KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Barisan prajurit


__ADS_3

Aku tidak terbiasa melangkah dengan pelan layaknya seorang putri dari negri dongeng. Bahkan jika benar putri dari negri dongeng berlari, pasti mereka tidak sebobrok diriku sekarang. Dengan langkah besar aku berlari menuju arena tempat latihan, tempat di mana semua ksatria berkumpul.


Gaun indah yang sedang ku kenakan sengaja kupeluk ujungnya agar tidak menyusahkanku saat berlari, hingga membuat Qirca terlihat marah. Entah kenapa aku merasa jika lorong-lorong ini sangaaatttt panjanggg, hingga membuat jantungku berdetak sangat cepat.


"Putri! rapikan dulu diri anda sebelum melangkah masuk ke tempat latihan para ksatria!" hadang Qirca


"Baiklah... sudah!" kataku menurunkan ujung gaun yang kupeluk


"Putri!!!" kesalnya


"Ini pertama kalinya bagi putri ke tempat ini bukan? Setidaknya anda harus terlihat rapi dan anggun layaknya seorang putri..." nasehat Deti merapikan gaun dan rambutku yang acak-acakan


"Harus begitu ya?"


"Setidaknya agar martabat anda sebagai seorang putri tidak tercoreng!" kata Deti dengan senyum ramah


"Hehh... Seandainya saja aku jahat, akan ku laporkan pada nyonya Dara tentang hal barusan..."


"Tapi Qirca kan baik..." kataku dengan wajah imut


"..." wajah Qirca memerah, mungkin karena melihat keimutan diriku

__ADS_1


Setelah Deti selesai merapikan diriku bersama beberapa dayang lainnya. Qirca yang masih memerah melangkah duluan untuk membukakan pintu yang ukurannya cukup besar hingga diperlukan tenaga 2 wanita. Saat pintu terbuka, aku hampir menganga lebar melihat luasnya arena latihan yang sekarang dipenuhi oleh para ksatria yang siap terjun ke Medan perang.


Kulihat di depan barisan para prajurit-prajurit berseragam lengkap itu, wajah datar dan dingin grand Duke menatap kearah ku. Walaupun agak kikuk aku memaksakan senyum setulus mungkin dan anehnya kenapa barisan menjadi kacau beberapa saat. Saat mereka mendapat tatapanku, mereka semua terdiam seperti seorang profesional.


Tapi saat aku memberikan seulas senyum mereka semua malah terlihat salah tingkah, terutama prajurit yang ada di barisan depan. Mungkin mereka terpikat oleh kecantikan ku yang tidak ada duanya ini di kekaisaran, karena memang aku hanya seorang.


"Yang mulia, kenapa anda bisa kemari?"


"Tuan Duke, saya dengar jika anda akan berangkat hari ini apakah itu benar?" tanyaku sedikit mendongak karena tubuh grand Duke sangat tinggi


"Benar yang mulia, anda tidak perlu khawatir..." grand Duke berlutut karena sadar telah membuatku mendongak


"Maaf yang mulia..."


"Takkk..." aku melepaskan kalung peninggalan ibuku (lebih tepatnya ibu dari putri Nyura)


"Putri!!!" kaget grand Duke, karena ia tahu apa fungsi dari kalung yang selalu melingkar di leherku


"Paman harus berjanji padaku, untuk mengembalikan kalung ini tanpa cacat setelah menyelesaikan perang!" kataku mengikatkan kalungku pada pergelangan tangannya


Grand Duke tertunduk begitu pula denganku yang merasa malu karena menangis tanpa ada angin dan ada hujan. Aku benar-benar malu, hingga memutuskan pergi berlari meninggalkan tempat latihan yang segera diiringi oleh dayang-dayangku.

__ADS_1


"Aku malu..." Rengekku memeluk salah satu dayang


"Tidak apa-apa putri, menangis adalah hal yang wajar melepaskan orang yang kita sayang..."


"Aku tidak menangis..." bantahku entah kenapa terasa seperti anak kecil


"Ya ya ya... anda tidak menangis tapi..."


"Qirca hentikan ejekan mu!!!" teriakku kesal padanya


"Sekarang tuan putri kita menjadi manja, semua ini karena Kamu selalu memanjakannya..." kata Qirca pada Deti


"Biarlah... putri kan masih kecil, anak kecil jika dimanja itu masih wajar..."


"Deti! aku sudah besar, sebentar lagi aku akan menyusul tinggi kalian..." kesalku berlalu pergi


Mereka semua malah menertawakan perkataan ku barusan, walaupun tubuh ini kecil, tapi sebenarnya jiwa di dalam tubuh ini lebih tua dari mereka yang masih berusia belasan tahun. Tapi tadi saat di tempat latihan benar-benar memalukan, bagaimana bisa aku berteriak manja dan menangis seperti itu, rasanya pipiku memerah karena malu.


Tapi tak apalah, mereka semua kan masih menganggap ku sebagai anak kecil karena belum melakukan upacara kedewasaan. Tunggu sampai beberapa hari lagi saja aku akan menjadi dewasa menurut aturan di kekaisaran ini. Setelah aku dinyatakan dewasa nanti aku akan membuat mereka semakin kagum dengan sosok ku yang sebenarnya, tunggu saja sampai hari itu tiba.


****

__ADS_1


__ADS_2