
Setelah mereka semua pergi, kini aku benar-benar telah sendirian di dalam sel tahanan. Cahaya obor yang remang-remang bergoyang-goyang tertiup angin yang entah datang dari mana. Semuanya terasa mencekam dan mengerikan di tambah dengan suara rintihan para tahanan lain. Hingga membuatku bergidik ketakutan hanya bisa memeluk kaki sendiri.
Aku tidak ingat dengan jelas kapan Leon pergi meninggalkanku sendirian di sel ini. Yang jelas tidak ada tanda-tanda keberadaannya sama sekali di tempat ini. Seharusnya diluar langit sudah gelap menjelang malam yang semakin larut. 6 jam yang lalu aku di jemput oleh prajurit kekaisaran dengan paksa di kediaman. Dengan tuduhan membunuh seorang tuan muda bangsawan, bahkan aku di jemput dengan surat penangkapan yang langsung di turunkan kaisar.
Sedikit tidak wajar memang mengenai penangkapan ku ini, karena tidak biasanya kaisar mencap sebuah surat penahanan dengan segel cap yang hanya boleh di gunakan kaisar pada berkas penting. Tapi ternyata cap itu bukan sekedar memberikan cap pada surat penangkapan, tapi berupa surat perintah agar aku tidak bisa menolak pernikahan politik dengan raja sekutu.
"Teng! teng! teng!" lonceng penanda waktu tengah malam berbunyi
"Akgghhh... Aku lapar! Seharusnya tadi aku meminta Leon menyiapkan cemilan untuk ku sebelum pergi!" sekarang aku hanya bisa bersungut-sungut tidak karuan
Malam ini sepertinya aku tidak akan memiliki tamu lagi, lebih baik sekarang aku tidur untuk mengisi energi. Kuharap besok aku bisa mendengar kabar baik dan benar-benar baik bagiku.
***
Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang terasa kaku akibat tidur di atas papan kayu yang tidak mulus. Di depan sel tahanan ku berdiri dua orang prajurit yang entah kapan datangnya. Aku tidak tahu ini sudah pagi atau belum karena cahaya di tempat ini sama saja mau itu siang ataupun malam. Tapi karena aku merasa sangat yakin jika aku sudah tidur cukup lama, maka ku yakini jika sekarang sudah siang.
"Hei, kalian!" panggilku kepada kedua prajurit yang segera menoleh
"Sekarang sudah pukul berapa?" tanyaku sekalian merenggangkan persendian tulangku
__ADS_1
Mereka saling bertatapan sebelum menjawab "Sekitar pukul 10 pagi putri!" jawabnya
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku sebagai reaksi antara percaya dan tidak "Kalian yakin?" aku menelan ludah
"Benar putri!" katanya segera kembali ke posisi awal
Di dunia ini total jam keseluruhan lebih banyak 5 jam dari kehidupan yang lalu. Jika malam di dunia ini ada 14 jam, maka siangnya ada 15 jam, sehingga dihitung keseluruhannya berjumlah 29 jam. Tengah malam aku baru bisa tidur, dan saat bangun tau-tau udah pukul 10 pagi, berarti waktu tidur ku memang lebih banyak dari orang normal. Terserah lah, karena masalah jam di dunia ini tidak terlalu penting bagiku.
Aku mengangkat wajah menatap ke dalam lorong yang ada di depanku, terdengar suara derap langkah kaki beberapa orang sedang mengarah kemari. Sedikit kupicingkan mata untuk melihat siapa yang ada di dalam lorong yang juga remang-remang di sana. Karena saat ini aku sedang berharap dengan kedatangan troli makanan.
"Ngapain lagi dia kesini, bukannya sudah kubilang jangan datang lagi!" aku merasa kesal saat yang muncul pertama kali adalah Lean
"Ngapain lagi datang kemari! Bukannya sudah kularang datang..."
"Aku datang untuk melepaskan mu!" dia memotong kalimatku yang belum selesai
"Kenapa? Pernikahannya dimajukan?" aku menatapnya malas
Dia terlihat kaget dengan pertanyaan ku "Bukan! Semalam datang surat dari Medan perang, katanya pasukan kita telah menguasai seluruh kemenangan..." Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri
__ADS_1
Aku menelengkan kepala "Apa mungkin Leon bertindak lebih cepat?" pikirku
"Apalagi yang kau pikirkan! Apakah kau sudah meras betah di tempat ini sehingga tidak ingin ikut keluar!" katanya terkekeh kecil
Aku menatapnya tajam "Kakiku kesemutan bego!" kesalku menarik jubahnya agar dia mendekat lagi ke arahku "Gendong aku keluar!"
Dia menatapku kaget "Kau yakin? memintaku untuk menggendong mu keluar?" katanya meremehkan ku
"Jika kau tidak ingin bangkrut lebih awal, maka menurutlah dengan sukarela!" ancamku
"Ba, bagaimana kau tahu jika suratnya telah berada di tanganku?" dia terlihat kaget
"Bego! Aku kan yang mengatur kapan surat itu harus di kirimkan padamu, kenapa aku tidak tahu!" aku menggetok kepalanya yang kelewat bodoh
Dia mengelus kepalanya yang kugetok "Ada benarnya juga..." katanya makin tambah bego
Aku menepuk jidat "Dasar bego! Cepat bawa aku keluar, aku sudah merasa sumpek di tempat ini!"
Mungkin inilah kenapa anak seorang permaisuri di kekaisaran ini tidak menjadi putra mahkota, ya itu karena dia sangat bego. Jika nanti Leon datang Sepertinya aku akan meminta Leon untuk memperbaiki otak anak ini, agar bisnis yang kuserahkan padanya tidak hancur dalan sekejap.
__ADS_1