
"Enak sekali jadi dirimu, seenaknya mengakui ku sebagai penjaga, apakah masih tidak puas mengklaim diriku sebagai asisten mu!" kesalnya saat kami di dalam kereta
"Segitu saja marah! dasar lebay!" cibirku padanya
"Terserah padamu! Blluummpp..." tiba-tiba Leon menghilang dari tempatnya
Aku menggeleng heran "Dasar aneh!"
Rasanya tidak ada lagi tempat yang ingin kukunjungi karena aku masih awam dengan kota seluas ini. Selama ini aku hanya tahu tempat menghamburkan uang saja, saat itu masih ada lady Ayla yang siap membelaku di depan orang banyak, jika aku berbuat salah. Aku rindu masa-masa saat kami bersama, bergandengan tangan menyusuri setiap pusat perbelanjaan karena jenuh, rindu saat dia mencurahkan isi hatinya selama hidup sebagi putri dari Duke Freious.
"Aku merindukannya!" gumamku menyandarkan kepala di sandaran tempat duduk
"Nona! sekarang kita akan pergi kemana?" tanya kusir setelah mengetuk jendela pembatas antara kusir dan penumpang
"Antarkan aku ke taman Durula!"
"Baik nona! hiyah..." kusir memacu sedikit kecepatan kereta
Taman Durula, adalah taman terbesar dan terindah di kekaisaran, letaknya berada tepat di samping danau Seiran, yang menjadi saksi cinta dan persahabatan manusia selama berpuluh-puluh tahun lamanya, tapi beberapa tahun belakangan semuanya menjadi kacau. Dulu taman Durula menjadi tempat terindah untuk melangsungkan pernikahan mau itu dari kalangan atas maupun bawah. Tapi semenjak terjadinya perselisihan antara kalangan atas dan kalangan bawah, taman Durula kini menjadi tempat yang hampir tidak bisa di kunjungi oleh rakyat dari kalangan bawah.
Jangan kan ingin mengadakan pesta pernikahan, menatap gerbang taman Durula saja sudah menjadi hal yang mahal bagi rakyat kalangan bawah saat ini. Banyak pihak bangsawan yang mengklaim jika taman Durula hanya khusus dan hanya bisa di kunjungi oleh para bangsawan saja. Sehingga menimbulkan perselisihan ketat antara pihak bangsawan dan rakyat jelata.
Kaisar tahu semua perselisihan ini, tapi kaisar memilih diam dan membiarkan hal itu berlarut-larut hingga menjadi masalah yang rumit. Tapi beberapa tahun terakhir, para rakyat jelata tidak memperdebatkan masalah wewenang taman Durula lagi, sebab ada taman baru yang lebih terbuka untuk para rakyat jelata, yang di bangun oleh seorang dermawan tanpa nama.
"Nona!" panggil kusir
"Apa kita sudah sampai?" aku tidak sadar jika kereta sudah berhenti di depan gerbang taman
"ceklekk!" kusir membukakan pintu kereta kuda
Tamannya masih sama seperti dulu, sama seperti dalam ingatkan ku yang terasa masih hangat. Entah gila atau apa, tanpa sadar aku hendak meraih sesuatu yang kubayangkan itu adalah sebagai lady Ayla. Tapi aku hanya menangkap angin kosong dan merasa konyol.
"Sepertinya aku tidak cukup tidur!" gumamku memijit-mijit kepala
Di taman ada beberapa lady dan pasangan bangsawan yang sedang berkencan atau hanya sekedar berbincang. Aku melangkah menuju memasuki gerbang taman yang masih terlihat kokoh dan menawan.
"Brukkk..." dari sisi kanan seorang bocah laki-laki Kumal sengaja menabrak ku
Dia bangkit berdiri setelah jatuh menabrak ku"Ma,maafkan saya lady!" katanya membungkuk meminta maaf
__ADS_1
"Dasar bocah! mencuri pun dengan cara seperti ini, bagaimana mau sukses!" gumamku
"Nona! anda baik-baik saja? hei, bocah kembalikan apa yang..."
"Tidak perlu! karena aku tidak pernah mengambil kembali sesuatu yang telah di rebut dariku!" cegahku kepada kusir yang ingin menggeledah bocah laki-laki itu
Kusir kembali mundur ke belakang "Baik nona!"
Bocah itu menatapku tajam "Kenapa masih belum pergi? apakah kau ingin ku panggilkan prajurit keamanan?" gertak ku padanya
Dia masih sempat memberikan tatapan tajam kepadaku sebelum berlari terbirit-birit membawa kantong uang "Dasar bocah!" tanpa sadar aku tersenyum sinis
Saat memasuki taman semua orang yang ada di dalam taman menatapku semakin sinis setelah kejadian di depan gerbang barusan. Bukan aku namanya jika tidak memasang wajah tidak tahu-menahu di depan orang lain. Aku memang merasa terganggu dengan tatapan mereka semua, tapi abaikan saja semuanya.
Langit sore yang dihiasi dengan nuansa warna merah jingga matahari seperti ini semakin membuat damai hatiku, saat menyusuri tepian danau yang cukup luas. Angin yang bertiup dari barat daya juga menambah kesan menenangkan sebuah taman yang sesungguhnya. Walaupun tatapan mereka masih membuatku tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang menusuk-nusuk punggungku.
"Srrakk, sraakkk..." sebuah pohon yang tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang terlihat bergoyang
Aku sudah menebak jika akan ada yang turun dari pohon itu "Setan bacot!!" tapi kenapa aku masih terkejut
Dia seorang pemuda yang cukup tampan dan sedang menatap bingung ke arahku "Apakah anda monyet?" cibirku padanya yang membuatku mengumpat dan terkejut di waktu bersamaan
"Maaf jika saya membuat lady terkejut!" dia membungkuk meminta maaf dengan elegan
"Akhmm... bukankah perbuatan lady sekarang sangat tidak sopan! menilai seseorang yang baru di temui dengan tatapan seperti itu!" katanya membuatku tersadar
"!!!" Aku mengabaikan nya dan melanjutkan kakiku untuk menelusuri tepi danau
Dia tidak mengejar ku dan juga terlihat tidak peduli denganku, sehingga aku tidak perlu bersikap ramah pada orang yang baru pertama kali kulihat berada di tempat ini. Aku menghentikan langkahku setelah jauh dari keramaian dan diam menatap permukaan danau uang memantulkan cahaya menakjubkan langit sore ini.
Aku memejamkan mata "Hahhh..." tanpa sadar aku membuang napas berat lagi
"Sialan! aku tidak bisa menghilangkan wajahnya dari benakku!" umpatku kesal saat wajah Zed terpantul di permukaan danau
Aku merasakan kehadiran seseorang dari belakang tapi malas berbalik "Siapa di sana? Apa tujuanmu kemari?" tanyaku tanpa menoleh ke belakangan
"Ini saya! orang yang telah membuat anda terkejut barusan!" katanya melangkah dan berhenti tepat di sisiku
Aku meliriknya sekilas dan kembali membuang muka "!!!" entah kenapa aku merasa kesal
__ADS_1
"Apa yang sedang lady pikirkan? sepertinya sesuatu yang rumit..."
"Tebak saja sendiri! karena aku tidak akan pernah mengatakannya." kataku berpaling menatapnya
"Hmmm... apakah karena asmara lady tidak berjalan lancar?" tebaknya, sedikit benar
"Selamat anda benar!" kataku cuek lagi
"Sepertinya lady mencintai seseorang yang tidak harus anda cintai! Apakah tebakan saya benar lagi?" katanya bangga
"Heh... Siapa di kekaisaran ini yang tidak tahu masalah percintaan ku! Bahkan cacing di tanah pun tahu masalah percintaan ku, katakan saja apa tujuanmu sebenarnya mengajakku berbincang!"
"Saya menyukai lady! maukah lady..."
"Tidak akan!" potong ku cepat
"Kenapa? bukankah saya laki-laki yang bisa anda jadikan pelarian, untuk melepas lelah sejenak..." aku menatapnya "Saya memiliki kekuasaan yang tidak kalah dari bangsawan lainnya, wajah saya tampan, kepribadian saya juga lumayan, tidak ada ruginya anda berpacaran dengan saya!" katanya percaya diri
Saat itulah tiba-tiba sosok Leon muncul tiba-tiba "Apakah anda yakin?" tanyaku padanya seakan-akan meminta kepastian
"Tentu saja!"
Leon terlihat hendak marah tapi masih terkendali "Tetapi saya tidak yakin bisa membuat anda bersama dengannya!" kata Leon tegas
Dia berbalik menatap Leon yang terlihat marah saat ini "Siapa anda! Berani sekali ikut campur..."
Aku mengisyaratkan Leon agar membunuhnya dengan gerakan tangan menyayat leher "Dengan senang hati!" sebutnya dengan senyum senang
Hanya perlu sekali gerakan leher laki-laki lancang itu terpisah dari badannya "Akkkkkhhh..." teriak seorang lady yang berada tidak jauh dari kami
Orang-orang yang ada di taman berdatangan ke arah suara teriakan dan menyaksikan seorang laki-laki yang terbaring di rumput dengan darah mengucur mengalir masuk ke danau, melalui lehernya yang putus dengan kepala. Mereka terlihat syok dengan apa yang mereka lihat sekarang dan tentu saja semua lady berteriak lebay melihat tubuh malang ini.
"Ba, bagaimana lady bisa tersenyum setelah membunuh orang?" tanya seorang lady dengan tubuh gemetaran
"Toh bukan aku juga yang membunuhnya!" kataku mengangkat bahu dan menatap Leon
"Apakah sekarang kau ingin aku yang bertanggung jawab?" katanya terkekeh geli
"Bagaimana itu bukan ulah lady... karena hanya anda yang berada dekat pemuda itu, serta gaun anda yang terciprat darah adalah buktinya..." teriak seorang pemuda lain
__ADS_1
Aku medelik ke arah Leon yang ternyata tidak berwujud di mata mereka "Sialan!!" aku menepuk jidat melihat senyuman Leon yang seakan-akan sedang mengejekku
***