
"Semoga rasanya tidak terlalu mengecewakan di lidah bapak!" kataku saat makanan yang kami pesan telah tersaji di meja
"Udah lama ya kita nggak makan bareng di sini!" gumam lirih Azka yang masih terdengar
"Eh, senior masih ingat ternyata"
"Tentu saja ingat, bagaiman bisa lupa... Saat itu kan kamu menghabiskan banyak makanan dalam waktu singkat, haha"
"Ahaha... Ternyata senior masih ingat dengan detail ya... Hihi, jadi malu!"
""Bahkan kamu masih tetap sama saja meminta gelas kosong" kata senior tersenyum lebar melirik gelas kosong di samping cangkir kopi yang ku pesan
"Ahaha... Ternyata udah jadi kebiasaan" kataku memegang gelas kosong itu "Oh iya, senior juga masih sama seperti waktu itu memesan mie goreng pakai telor ceplok setengah matang kan..."
"Oh kamu juga ingat ya!" kami tertawa mengingat waktu pertama kali kami mulai akrab dan hampir melupakan pak bos yang hanya terdiam memandangi sate lontong pesanan nya
"Sate apa ini? Kok kecil!"
"Oh itu sate ayam pak... Porsinya di buat kecil karena harga daging ayam saat ini naik!"
"Kenapa bukan harganya saja yang di naikkan?"
"itu karena kebanyakan pelanggan lebih mementingkan jumlah tusuk sate dengan harga murah, dari pada tusuk sate dengan daging besar yang sedikit dengan harga mahal..." jawabku yang merasa memang lebih enak di lihat kalo tusuk satenya banyak walaupun dengan daging kecil-kecil
"Walaupun porsinya kecil, tapi rasanya nggak kalah enak dengan restoran sate pak!" tambah Azka
"Setuju!"
__ADS_1
Malam itu untuk pertama kalinya, kami bertiga berbicara dengan santai bukan sebagai atasan dan bawahan tapi sebagai teman bicara. Sedikit-sedikit pak Aldi juga mulai tertawa bersama kami saat keluar bahasan yang lucu di dalam percakapan. Benar-benar suasana yang hangat di antara sesama rekan kerja.
Setelah perutku kenyang dan membayar semua biaya makan kami bertiga, Azka segera mengantarkan ku pulang yang masih di ikuti oleh pak bos. Di dalam mobil suasana juga tidak terlalu tegang dan hening karena sesekali kami bertiga saling bertukar candaan. Semua lelah sehabis bekerja seperti ikut pergi bersamaan dengan tawa yang terus berhamburan.
Tapi kesenangan itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba mobil di cegat oleh anak-anak geng motor yang belagunya minta ampun. Azka berusaha mengabaikan anak-anak geng motor dengan terus menjalankan mobil. Tapi salah satu anak geng motor yang duduk di boncengan motor kawannya memukul bemper depan mobil dengan balok kayu.
"Braakkk..." Aku hampir lompat dari tempat duduk saat kaca jendela mobil dari sisi ku di pukul dengan balok kayu oleh anak lainnya
Azka yang awalnya terlihat tenang, kini mulai terlihat emosi setelah mendapati cengkraman tangan ku yang tidak sengaja memegang lengannya karena kaget. Mobil di hentikan oleh Azka yang sudah naik pitam di buat anak-anak geng motor yang benar-benar cari gara-gara di jalan tol yang kebetulan sepi ini. Azka dan pak Aldi keluar dari mobil setelah memintaku tetap diam di dalam mobil. Mereka berdua sempat ku larang keluar dari mobil, karena mungkin saja para anak geng motor ini membawa senjata tajam.
Aku yang masih bisa berpikir sedikit rasional segera menghubungi polisi untuk datang ke tempat kami berada sekarang. Tapi saat di tengah-tengah aku menceritakan kronologis kejadian penghadangan geng motor ini, Azka dan pak Aldi sudah mulai adu jotos dengan anak geng motor yang berjumlah puluhan orang.
"Bro! Di dalam ada cewek!" teriak satu anak yang ternyata melihat-lihat ke dalam mobil
"Huaaa... huhuhuaaa...." Teriak mereka kegirangan
Pak Aldi dan Azka yang teralihkan perhatiannya terkena pukulan masing-masing satu kali, sebelum akhirnya di hajar oleh Azka. Setelah berhasil menumbangkan anak-anak yang mengeroyoknya, Azka berlari ke arah mobil dimana para anak-anak geng motor berusaha membuka paksa pintu mobil untuk menarik ku keluar.
Beling kaca mengenai wajah dan tanganku yang berusaha melindungi kepala. Setelah mereka berhasil membuka pintu mobil dari dalam, aku di Jambak oleh seorang anak dan di seret keluar mobil. Mereka tertawa bersama-sama setelah berhasil membawaku kepada ketua geng mereka. Azka dan pak Aldi yang kehilangan fokus menjadi sasaran empuk pemukul kayu yang para anak-anak itu pegang.
"Lepasin, lepasin!" kata si ketua geng meminta orang yang menjambak rambutku melepaskan jambakan
"Cantik banget broo.... Hahay!" teriak yang lain
"Bagi-bagi ya bos!" gumam satu anak yang terlihat mabuk
"Bos!" kata anak yang menghirup lem dari kantong plastik membawa tasku yang memang berisi beberapa uang tunai
__ADS_1
Aku masih bersikap tenang mengawasi situasi sambil menunggu polisi datang "Apaan Lo pegang-pegang!" teriakku marah saat salah satu anak membelai bokongku
"Widih galak juga ternyata ya... jadi Atut dech..." ledeknya
"Huss... Udah-udah nanti dia nunjukin taringnya lagi!" kata si ketua geng menatap lekat tubuhku dari atas ke bawah
"Brengsek Lo mau main dulu sama mba kayaknya deh!" Marahku langsung melayangkan tinju ke wajahnya
Semua anak sempat terhenyak saat melihat si ketua geng terjungkal jatuh ke belakang setelah mendapatkan tinju dariku.
"Dasar tante-tante sialan!" marahnya memerintahkan para cecenguk lainnya memegangi ku
Untungnya sebelum mereka menyentuhku suara sirine polisi terdengar tidak jauh. Dan benar saja, sebuah mobil polisi melesat dengan cepat ke arah kami. para anak geng motor kalang-kabut hendak melarikan diri, sebelum si ketua geng ikut kabur sekali lagi aku menendang tulang kering kakinya dengan keras, hingga membuatnya mengaduh kesakitan dan terduduk ke aspal.
"Sini biar Tante pukul dulu..." geramku sekali lagi melayangkan tinju dari bawah dagunya hingga membuatnya tumbang
Azka dan pak Aldi segera berlari menghampiri ku dan memastikan keadaan ku baik-baik saja. Kulihat penampilan mereka sangat kacau, pak Aldi mendapatkan satu lebam di wajahnya dan kaki yang terpincang-pincang saat berjalan. Sedangkan Azka mendapatkan lebih banyak lebam di wajahnya dan sejak tadi dia memegangi tangannya.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya mereka berdua bersamaan
"Saya baik-baik saja, tapi bapak dan senior seperti nya terluka..."
"Saya baik-baik saja..." kata mereka kembali bersamaan
"Apa mereka yang membuat wajah kamu terluka gini?" tanya Azka menatap geram anak geng motor yang tidak sempat kabur setelah melihat luka gores di wajahku
"Ta,tangan senior..." kataku perlahan hendak menyentuh tangan Azka yang kaku
__ADS_1
"Aaww... Aku baik-baik saja!" katanya dengan tersenyum baik-baik saja
Aku bingung harus bertindak bagaimana sebelum ambulans datang ke tempat kejadian. Tanpa pikir panjang aku segera menuntun pak Aldi dan Azka menuju mobil ambulans untuk mendapatkan pertolongan pertama. Karena kejadian ini melibatkan seorang CEO maka jangan heran, jika kejadian ini menjadi semakin di besar-besarkan, bahkan media tiba-tiba muncul dan meliput kejadian yang telah selesai.