya bantu putri?" tanyanya setelah melihat lencana yang kukenakan sebagai tanda jika aku seorang putri


"Kenapa di taman berisik sekali?"


"Itu karena para pangeran dan tuan putri lainnya sedang bermain di taman putri!"


"Apa pangeran Lean juga ada di dalam?" tanyaku menoleh ke arah taman


"Pangeran Lean ada di dalam, tapi..."


Aku mengangkat tangan memintanya berhenti bicara "Ikuti aku masuk!"


"Baik putri!" sahutnya mengikuti ku di belakang


Setelah memasuki bagian dalam taman, beberapa putri dan pangeran yang umumnya tidak berbeda jauh dariku sedang mengadakan jamuan teh, sedang kan putri dan pangeran yang lebih kecil terlihat sedang bermain. Saat aku berhenti tidak jauh dari tempat mereka, aku menyisir mencari-cari di mana Lean berada. Mereka semua menatap ke arahku, seperti menatap makhluk asing uang baru mereka temui.


"Diaman dia?" tanyaku pada prajurit yang berdiri di belakang ku


"Pangeran Lean biasanya ada di atas pohon putri!"


"Tunjukkan padaku!"


"Mark ikut saya putri..." katanya segera menunjukkan jalan


Tiba-tiba putri dan pangeran yang lebih kecil dariku menghadang jalan kami "Bukankah kau putri terbuang di kamar ujung istana barat?" kata mereka merendahkan ku

__ADS_1


Aku menatap tajam ke arah mereka hingga mereka melangkah mundur "A, apa-apaan maksud dari tatapanmu itu?" tanya pangeran kecil itu


"Berisik! Jangan menggangguku jika tidak ingin menangis!" geramku meminta prajurit itu melangkah kembali


"Whohoho... Bukankah ini tuan putri yang terbuang!" tiba-tiba pangeran mahkota melangkah menghampiri kami "Untuk ukuran putri terbuang seperti mu, bukankah ucapanmu barusan terlalu kurang ajar... Kusarankan kau bersujud meminta maaf pada mereka sebelum..."


"Berisik!" kesalku hendak melangkah namun tanganku di cegatnya


Para putri dan pangeran lainnya berdiri dari kursi mereka dan menonton pertengkaran di antara aku dan putra mahkota "Lancang sekali mulutmu itu! Apakah kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah putra mahkota di kekaisaran ini!" katanya mencoba menakut-nakuti ku


"Memangnya kenapa jika kau putra mahkota! Jangan lupa, ayahku adalah seorang kaisar!" kataku menepis tangannya


Putra mahkota menatapku dengan tatapan kesal, Dia lebih tua dariku 7 tahun, tapi sikapnya terlalu kekanak-kanakan. Dia bukan hanya putra mahkota tapi juga anak pertama kaisar. Selebihnya aku dan putra-putri lainnya seumuran, hanya ada beberapa pangeran dan putri yang lebih tua dariku 3-5 tahun. Sekarang anak kaisar berjumlah 14 orang termasuk diriku, hanya permaisuri seorang yang memiliki 2 orang anak, selebihnya para selir hanya memiliki satu orang anak saja.


Termasuk putra mahkota saat ini yang merupakan anak dari selir terhormat yang memiliki banyak bakat menonjol dibandingkan saudaranya yang lain. Kulihat hanya pangeran kedua dan keempat sajalah yang tidak tertarik dengan masalah di antara kami saat ini.


"Tangkap dia!" kata putra mahkota memerintahkan pangeran lain menahanku


"Memalukan!" geramku menendang ************ mereka berdua secara bergantian


"Aduhhhh..." keduanya mengaduh kesakitan jatuh tersungkur


"Dasar payah!" kesal putra mahkota bergerak hendak menangkap ku


"Kau pikir aku percaya!" katanya meremehkan ucapanku


Aku menutup mata bersiap dipukul olehnya, namun tiba-tiba "Apa yang kau lakukan!!!" marah putra mahkota setelah menampar, tapi tidak mengenai wajahku


"Kak Lean!" kagetku melihat nya yang menggantikan ku ditampar oleh putra mahkota


Lean menoleh kaget menatapku "Apa kita saling kenal?"


Aku menggeleng lalu mengangguk "Apa kakak tidak ingin membalasnya?" tanyaku saat melihat merah bekas tamparan di wajahnya yang tampan


"Kenapa aku harus membalas? Dia kan putra mahkota!" katanya sepenuhnya mengalihkan perhatian padaku


"Memang benar dia putra mahkota! Tapi kak Lean kan anak kaisar dan permaisuri! biar bagaimanapun derajat kakak lebih tinggi dari anak seorang selir..."


Semua orang yang ada disini terdiam membisu menahan napas, karena dari satu sisi ada putra mahkota dan ada anak permaisuri serta kaisar benua ini. Hanya dua pangeran yang kutendang tadi saja yang sekarang menangis kesakitan di tanah.


"Bu,bukankah kau sendiri yang sengaja menamparkan diri barusan!!" katanya meminta persetujuan yang lain, tapi mereka semua hanya membuang muka


"Mana ada orang yang dengan sukarela di tampar!" kataku dengan senyum sinis

__ADS_1


"Ada ribut-ribut apa ini?" tiba-tiba suara berat menuapa kami semua


Saat aku berbalik menatap ke arah sumber suara, tiba-tiba saja atmosfer di tempat ini menjadi tertekan dan dingin. Dia adalah kaisar benua ini dan yang di sampingnya adalah selir ketiga dan keenam. Mata kaisar melihat ke arahku yang segera memberi salam bersamaan dengan mereka semua. Kulihat kaisar menunjukkan senyum smirk nya yang jahat, hingga membuatku merinding.


"Apa kau yang membuat keributan di tempat ini?" tanya kaisar melangkah ke arahku "Angkat wajahmu!" Aku mengangkat wajahku "Lumayan! Sekarang jawab pertanyaan ku!"


Aku menelan ludah "Benar ayahanda!" jawabku sekenanya


"Ohoho... Ternyata tikus penakut telah berubah menjadi serigala saat diluar.." Tawa kaisar semakin membuatku merinding


"Apa sekarang kau takut?" bisik Leon yang memang sejak tadi berdiri diam di sampingku dengan tenang


"Katakan apa masalahnya!" Kata kaisar masih kepadaku


Aku mengangkat kepalaku karena merasa diremehkan oleh Leon "Putra mahkota menampar pangeran Lean yang tidak salah apa-apa dan putra mahkota juga bersikap sombong karena dirinya merasa seimbang dengan posisi ayahanda..."


"Itu bohong..." Putra mahkota terdiam saat kaisar mengangkat tangannya


"Lalu! Apa hubungannya denganmu?" tanya kaisar lanjut


"Sebenarnya, putra mahkota ingin menampar wajah saya, tapi tiba-tiba saat pangeran Lean lewat, putra mahkota malah menampar pangeran Lean, karena kesal dan menganggap saya sebagai rendahan, sehingga menolak memberikan sebuah tamparan kehormatan kepada saya, katanya!" Terserahlah kalaupun mati di sini aku juga tidak peduli yang penting sudah menghasut mereka


"Benarkah begitu?" tanya kaisar pada Lean


"Benar ayahanda!" kata Lean yang tidak kusangka ikut bersandiwara bersamaku


"Ayahanda! semua itu bohong..." putra mahkota berusaha membela diri


"Sepertinya, aku harus memilih putra mahkota yang baru!" kata kaisar dengan senyum licik


"Ayahanda..." putra mahkota terlihat sangat kaget dan takut


Setelah mengatakan itu, kaisar berbalik kembali menuju istana utama tempat nya dan para selir berada. Sedangkan istana barat dikhususkan untuk para putri dan istana selatan untuk para pangeran. Semua pangeran dan putri di tempat ini sebenarnya tidak seakur yang dilihat, karena masing-masing dari mereka memiliki niatnya masing-masing, kecuali para pangeran dan putri kecil yang masih belum tahu apa-apa.


"Kau..." putra mahkota menudingku dengan telunjuknya


"Kenapa?" Lean kembali menjadi perisai ku


"Tunggu saja pembalasanku!" katanya meninggalkan pergi kami semua setelah mengancam ku


"Akan aku tunggu!!!" teriakku melepas kepergian nya


"Kau sangat berani!" Leon terkekeh di sampingku

__ADS_1


__ADS_2