
Sayup-sayup kudengar suara Via yang berbicara dengan seseorang mengenai kondisiku saat ini. Saat aku hendak menggerakkan tubuh, rasanya perutku seperti hendak robek hanya dengan gerakan kecil.
"Jangan banyak gerak dulu!" Kata Leon yang mendapati ku sedang meringis
Aku tersenyum kelu dengan kelopak mata yang masih berusaha di buka "Apakah aku akan mati?" Tanyaku bercanda
"Jika pun kau mati, aku tidak akan membiarkan jiwamu bisa bebas dari tubuh ini!" Katanya datar
"Hehehe..." Aku terkekeh lalu kembali meringis karena terjadi sedikit goncangan di perut
"Putri!" Panggil Via yang segera menghampiriku
Sekali lagi aku tersenyum ke arah Via untuk membelah kekhawatiran nya "Aku masih hidup!" Kataku mengangguk lemah
"Anda memang masih hidup, tapi kondisi anda sangat memprihatikan!" Omelnya
"Kau terlalu berisik!" Kataku di tengah omelannya
"Maafkan saya putri!" Katanya segera diam
"Bagaimana keadaan si tukang meresahkan itu?"
__ADS_1
"Kondisi anda begini karena ulah putra mahkota, bagaimana bisa anda masih mengkhawatirkan nya!" Omel Via bergumam
"Baik-baik saja untuk saat ini!" Jawab Leon
"Hemm... Lain kali berilah dia sedikit pelajaran lagi, tapi ingat jangan sampai membunuhnya!"
Leon terkekeh kecil mendengar permintaan ku yang terdengar murah hati, tapi nyatanya ada tujuan kejam lain di balik kalimat murah hati itu. Tentu saja Via yang mendengar kalimat murah hatiku segera mengeluarkan kalimat kutukan pada putra mahkota. Dia dayang yang terbilang berani untuk ukuran seorang pesuruh istana yang melayani seorang putri yang tiba-tiba naik daun.
"Istirahat lah lagi, aku ingin mengurus sesuatu dulu!" Kata Leon menghilang setelah mengusap kepalaku
"Tumben!" Gumamku memegang kepala bekas usapannya
"Pu, putri...." Wajah Via terlihat pucat, mungkin kaget melihat Leon yang tiba-tiba menghilang
"Ta,tapi kan situasi nya berbeda..."
"Sudahlah! Daripada kau kaget berlebihan begitu lebih baik ambilkan aku makanan sana..." Usirku padanya yang mondar-mandir tidak jelas
"Tapi putri! Bagaimana jika orang itu berba..."
"Sudahlah... Cepat ambilkan aku makan sa... Aaakkk..." Rintihku saat lukaku terasa nyeri
__ADS_1
"Baik putri!" Sahutnya lirih berlalu keluar kamar
Aku hanya bisa menghela nafas panjang merelaksasi kan tubuh yang terasa nyeri menusuk ini dengan harapan segera pulih. Berangsur-angsur tubuhku terasa lebih enakan dari beberapa waktu lalu. Kini rasanya ada sesuatu yang hangat sedang mengitari luka di perutku yang mulai terasa baikan.
"Krieettt..." Hingga tiba-tiba pintu kamar terbuka
Mataku dan mata pangeran Lean bertemu "Kudengar kau hampir mati!" Katanya datar terus melangkah menuju tempatku berbaring
"Yah, memang hampir! Tapi sebatas hampir saja!" Kataku tanpa bangun dari tiduran
Pangeran Lean duduk di sofa dengan santainya menyeruput teh yang sudah dingin mungkin "Bagaimana rasanya?"
"Biasa saja!"
"Heh, biasa saja katamu! Kau memang benar-benar manusia yang tidak takut mati ya!" Katanya terkekeh
"Apa itu mati?" Kataku jutek
Pangeran Lean hanya terdiam dengan wajah yang sulit di jelaskan "Pikirlah sendiri!" Katanya mengibaskan tangan di depan wajah
"Ada apa kakak datang kemari?" Tanyaku sekedar basa-basi
__ADS_1
Dia tidak menyahut dan malah melamun, mungkin tanda-tanda kehancuran dirinya sendiri sudah mulai muncul. Pasti yang di pikirannya saat ini adalah lady Ayla. Rasanya aku agak gemas kalau menyangkut masalah percintaan.