
Setelah merias diri, kini saatnya aku mengagumi diriku sendiri yang terlihat begitu cantik dan menawan di cermin. Rasanya jadi tidak tega membiarkan tubuh ini menikah dengan raja sekutu, yang entah kenapa malah sibuk mencari istri di tanah kekaisaran ini. Kan tidak mungkin jika wanita cantik di kerajaan besar seperti kerajaan sekutu habis semua menjadi selir raja.
Tiba-tiba air mata luluh membasahi pipiku tanpa kusadari, aku hanya menguap sebentar tapi kenapa jadi meneteskan air mata seperti ini. Aku segera mengusap air mata yang membasahi pipi, tapi air matanya tidak juga berhenti. Sekarang malah hatiku rasanya sesak dan perih tanpa sebab, apa mungkin ini reaksi dari tubuh putri Nyura yang asli.
Tiba-tiba sebuah tangan muncul di depanku menghadang jatuhnya air mataku "!!!" tatapan dingin dan tajam, kini dia kembali datang
Aku memukul bahunya kencang "Kenapa baru datang! Hikss!" kesalku segera menyapu air mata
"Maaf!" lirihnya pelan dan menepuk-nepuk pundak ku pelan
"Hikss, hikss... Kenapa pula aku menangis?" kesalku membanting apa yang ada dimeja karena kesal dengan tangisan ini
"Itu karena kau terlalu bahagia melihatku lagi!" Leon menghiburku dengan kalimatnya yang tidak lucu sama sekali
Aku menatap matanya tajam "Apa kau gila! Hikss!"
Dia hanya tersenyum mengerikan menanggapi kalimatku "Berhentilah menangis..." kalimatnya mengawang saat tiba-tiba pintu di dobrak oleh Lean
Mata Lean menatap mataku dengan penuh tanya dan segera menghampiriku "Ada apa?" tanya Lean memungut barang yang kuhempaskan barusan dan meletakkan kembali ke atas meja rias
"Bukan apa-apa!" Aku kembali memasang wajah datar setelah menyadari jika barusan aku menghayalkan Leon datang menghibur
"Kau yakin?" tanyanya memastikan
Aku hanya menatapnya sebagai pernyataan bahwa tidak ada apa-apa dan lanjut memperbaiki riasan yang sedikit luntur akibat air mata. Untungnya aku memiliki keahlian dalam menyembunyikan ekspresi sebenarnya dalam sekejap mata. Walaupun Lean curiga, tapi kecurigaan nya tidak terbukti dan dia pun kembali terlihat abai.
__ADS_1
Aku merindukan Leon, Aku merindukan sifat jahilnya yang kejam saat ingin menghiburku, menjahili ku, dan menenangkan ku. Rasanya aku kehilangan sosok kakak selama beberapa hari ini, aku rindu Leon.
Aku menatap Lean yang masih sibuk memungut barang yang jetuh berserakan dari cermin "Apakah aku cantik?" tanyaku membuatnya mendongak menatapku
Dia bangkit berdiri dan mengacak-acak rambutku "Tidak hanya cantik! karena kau adikku, kau juga sangat menawan sepertiku!" katanya membanggakan diri
"Hufft..." Aku hampir menyemburkan tawa saat wajahnya yang angkuh itu terlihat bersinar "Berhentilah narsis!"
"Benar! Begini lebih cantik lagi..." katanya memujiku yang tersenyum lepas di depannya untuk pertama kali
"Dasar mata keranjang!" ejekku segera mengubah ekspresi wajah menjadi sinis
"Begini juga benar! Mulai sekarang, aku melarangmu tersenyum pada orang-orang diluar sana! Lebih baik kau menunjukkan wajah jahatmu saja saat bertemu dengan utusan dari orang itu!" Lean terlihat kesal saat mengatakan orang itu
"Maksudmu, utusan dari calon suamiku?"
"Tambang permata? maksudnya dia menikah denganku karena ingin mendapatkan tambang permata?"
Dia menatapku "Kau bukan hanya tambang permata, tapi juga bank yang menyimpan segala uang dan kekuasaan." tegasnya yang ternyata mengumpamakan diriku dengan hal-hal mahal dan berharga
"Sepertinya otakmu menjadi geser, hanya karena mendapatkan sedikit belas kasihan dariku..." kataku bangkit berdiri saat pintu di ketuk seorang pelayan
Pelayan yang dikirim oleh kaisar, tidak bukan hanya pelayan tapi ada beberapa kaki tangan kaisar yang ikut menjemput ku. Sepertinya ada hal besar yang tidak kami ketahui di balik pernikahan politik ini. Kuharap hal besar itu tidak akan membuatku terlalu repot di masa depan nantinya.
Aku melirik kearah Lean yang berdiri di sampingku dengan wajah datarnya yang menawan itu. Tapi kenapa aku merasa jika sekarang dia menawan? Bukankah awalnya aku merasa dia biasa-biasa saja. Entahlah, yang jelas kini aku merasa bersyukur karena waktu Lean datang padaku meminta bantuan aku tidak mengabaikannya. Sekarang aku memiliki satu pengawal keren lagi, yang sekarang menggantikan posisi Leon yang sedang kosong.
Sesampainya di tempat kaisar kami semua memberi salah dengan cara yang anggun, tapi tidak dengan Lean yang memberi salam ala kadarnya saja pada kaisar. Terlihat tatapan marah kaisar mengarah pada Lean yang malah acuh dengan tatapan itu. Di samping tempat duduk kaisar berdiri seorang laki-laki tua yang elegan dengan beberapa pengawal dan pelayan wanita mendampingi di belakang. Sepertinya dia adalah utusan dari raja itu bukan.
__ADS_1
"Putri! Mendekat lah!" pinta kaisar mengulurkan tangannya
Aku segera melangkah maju dan menyambut uluran tangan kaisar "Dasar tua Bangka picik!" umpatku dalam hati
"Berilah salam kepada para utusan..." kata kaisar mengajakku memberi salam pada para utusan
"Saya memberi salam kepada para utusan!!" kataku memberi salam dengan berusaha seanggun mungkin
Mereka hanya membungkuk tanpa membalas salamku "Bisakah kami mengajak putri sekarang?" kata utusan itu tiba-tiba
Aku kaget tapi berusaha terlihat netral "Tidak bisa! Kalian tidak bisa membawa putri kekaisaran ini sebelum melakukan beberapa proses terlebih dahulu..." Lean segera terdiam saat kaisar menatapnya tajam
"Aku serahkan salah satu putriku pada kalian, kuharap kalian menjaganya dengan baik!" kata kaisar memberikanku pada para utusan
Aku pun tidak bisa menahan ekspresi kaget menatap kaisar yang dengan mudahnya menyerahkan ku pada para utusan "Baginda!" Lean masih berusaha memberontak
Tapi dalam sekali kibasan tangan kaisar, Lean terlempar membentur dinding dengan kekuatan angin milik kaisar. Lean yang masih hendak menghalangi jalannya transaksi segera di bungkam kaisar, hingga tak berdaya. Permaisuri yang melihat putranya terkulai lemas di tengah-tengah pengawasan pengawal, terlihat sangat khawatir namun tidak melakukan apa-apa.
Kilatan sedih dan marah terpancar jelas di dalam bola mata permaisuri yang melihat anak dan suaminya berselisih pendapat seperti ini.
"Permaisuri!" kata kaisar tajam membuat permaisuri kembali melangkah mundur ke belakang kaisar
"Mari ikut dengan kami putri!" kata mereka memintaku masuk ke dalam lingkaran sihir yang di fungsikan sebagai sihir teleportasi
Sebelum ikut melangkah masuk ke dalam lingkaran sihir aku menoleh ke arah Lean "Grand Duke!" aku menggerakkan mulutku saat mata kami bertemu dan dia pun mengangguk
Di detik-detik terakhir aku menghilang di seret ke dalam portal sihir yang terasa memusingkan ini. Aku menatap bola mata berbinar Lean yang mirip dengan bola mata laki-laki di pemakaman lady Ayla waktu itu. Tatapan yang menggambarkan ketidakbecusan dan rasa bersalah akan sesuatu, seperti akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga, kini aku bisa menebak siapa laki-laki yang selama berhari-hari bersimpuh di pemakaman lady Ayla.
__ADS_1
Laki-laki menyedihkan itu adalah Lean, seorang pangeran yang tidak pernah diceritakan jika terpikat dengan sosok mengagumkan lady Ayla. Tentunya mengagumkan bagiku yang mencintai kekejaman dan tingkah lakunya yang benar-benar menggambarkan seorang antagonis yang bermartabat.