KEPONAKAN GRAND DUKE!!

KEPONAKAN GRAND DUKE!!
Masalah Di Teras


__ADS_3

Setelah selesai dengan segala urusan di ruang makan keluarga kekaisaran yang di hadiri oleh beberapa orang berkedudukan tinggi itu saja. Aku dan semuanya kembali ke kesibukan masing-masing, di luar langit masih mendung walaupun hanya tersisa riak-riak kecil hujan yang tidak seberapa lebat lagi.


Mungkin karena terhanyut oleh suasana syahdu riak hujan, aku melangkah dengan tatapan melamun menuju pelataran istana. Hingga tanpa kusadari ternyata putra mahkota sengaja berlari ke arahku dengan senyum licik. Saat tangannya bersiap mendorong tubuhku reaksi Leon lebih cepat dari apa yang ingin dia lakukan.


"Bruggkkk..." putra mahkota nyungsep mencium lantai yang basah oleh hujan dengan sangat memalukan


Aku menoleh ke belakang dan melihat Leon yang tersenyum tanpa rasa bersalah "Hehh..." Aku kembali menutup mulutku saat melihat pangeran Lean yang sedang menatapku dengan kaget serta tangan terulur seperti baru saja mendorong seseorang.


Disitulah aku di buat bingung, sebenarnya siapa yang sudah membantuku "Kau baik-baik saja?" tanya Lean menurunkan kembali tangannya


"Ya,yah... begitulah! Heheheh..." tawaku canggung


"Sialan!" umpat putra mahkota setelah kembali bangkit berdiri


Aku dan Lean menatap ke arah Putra mahkota dengan tatapan tidak tahu apa-apa "Apakah anda sudah menemukan katak yang anda kejar?" ejek ku


"Ka,kau..." tudingnya ke wajahku

__ADS_1


"Dasar kekanak-kanakan!" cibirku dan segera beranjak pergi kembali ke kamar


"Mau kemana kau!" cegat putra mahkota mencekal tanganku


Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan tidak suka "Lepas!" kasarku menepis tangannya


"Kau! Berani sekali kau bersikap angkuh di depanku..." Marahnya menarik tanganku menuju pelataran dan mendorong tubuhku hingga jatuh ke tanah becek bekas hujan


Semua orang yang ada di tempat itu hanya diam tanpa ada reaksi, saat menyaksikan kekerasan yang di lakukan putra mahkota. Aku tidak punya rasa sabar lagi, segera saja aku bangkit dengan tubuh ku yang telah kotor. Dan dalam sekali ayunan tangan aku mendaratkan tinju penuh kekesalan ke wajahnya yang tersenyum puas melihat ku di permalukan.


Karena lantai yang di pijak oleh putra mahkota licin di tambah dengan tinjuku yang cukup keras, membuatnya jatuh terduduk ke lantai. Dan tentu saja membuat semua orang bereaksi kaget walaupun ada beberapa yang menahan tawa, salah satunya pangeran Lean. Seandainya saja, kaisar mengijinkan kami saling bunuh, orang yang pertama kali ingin kupenggal adalah orang yang sekarang menatapku penuh amarah ini.


"Putra mahkota!!" teriaknya kaget melihat anaknya yang terduduk di lantai dengan mulut yang berdarah


"Ibunda!" Selir segera memeluknya berniat melindungi yang di sambut manja olehnya


Aku ingin muntah melihat ibu dan anak ini "Kau!! Berani sekali mahkluk rendahan seperti mu melukai putra mahkota..."

__ADS_1


Tiba-tiba Lean berdiri menangkis tamparan selir kesayangan dengan tangannya "Apakah anda juga ingin dipermalukan!" kata Lean walaupun terdengar seperti gertakan remaja yang lemah, tapi tetap saja keren, sebab tujuannya melindungi ku


"Kau! kau! Jangan kau pikir kau akan lolos hanya karena ibu mu seorang permaisuri! Dan kau, mahkluk sialan... Kita lihat saja nanti..." Katanya mengancam kami


"Bleee...Dasar nenek tua!" ejek ku merasa bangga karena di lindungi Lean


Bukan hanya selir yang menatapku tajam, tapi juga Lean yang terlihat kesal "Bisakah, kau diam saja seperti dulu!" katanya beranjak pergi setelah selir membawa Putra mahkota kembali ke dalam


"Lah kok??" Aku bingung sekarang harus bertindak bagaimana


"Apa kau hanya akan diam saja melihat sikap angkuhnya itu?" tanya Leon


"Siapa?" tanyaku balik siapa yang di maksud olehnya


"Tentu saja pangeran yang membelamu barusan! Siapa lagi coba!" kesalnya menyentil jidatku


"Aww... Sakit!" kesalku hendak menimpuknya balas, namun terhenti karena aku sadar jika hanya aku yang bisa melihat Leon saat ini

__ADS_1


Semua orang yang masih ada di tempat menatapku dengan tatapan menganggap ku sebagai orang aneh. Aku memang aneh, jadi tatapan mereka tidak terlalu mempengaruhi emosi ku yang bisa meledak kapan saja ini. Gaun sudah kotor dan basah, wajah juga sudah ikut terciprat tanah becek, jadi sekarang saatnya pergi mandi air hangat lagi.


__ADS_2